Saya, Ibukota dan Kisah Hijrah

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, turut memotivasiku untuk berhijrah ke Jakarta.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, turut memotivasiku untuk berhijrah ke Jakarta.

25 Maret 2015, pada tanggal ini saya memantapkan hati untuk berhijrah kembali. Kali ini tujuan hijrahnya adalah Ibukota. Berangkat dari Bandara Jalaludin Gorontalo sehabis sholat Subuh, dengan pesawat Lion Air saya terbang melintasi beberapa gugusan pulau menuju pusat pemerintahan Indonesia. Pagi sekitar pukul 8 WITA, saya transit dulu di Bandara Sultan Hasanudin Makasar, kemudian melanjutkan perjalanan kembali hingga tiba di Bandara Sukarno-Hatta Jakarta sekitar pukul 10 WIB.

Jakarta, Ibukota yang konon kejamnya melebihi Ibu Tiri. Kalau Ibu Tiri kejamnya hanya gara-gara cintanya untuk Ayah saja, kalau kejamnya Ibukota lebih gila lagi karena hanya berpihak pada si kaya saja. Bagi saya yang hidupnya pas-pasan anak kampung pula, sudah pasti akan menghadapi rintangan berat dan kesusahan beruntun di daerah baru ini. Meski begitu, insha Allah tidak setitikpun niat untuk mundur dari keyakinan hijrahku.

Bermodal ijazah sarjana Pendidikan Matematika dari Universitas Negeri Gorontalo ditambah beberapa keahlian cetek,saya membulatkan tekad dan nawaitu yang kuat untuk belajar kehidupan di Jakarta. Dari awal saya sudah menyadari bahwa kehidupan di Ibukota itu keras. Teman-teman justru banyak menyarankan agar saya merantau saja di kota lain, seperti Jogja dan Malang. Katanya biaya hidup di kedua kota itu cukup murah dan kalau ingin melanjutkan kuliah akan lebih mudah bisa juga sambil kerja.

Ada banyak pertimbangan mengapa Jakarta menjadi tujuan hijrah saya. Dari sekian banyak alasan, menuntut ilmu dan belajar kearifan dari kehidupan yang keras menjadi alasan utama. Seperti peribahasa, tidak ada pelaut ulung yang lahir dari laut yang tenang. Begitu juga saya berkayakinan bahwa Tuhan melahirkan orang hebat justru dari kesusahan bukannya kemudahan.

Bagi saya Jakarta merupakan tempat untuk memaksimalkan potensi diri. Semua hal di Jakarta ada, baik dan buruk ada. Saya pun hanya bisa berdoa dan berusaha semoga bisa diberi kemudahan untuk melalui semua itu, sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai.

Sedikit gambaran, mengapa kepindahan untuk belajar kehidupan di Jakarta saya sebut hijrah. Karena pada dasarnya, kita tidak pernah lepas dari proses hijrah itu sendiri. Kalaupun kita tidak berpindah tempat, sejatinya dalam keadaan diampun kita justru berhijrah dengan sendiri, berhijrah dari perpindahan waktu ke waktu yang lain, jam hingga detik ke detik yang lain. Itulah proses hijrah.

Meski begitu, hijrah yang terbaik adalah proses perpindahan menuju ke hal yang lebih baik lagi. Bukankah Rasulullah dalam sebuah hadits pernah berkata, “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Prof. Dr. Quraish Shihab berpandangan bahwa Alqur’an telah berjanji untuk memberikan kelapangan bagi siapapun yang berhijrah. namun, kelapangan yang akan diberikan Allah hanya berlaku bagi orang yang secara sungguh-sungguh melaksanakan Hijrah.

Menurut pakar Tafsir Indonesia pengarang tafsir Al-Mishbah ini, point yang cukup penting dalam berhijrah adalah usaha maksimal yang dilakukan. Ketika sudah bertekad untuk berhijrah, maka sepantasnyalah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menjalankan hijrah itu. Setelah berusaha dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan membantu memudahkan hijrah itu.

Berdasarkan hadits dan beberapa petuah tersebut, dengan penuh keteguhan pilihan saya jatuh ke Ibukota sebagai tujuan hijrah. Hal ini tidak lain karena adanya panggilan jiwa bahwa di daerah yang baru tersebut insha Allah saya akan mendapatkan kebaikan, baik dari segi pengetahuan dan pengalaman kehidupan.

