Saya, Ibukota dan Kisah Hijrah

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, turut memotivasiku untuk berhijrah ke Jakarta.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, turut memotivasiku untuk berhijrah ke Jakarta.

25 Maret 2015, pada tanggal ini saya memantapkan hati untuk berhijrah kembali. Kali ini tujuan hijrahnya adalah Ibukota. Berangkat dari Bandara Jalaludin Gorontalo sehabis sholat Subuh, dengan pesawat Lion Air saya terbang melintasi beberapa gugusan pulau menuju pusat pemerintahan Indonesia. Pagi sekitar pukul 8 WITA, saya transit dulu di Bandara Sultan Hasanudin Makasar, kemudian melanjutkan perjalanan kembali hingga tiba di Bandara Sukarno-Hatta Jakarta sekitar pukul 10 WIB.

Jakarta, Ibukota yang konon kejamnya melebihi Ibu Tiri. Kalau Ibu Tiri kejamnya hanya gara-gara cintanya untuk Ayah saja, kalau kejamnya Ibukota lebih gila lagi karena hanya berpihak pada si kaya saja. Bagi saya yang hidupnya pas-pasan anak kampung pula, sudah pasti akan menghadapi rintangan berat dan kesusahan beruntun di daerah baru ini. Meski begitu, insha Allah tidak setitikpun niat untuk mundur dari keyakinan hijrahku.

Bermodal ijazah sarjana Pendidikan Matematika dari Universitas Negeri Gorontalo ditambah beberapa keahlian cetek,saya membulatkan tekad dan nawaitu yang kuat untuk belajar kehidupan di Jakarta. Dari awal saya sudah menyadari bahwa kehidupan di Ibukota itu keras. Teman-teman justru banyak menyarankan agar saya merantau saja di kota lain, seperti Jogja dan Malang. Katanya biaya hidup di kedua kota itu cukup murah dan kalau ingin melanjutkan kuliah akan lebih mudah bisa juga sambil kerja.

Ada banyak pertimbangan mengapa Jakarta menjadi tujuan hijrah saya. Dari sekian banyak alasan, menuntut ilmu dan belajar kearifan dari kehidupan yang keras menjadi alasan utama. Seperti peribahasa, tidak ada pelaut ulung yang lahir dari laut yang tenang. Begitu juga saya berkayakinan bahwa Tuhan melahirkan orang hebat justru dari kesusahan bukannya kemudahan.

Bagi saya Jakarta merupakan tempat untuk memaksimalkan potensi diri. Semua hal di Jakarta ada, baik dan buruk ada. Saya pun hanya bisa berdoa dan berusaha semoga bisa diberi kemudahan untuk melalui semua itu, sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai.

Sedikit gambaran, mengapa kepindahan untuk belajar kehidupan di Jakarta saya sebut hijrah. Karena pada dasarnya, kita tidak pernah lepas dari proses hijrah itu sendiri. Kalaupun kita tidak berpindah tempat, sejatinya dalam keadaan diampun kita justru berhijrah dengan sendiri, berhijrah dari perpindahan waktu ke waktu yang lain, jam hingga detik ke detik yang lain. Itulah proses hijrah.

Meski begitu, hijrah yang terbaik adalah proses perpindahan menuju ke hal yang lebih baik lagi. Bukankah Rasulullah dalam sebuah hadits pernah berkata, “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Prof. Dr. Quraish Shihab berpandangan bahwa Alqur’an telah berjanji untuk memberikan kelapangan bagi siapapun yang berhijrah. namun, kelapangan yang akan diberikan Allah hanya berlaku bagi orang yang secara sungguh-sungguh melaksanakan Hijrah.

Menurut pakar Tafsir Indonesia pengarang tafsir Al-Mishbah ini, point yang cukup penting dalam berhijrah adalah usaha maksimal yang dilakukan. Ketika sudah bertekad untuk berhijrah, maka sepantasnyalah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menjalankan hijrah itu. Setelah berusaha dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan membantu memudahkan hijrah itu.

Berdasarkan hadits dan beberapa petuah tersebut, dengan penuh keteguhan pilihan saya jatuh ke Ibukota sebagai tujuan hijrah. Hal ini tidak lain karena adanya panggilan jiwa bahwa di daerah yang baru tersebut insha Allah saya akan mendapatkan kebaikan, baik dari segi pengetahuan dan pengalaman kehidupan.

Imam Syafi’i pernah memberi petuah untuk merantau sebagai berikut, “berdiam diri, stagnan, dan menetap di tempat mukim, sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab, maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan). Merantaulah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan. Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya, karena lezatnya kehidupan baru terasa setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha.”

Diawal tulisan, pengalaman ini saya sebut berhijrah kembali, karena sebelumnya saya telah berhijrah berkali-kali. Setamat bangku Sekolah Dasar (SD) Negeri Abak, Kecamatan Lolayan, Kab. Bolaang Mongondow, pada tahun 2003 saya berhijrah untuk melanjutkan studi di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Kotamobagu, disamping itu saya juga belajar agama dan tinggal di asrama sebagai santri di Pondok Pesantren Anna Elfira, Desa Pontodon. Setamat itu, pada tahun 2006 saya kemudian berhijrah kembali, untuk melanjutkan studi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kotamobagu, kali ini hidup mandiri tinggal di kos-kosan di Kelurahan Mongondow, Kotamobagu. Selesai menempuh pendidikan tingkat menengah atas pada tahun 2009, saya kemudian berhijrah kembali di Provinsi Gorontalo dan melanjutkan studi di Universitas Negeri Gorontalo. Alhamdulillah, atas karunia Allah gelar sarjana Pendidikan Matematika berhasil saya raih pada bulan Februari 2014.

Semasa kuliah ini, sedikitnya saya pernah merasakan betapa susahnya mencari penghidupan. Di tengah keterbatasan orang tua, saya dituntut untuk bisa mandiri mencari biaya untuk membantu orang tua. Saat semester 3, saya sudah bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan kebutuhan kampus lainnya. Kegiatan ini saya lakukan terus hingga selesai kuliah. Akibat sibuk kerja inilah sehingga yang seharusnya saya diwisuda bulan September 2013, jadi molor beberapa bulan hingga Februari 2014 selesai skripsi dan baru diwisudah 5 Juni 2014.

Meski sedikit terlambat, tidak lantas membuat saya berkecil hati. Karena bagi saya ada benarnya adagium yang mengatakan “kalau tidak bisa wisuda tepat waktu dan di waktu yang tepat, maka wisudalah minimal di waktu yang tepat”. Insha Allah saya termasuk orang yang di wisuda pada waktu yang tepat, sehingga siap untuk menghadapi kehidupan nyata, yang awalnya dianggap utopia oleh segelintir mahasiswa di bangku kuliah.

Sedikit tambahan, bukan berarti saya sibuk kerja kemudian tidak berorganisasi layaknya mahasiswa lain. Alhamdulillah dalam CV di bagian paling belakang skripsi saya, saya memerlukan hampir empat lembar untuk menuliskan pengalaman organisasi dan kegiatan baik intra maupun ekstra yang saya geluti sewaktu masih kuliah. Ini hanya sebagai gambaran saja bagi pembaca, bahwa berorganisasi di bangku kuliah bukan berarti kita mengabaikan tugas kita yang menjadi amanah orang tua untuk menyelesaikan kuliah.

Setamat kuliah juga, saya masih sempat kerja dengan posisi sebagai kepala bagian akademik merangkap tentor matematika di lembaga bimbingan belajar Primagama cabang Gorontalo. Sebenarnya untuk seorang pemuda bujang seperti saya, gaji di tempat kerja tersebut sebenarnya sudah cukup untuk menghidupi kebutuhan. Termasuk uang makan sehari-hari dan bayar kos-kosan.

Namun sekitar sebulan pasca wisuda, terasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Saya merasa bahwa untuk bisa bermanfaat untuk orang banyak, ilmu yang saya miliki masih kurang rasanya. Lingkungan yang ada juga sudah sulit memotivasiku untuk belajar lebih giat lagi. Mau sampai kapan saya berada di zona nyaman seperti itu. Mulai dari situ, saya sudah bulatkan tekat untuk merantau kembali. Keluar dari zona nyaman, untuk merasakan penderitaan wajib demi melejitkan potensi diri.