Imam Syafi’i pernah memberi petuah untuk merantau sebagai berikut, “berdiam diri, stagnan, dan menetap di tempat mukim, sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab, maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan). Merantaulah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan. Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya, karena lezatnya kehidupan baru terasa setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha.”

Diawal tulisan, pengalaman ini saya sebut berhijrah kembali, karena sebelumnya saya telah berhijrah berkali-kali. Setamat bangku Sekolah Dasar (SD) Negeri Abak, Kecamatan Lolayan, Kab. Bolaang Mongondow, pada tahun 2003 saya berhijrah untuk melanjutkan studi di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Kotamobagu, disamping itu saya juga belajar agama dan tinggal di asrama sebagai santri di Pondok Pesantren Anna Elfira, Desa Pontodon. Setamat itu, pada tahun 2006 saya kemudian berhijrah kembali, untuk melanjutkan studi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kotamobagu, kali ini hidup mandiri tinggal di kos-kosan di Kelurahan Mongondow, Kotamobagu. Selesai menempuh pendidikan tingkat menengah atas pada tahun 2009, saya kemudian berhijrah kembali di Provinsi Gorontalo dan melanjutkan studi di Universitas Negeri Gorontalo. Alhamdulillah, atas karunia Allah gelar sarjana Pendidikan Matematika berhasil saya raih pada bulan Februari 2014.

Semasa kuliah ini, sedikitnya saya pernah merasakan betapa susahnya mencari penghidupan. Di tengah keterbatasan orang tua, saya dituntut untuk bisa mandiri mencari biaya untuk membantu orang tua. Saat semester 3, saya sudah bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan kebutuhan kampus lainnya. Kegiatan ini saya lakukan terus hingga selesai kuliah. Akibat sibuk kerja inilah sehingga yang seharusnya saya diwisuda bulan September 2013, jadi molor beberapa bulan hingga Februari 2014 selesai skripsi dan baru diwisudah 5 Juni 2014.

Meski sedikit terlambat, tidak lantas membuat saya berkecil hati. Karena bagi saya ada benarnya adagium yang mengatakan “kalau tidak bisa wisuda tepat waktu dan di waktu yang tepat, maka wisudalah minimal di waktu yang tepat”. Insha Allah saya termasuk orang yang di wisuda pada waktu yang tepat, sehingga siap untuk menghadapi kehidupan nyata, yang awalnya dianggap utopia oleh segelintir mahasiswa di bangku kuliah.

Sedikit tambahan, bukan berarti saya sibuk kerja kemudian tidak berorganisasi layaknya mahasiswa lain. Alhamdulillah dalam CV di bagian paling belakang skripsi saya, saya memerlukan hampir empat lembar untuk menuliskan pengalaman organisasi dan kegiatan baik intra maupun ekstra yang saya geluti sewaktu masih kuliah. Ini hanya sebagai gambaran saja bagi pembaca, bahwa berorganisasi di bangku kuliah bukan berarti kita mengabaikan tugas kita yang menjadi amanah orang tua untuk menyelesaikan kuliah.

Setamat kuliah juga, saya masih sempat kerja dengan posisi sebagai kepala bagian akademik merangkap tentor matematika di lembaga bimbingan belajar Primagama cabang Gorontalo. Sebenarnya untuk seorang pemuda bujang seperti saya, gaji di tempat kerja tersebut sebenarnya sudah cukup untuk menghidupi kebutuhan. Termasuk uang makan sehari-hari dan bayar kos-kosan.

Namun sekitar sebulan pasca wisuda, terasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Saya merasa bahwa untuk bisa bermanfaat untuk orang banyak, ilmu yang saya miliki masih kurang rasanya. Lingkungan yang ada juga sudah sulit memotivasiku untuk belajar lebih giat lagi. Mau sampai kapan saya berada di zona nyaman seperti itu. Mulai dari situ, saya sudah bulatkan tekat untuk merantau kembali. Keluar dari zona nyaman, untuk merasakan penderitaan wajib demi melejitkan potensi diri.

Bermodal pengalaman yang ada, saya yakin saya mampu untuk bertahan hidup di daerah tujuan hijrah. Selebihnya sembari berusaha dan memohon restu serta doa ayah dan bunda, cita-cita itu saya gantungkan setinggi-tingginya. Dengan harapan semoga akan diijabah oleh Allah SWT. Amiiin ya Robbal Alamin..