Bermodal pengalaman yang ada, saya yakin saya mampu untuk bertahan hidup di daerah tujuan hijrah. Selebihnya sembari berusaha dan memohon restu serta doa ayah dan bunda, cita-cita itu saya gantungkan setinggi-tingginya. Dengan harapan semoga akan diijabah oleh Allah SWT. Amiiin ya Robbal Alamin..

Akper Totabuan dan Hilangnya Kebanggaan Kultural

KrisisOleh: Donald Qomaidiansyah Tungkagi

Bagi saya, selain Kartini Manoppo istri Bung Karno, Letjend Ahmad Yunus Mokoginta dan Persibom (ketika masuk divisi utama), jujur sangat sulit mencari icon lain yang patut untuk dibanggakan bagi Bolaang Mongondow (Bolmong). Pandangan ini memang terkesan spekulasi, karena masih butuh topangan ilmiah, tapi itulah adanya.

Jarangnya Bolmong muncul dalam iven nasional secara tidak langsung menimbulkan mentalitas inferior masyarakat kita. Di tingkat nasional kita jarang disebut sehingga kurang dikenal, membuat kita seakan hilang kebanggaan terhadap daerah. Kondisi ini semakin memperburuk krisis identitas kultural negeri para Bogani ini.

Ada sebuah anekdot menarik yang ingin saya ceritakan. Ada orang Bolmong yang merantau untuk kuliah ke Jakarta. Saat di kampus dia ditanya oleh teman sekampus tentang asal-usulnya.

Dengan mantap anak Bolmong tersebut mengatakan, “saya dari Bolaang Mongondow”.

Temannya kemudian bertanya, “ Bolaang Mongondow itu dimana ya?”.

“Di Provinsi Sulawesi Utara” kata anak Bolmong itu.

Dengan cepat temannya tersebut berkesimpulan, “Oh, Manado”.

“Bukan Manado, tapi Bolaang Mongondow” koreksi anak Bolmong itu.

“Ya sama saja, se-provinsi sama Manado kan?” kata temannya lagi.

“Iya, % # @ $ % * :( ” ketus anak Bolmong tersebut sedikit kesal.

Ada banyak kasus seperti itu, dimana orang Bolmong di perantauan sangat kesulitan menjelaskan tentang letak geografis daerahnya. Bolmong mungkin hanya dikenal di pulau sulawesi. Di luar sulawesi dengan menyebut Bolaang Mongondow merupakan bagian dari Sulawesi Utara mereka akan berkesimpulan bahwa kita dari Manado. Kondisi ini jauh berbeda dengan Minahasa dan Sangihe Talaud yang sudah dikenal luas.

Untuk mereka yang di perantauan yang telah mengakui identitasnya sebagai orang Bolmong serta mau menjelaskan kepada orang luar letak geografis Bolmong, patut diapresiasi. Setidaknya mereka telah berjasa meluangkan waktu untuk menjelaskan sedikit tentang daerahnya. Meskipun akhirnya kita masih disebut orang Manado, karena dasar kebebalan si penanya yang cetek pengetahuan geografi.

Tapi apreasiasi seperti ini tidak untuk orang Bolmong yang sengaja mengaku sebagai orang Manado karena faktor inferior apalagi gengsi. Terutama mereka yang malas menjelaskan panjang lebar asal-usulnya, sehingga memilih cara pintas mengaku berasal dari Manado. Tujuannya agar tidak ditanya macam-macam.

Mengenai dugaan sikap mahasiswa/i Akper Totabuan yang enggan mengaku berasal dari Bolaang Mongondow pada acara Dahsyat di RCTI (Minggu, 8 Maret 2014 ) bisa jadi untuk menghindari pertanyaan panjang dimana letak geografis Bolaang Mongondow. Karena memang Bolmong kurang dikenal presenter program tersebut.

Kunjungan selingan para mahasiswa Akper Totabuan ditengah agenda studi banding itu seharusnya menjadi moment terindah mereka. Namun sayang, agenda jalan-jalan di Ibukota itu tak disangkah menjadi topik hangat bullying  di media sosial BBM. Ada yang menilai sebagai mahasiswa seharusnya mereka punya tanggung jawab sosial untuk mensosialisasikan Bolmong di luar daerah. Apalagi ketika memiliki kesempatan untuk tampil di televisi nasional.