Malu, Iman dan Kemerdekaan

“Iman memiliki lebih dari 70 dan 60 cabang. Paling tinggi adalah perkataan “La ilah illallah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman,” (Mutafaq Alaih)

Jumat, 9 Ramadhan 1436 H (26 Juni 2015 M), bagi penggemar catatan sejarah pasti tahu kalau di hari yang sama, 72 tahun yang lalu (kalender hijriah) kita merayakan kemerdekaan. Tepatnya, Jumat 9 Ramadhan 1364 H (17 Agustus 1945), dalam kalender masehi tahun ini usia kemerdekaan baru 70 tahun.

Menyadari hal itu, saya menyempatkan diri untuk melaksanak sholat isya dan taraweh di Masjid Istiqlal. Konon, salah satu masjid terbesar se Asia Tenggara ini dibangun sebagai wujud syukur atas kemerdekaan Indonesia.

Edisi tafakkur ramadhan kali ini, saya tidak akan membahas perihal kemerdekaan. Saya justru tertarik dengan hal lain yang sering dilupakan dalam memaksimalkan kemerdekaan itu, yakni perihal malu dan iman. Catatan ini merupakan review dari ceramah mantan Menpora era SBY, Adhyaksa Dault. Ceramah pria kelahiran Donggala Sulawesi Tengah ini sangat memikat hati saya. Temanya cukup menarik “Malu Hilang, Iman Melayang”. Beberapa bagian yang saya mampu tangkap saya tuangkan sembari menambahkan sumber lain yg telah disesuaikan dgn pemahaman saya.

***

Para Ulama berpendapat, pada dasarnya malu bertujuan untuk menghindarkan diri dari keburukan. Mungkin inilah yang dimaksud Nabi dalam sabdanya: “malu itu kebaikan seluruhnya”. Dalam riwayat lain Nabi bersada: “Jika kau tidak memiliki malu maka berbuatlah sesukamu.” Selintas perkataan Nabi ini seakan menegaskan hanya org yg tak memiliki rasa malu yg mau berbuat keburukan seenaknya, tanpa bisa mengontrol diri.

Seperti halnya “malu” yang bertujuan mengontrol diri, puasa juga demikian yang dalam bahasa Al-Quran berasal dari kata “shiyam” berarti menahan diri. Tujuannya agar melatih manusia mengontrol diri dari naluri hemani (ganas, keras, makan, minum dan seksual). Untuk itu puasa memang berat dilakukan, makanya yang dipanggil Allah dalam Al-Quran hanya orang-orang yang beriman: “Hai org-org yg beriman di wajibkan atasmu berpuasa sebagaiman diwajibkan atas org sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. 2:183).

Lantas bagaimana dgn org yg tdk memilik malu, apa terpanggil juga?. Jika kita merujuk pada sabda Nabi: “Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya”. Dgn begitu jelas sudah bhwa orang yang tak memiliki rasa malu, sama halnya dengan kekurangan iman. Lihatlah orang muslim yang merokok atau makan di pinggir jalan umum di siang hari bulan puasa, mereka berani melakukannya karena memang tak terpanggil karena kurangnya iman. Kalau malu adalah kebaikan seluruhnya, maka orang yang berbuat keburukan sama artinya dengan kehilangan malu di dirinya.

Malu itu sendiri dari kata “hayaa” artinya hidup. Ini berhubungan dengan hidup matinya hati seseorang. Semakin hidup hati seseorang maka semakin berkembang malu dan imannya, begitu juga sebaliknya. Bukankah dlm Al-Quran ciri-ciri org beriman adlh ketika dibacakan ayat Al-Quran bergetar hatinya.

Dalam sebuah riwayat Nabi bersabda:” Setiap agama ada akhlaknya, dan akhlak islam adalah malu”. Kenyataannya meski mayoritas muslim, bangsa ini seakan kehilangan budaya malu. Sekarang orang nyaris tidak merasa malu, tidak segan-segan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Orang tidak menghargai sesama, ormas atas nama agama melakukan swiping dengan kekerasan. Tidak lagi meghargai hukum, koruptor tetap merajalelah meski banyak yang telah di penjara. Bahkan banyak generasi mudah tak menghargai lagi sopan santun.