Memang kejadian tersebut tidak merta mengeneralisasi mahasiswa Akper Totabuan atau orang Bolmong semuanya seperti itu. Masih ada juga orang Bolmong yang dengan bangga menyatakan identitas genuine-nya di perantauan. Meski harus diakui banyak juga orang Bolmong yang malu mengakui identitasnya.

Saya menilai kejadian tersebut seharusnya menjadi pelajaran bersama. Ini cambuk untuk menyadarkan kita, bahwa kita memang butuh penegasan identitas kultural. Daerah kita memang butuh pemimpin sebagai icon yang mampu mengikis krisis gengsi agar mampu berdiri sama rata dengan dengan kepala tegak di depan daerah lain.

Daerah kita memang butuh icon, ditengah minimnya prestasi yang dibuat pemerintah kita untuk mengharumkan Bolmong. Informasi mengenai prestasi Bolmong di tingkat nasional memang sedang dinanti di media massa. Minimal memberi warna lain ditengah menjamurnya pemberitaan mengenai kasus korupsi, kriminalitas dan advetorial yang hanya bualan pencitraan.

Kejadian tersebut menjadi peringatan kepada kita bahwa ada penyakit tidak percaya diri yang selama ini kita idap tanpa disadari. Sikap inferioritas dan krisis identitas ini jika terus berlanjut akan berdampak pada menurunnya kualitas daya saing daerah kita dengan daerah lain.

Ini juga sebagai kritik terhadap kalangan akademisi dan budayawan di Bolmong terutama pemerintah daerah yang tampak tak punya kemampuan untuk menelurkan gagasan dan wacana penguatan identitas. Kreatifitas dan kemampuan untuk bisa berpartisipasi bahkan membuat iven skala nasional sebagai ajang promosi daerah tidak pernah dilakukan. Ketidakmampuan ini justru membuat kita terpinggirkan, teralienasi dari pembangunan.

Selain itu, kurangnya rasa bangga mengakui identitas siapa kita sama saja dengan kehilangan jati diri. Bagaimana bisa menuju provinsi sedang mengakui jati diri saja kita gengsi. Hanya dengan mau mengakui siapa diri kita, maka kita akan tahu kemana arah langkah membangun daerah.

Bagi saya, salah satu alasan yang tidak bisa dibantah pejuang provinsi mengapa Bolaang Mongondow Raya ingin membentuk provinsi adalah demi terwujudnya kemandirian identitas kultural agar setara dengan daerah lain. Karena memang secara historis Bolaang Mongondow merupakan bekas wilayah yang mandiri baik secara identitas dan kultur.

Cita-cita perjuangan menuju provinsi selain bertujuan untuk mandiri, memperpendek rentang kendali pemerintahan dan membuka kesempatan segenap sumber daya manusia Bolmong untuk berkarya di segala bidang. Lebih dari itu juga agar Lipu in Bolaang Mongondow lebih dikenal di Indonesia. Inilah dasar spirit pembangunan yang sepatutnya diperjuangkan bersama. Motobatu Molintak kon Bolaang Mongondow Raya. (*)

“The Green Hilton Memorial Agreement”: Harta Karun Indonesia yang Terlupakan

Green-hilton-memorial-agreement-signatories3 gh13-7339994 gh21-7355505 gh31-7481776 gh41-749985
Inilah perjanjian yang paling menggemparkan dunia. Inilah perjanjian yang menyebabkan terbunuhnya Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy (JFK) 22 November 1963. Inilah perjanjian yang kemudian menjadi pemicu dijatuhkannya Bung Karno dari kursi kepresidenan oleh jaringan CIA yang menggunakan ambisi Soeharto. Dan inilah perjanjian yang hingga kini tetap menjadi misteri terbesar dalam sejarah ummat manusia.