***

Budaya malu sejatinya telah melekat pda masyarakat kita sejak dahulu kala. Minangkabau misalnya dikenal “raso jo pareso” artinya rasa malu orang minangkabau harus lebih tinggi. Tanpa rasa malu orang minang kehilangan keminangannya. Masyarakat Bugis juga dikenal “siri na pacce”, siri adalah rasa malu tersirat dalam dimensi hak dan martabat. Sehingganya atas nama siri org Bugis rela bertarung nyawa.

Di Bolaang Mongondow kita justru diperkenalkan dgn petuah “oya’ musti pakeon” artinya malu harus dipakai dalam segala apapun itu. Bagi orang Bolaang Mongondow malu seperti pakaian yang tanpanya orang Mongondow kehilangan harga diri. Karena seseorang yang tidak memiliki rasa malu itu seperti pohon tidak memiliki kulit. Dalam artian, orang tanpa rasa malu seperti orang telanjang. Jika pakaian adalah simbol peradaban, maka orang yang mengenakan pakaian minim (cadeko, span-span, yucansi, 1 tali) justru identik dengan masyarakat primitif dan pedalaman.

Meski begtu ada juga rasa malu negatif, karena ada juga malu karena ketidakmampuan diri, malu karena gengsi dan malu untuk menyombongkan diri. Di Bolmong hal seperti sering dijumpai, misalnya malu tidak bikin kukis dan beli baju hari raya, malu warna cat rumah tidak diganti, tapi disatu sisi bekerja malah malu dan gengsi. Seakan budaya gengsi “biar kalah nasi asal ndak kalah aksi” telah menjdi jati diri.

Pemerintah jga tidak jauh berbeda, sangat sulit dirasa adanya sikap malu. Yang ada tidak malu belum mampu mandiri jadi provinsi, tidak malu tanpa memiliki fasilitas pendidikan dan perguruan tinggi memadai, tidak malu banyak konflik namun miskin prestasi dan tdk malu putra daerah yg studi di luar terlantar tanpa diayomi. Maka tak heran pula anak daerah justru malu membanggakan daerah asalnya.

Padahal kemajuan dan kesuksesan sebuah daerah amat ditentukan seberapa kuat kuat budya malu mepengaruhi perilaku masyarakat dan pemimpinnya. Semoga kita semakin membudayakan rasa malu ini. Agar kedepan iman kita bertambah dan mendpatkan kemajuan.

Demikian sepenggal tafakkur ramadhan  edisi hari ini. Semoga ini bukan seperti teriakan di padang pasir, seruan demi seruan hilang begitu saja ditebar angin. Semoga bermanfaat.

Dari pusat pekat dan bisingnya ibukota, santri perantauan dari pesantren kehidupan, mengucapkan selamat berpuasa.

Sabtu, 10 Ramadhan 1436 H..

‪#‎Tafakkur_Ramadhan‬

Biar Kecil Asal Ikhlas

“Berbuat baiklah meski sekecil apapun itu, karena kau tidak tahu amal apa yang akan mengantarkanmu ke surga,” ~Hasan Al-Basri~

Bagi pengguna BBM, petuah ini tentu tak asing lagi. Seringkali petuah ini menjadi picture profil. Acap kali hanya sebatas itu, tanpa sedikitpun disadari kalau petuah ini memiliki arti ketika dihayati.

Kalau direnungi petuah ini mengandung hikmah yang sangat menakjubkan. Makna tersirat yang terkandung di dalam petuah ini begitu dalam ketika diselami. Membacanya bagi saya seakan ditampar keras untuk menyadari bahwa masih banyak kekurangan dlm hidup ini yang harus saya perbaiki.

Jujur, beberapa diantara kita –termasuk saya– begitu yakin kalau surga itu bisa diraih cukup dengan banyak beramal (kuantitas) semata tanpa memikirkan kualitas. Tak jarang kita sering membandingkan diri dgn orang yg lain, serta merasa kita yang paling taat dan orang lain sesat. Kita penghuni surga dan mereka justru penghuni neraka. Bukankah itu yang kita rasakan ketika melihat pelacur, pemabuk, penjudi, perampok, pencopet, pembunuh,dan orang yang hidupnya dipenuhi maksiat di lingkungan sekitar kita.

Padahal dengan sikap itu tanpa sadar kita telah merampas hak Tuhan dengan mengklaim kitalah penghuni surga. Jika kita menyadari seekor Anjing, si binatang penuh najis justru bisa masuk surga dalam kisah Ashabul Kahfi, kisah ini pun terabadikan dlm Al-Quran. Di sisi lain dalam sebuah riwayat, pelacur yang selama hidupnya bermaksiat ternyata dapat masuk surga karena mati kehausan hanya karena ikhlas memberi minumnya kepada seekor anjing di tengah padang pasir.

Bukankah sudah ditegaskan, ketika Tuhan memasukkan si pendosa ke surga itu bukan berarti Tuhan tidak adil, begitu juga ketika memasukkan si taat ke neraka itu bukan kezaliman. Karena surga dan neraka sepenuhnya urusan Tuhan Sang Khalik. Bukan kita mahkluknya.

Dari sini kita semakin sadar, banyak-sedikit dan besar-kecilnya amal kebaikan yg telah diperbuat, kita tidak pernah mengetahui mana yg paling di ridhoi Tuhan dan mengantarkan kita ke surga. Kita disuruh banyak beramal justru untuk memperbesar peluang amal yg paling di ridhoi Tuhan. Bukannya dengan banyak amal justru membuat diri sombong dan merasa telah menjadi penghuni surga. Sehingganya tidak mustahil orang yang kelihatan semasa hidupnya banyak beramal sholeh hingga dipanggil ustadz dan kyai, justru masuk neraka karena bisa jadi dalam amalnya terselip sombong (ujub) dan riya. Begitu juga tdk mustahil jika si pendosa justru masuk surga karena barangkali selama hidupnya ia pernah berbuat kebaikan kecil yang iklas karena Allah.

Demikian sepenggal tafakkur dari seorang santri dari pesantren kehidupan di perantauan. Semoga amal kita di bulan Ramadhan ini sekecil apapun itu mendapat ridho dari Allah SWT. Amin Allahumma Amin..

Dari himpitan penat dan bising ibukota. Santri perantauan mengucapkan selamat berpuasa.

‪#‎Tafakkur_Ramadhan‬

Ikhtiar dan Doa

“Apa rasanya jika hidup kita berubah dalam sehari. Seperti berada dalam pasir hisap semakin dalam semakin sesak. Hidupku kemarin sederhana, sekarang justru semakin kompleks,”

Penggalan syair dari film Madre tersebut cukup menggambarkan kehidupanku saat ini. Terasa alur takdir menempatkanku pada keadaan yang mengharuskan menempah diri menuju kedewasaan. Ya, dulunya hidupku sederhana hanya mikir makan minum, sekolah, kerja paruh waktu. Namun kini berubah, smkin kompleks. Aku juga harus belajar menemukan arti hidup dan penghidupan.

Hidupku awalnya memang sederhana. Menjadi anak kampung yang hidup sederhana di desa kecil. Hijrah ke kota kecil kabupaten untuk sekolah menengah, kemudian hijrah ke kota provinsi untuk kuliah. Dan kini saya berada di ibukota negara berjibaku dengan keadaan super kompleks yang setiap hari menguji ketahanan jiwa. Selayaknya pasir hisap semakin dalam semakin sesak, diripun hanya bisa merintih dan terisak.

Semakin kesini aku pun menyadari, bahwa dalam hidup ini kita memang berjuang sendiri, tapi bukan berarti kita sendirian. Sebab Tuhan senantiasa menemani. Sesaknya hidup justru petanda Tuhan rindu akan rintihan kita, karena memang hanya Dia tempat bersandar dan memohon pertolongan. Dengan harapan semoga jalan yang Dia beri merupakan jalan menuju keparipurnaan, pendewasaan dan melejitkan potensi kejatidirian. Amiin ya Rohman ya Rohim.

Teringat petuah Ibnu Attaillah dlm kitab Al-Hikam, “kita tidak usah terlalu sibuk merencanakan apa yang telah menjadi urusan Tuhan untuk diri kita”. Petuah yang menyadarkan bahwa kita memang tidak sendirian, kuncinya lengkapi saja ikhtiar berusaha dan berdoa.

Penat dan bisingnya jalanan ibukota terasa hilang ditelan merdunya murotal al-Quran dari Syeikh Mishary Rasyid. (***)

KI OMPU BOGANI

Aka Kotabi Intau, yo Kotabi Tuhan (Kalau dicintai Manusia, maka dicintai Tuhan)

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.