Dan, inilah perjanjian yang sering membuat sibuk setiap siapapun yang menjadi Presiden RI. Dan, inilah perjanjian yang membuat sebagian orang tergila-gila menebar uang untuk mendapatkan secuil dari harta ini yang kemudian dikenal sebagai “salah satu” harta Amanah Rakyat dan Bangsa Indonesia. Inilah perjanjian yang oleh masyarakat dunia sebagai Harta Abadi Ummat Manusia. Inilah kemudian yang menjadi sasaran kerja tim rahasia Soeharto menyiksa Soebandrio dkk. agar buka mulut. Inilah perjanjian yang membuat Megawati ketika menjadi Presiden RI menagih janji ke Swiss tetapi tidak bisa juga. Padahal Megawati sudah menyampaikan bahwa ia adalah Presiden RI dan ia adalah Putri Bung Karno. Tetapi tetap tidak bisa. Inilah kemudian membuat SBY kemudian membentuk tim rahasia untuk melacak harta ini yang kemudian juga tetap mandul. Semua pihak repot dibuat oleh perjnajian ini.

Perjanjian itu bernama “Green Hilton Memorial Agreement Geneva”. Akta termahal di dunia ini diteken oleh John F. Kennedy selaku Presiden AS, Ir. Soekarno selaku Presiden RI dan William Vouker yang mewakili Swiss. Perjanjian segitiga ini dilakukan di Hotel Hilton Geneva pada 14 November 1963 sebagai kelanjutan dari MOU yang dilakukan tahun 1961. Intinya adalah, Pemerintahan AS mengakui keberadaan emas batangan senilai lebih dari 57 ribu ton emas murni yang terdiri dari 17 paket emas dan pihak Indonesia menerima batangan emas itu menjadi kolateral bagi dunia keuangan AS yang operasionalisasinya dilakukan oleh Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS).

Pada dokumen lain yang tidak dipublikasi disebutkan, atas penggunaan kolateral tersebut AS harus membayar fee sebesar 2,5% setahun kepada Indonesia. Hanya saja, ketakutan akan muncul pemimpinan yang korup di Indonesia, maka pembayaran fee tersebut tidak bersifat terbuka. Artinya hak kewenangan pencairan fee tersebut tidak berada pada Presiden RI siapa pun, tetapi ada pada sistem perbankkan yang sudah dibuat sedemikian rupa, sehingga pencairannya bukan hal mudah, termasuk bagi Presiden AS sendiri.

Account khusus ini dibuat untuk menampung aset tersebut yang hingga kini tidak ada yang tahu keberadaannya kecuali John F. Kennedy dan Soekarno sendiri. Sayangnya sebelum Soekarno mangkat, ia belum sempat memberikan mandat pencairannya kepada siapapun di tanah air. Malah jika ada yang mengaku bahwa dialah yang dipercaya Bung Karno untuk mencairkan harta, maka dijamin orang tersebut bohong, kecuali ada tanda-tanda khusus berupa dokumen penting yang tidak tahu siapa yang menyimpan hingga kini.

Menurut sebuah sumber di Vatikan, ketika Presiden AS menyampaikan niat tersebut kepada Vatikan, Paus sempat bertanya apakah Indonesia telah menyetujuinya.

Kabarnya, AS hanya memanfaatkan fakta MOU antara negara G-20 di Inggris dimana Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut menandatangani suatu kesepakatan untuk memberikan otoritas kepada keuangan dunia IMF dan World Bank untuk mencari sumber pendanaan alternatif. Konon kabarnya, Vatikan berpesan agar Indonesia diberi bantuan. Mungkin bantuan IMF sebesar USD 2,7 milyar dalam fasilitas SDR (Special Drawing Rights) kepada Indonesia pertengahan tahun lalu merupakan realisasi dari kesepakatan ini, sehingga ada isu yang berkembang bahwa bantuan tersebut tidak perlu dikembalikan.

Oleh Bank Indonesia memang bantuan IMF sebesar itu dipergunakan untuk memperkuat cadangan devisa negara. Kalau benar itu, maka betapa nistanya rakyat Indonesia. Kalau benar itu terjadi betapa bodohnya Pemerintahan kita dalam masalah ini. Kalau ini benar terjadi betapa tak berdayanya bangsa ini, hanya kebagian USD 2,7 milyar. Padahal harta tersebut berharga ribuan trilyun dollar Amerika.

Aset itu bukan aset gratis peninggalan sejarah, aset tersebut merupakan hasil kerja keras nenek moyang kita di era masa keemasan kerajaan di Indonesia.

Asal Mula Perjanjian “Green Hilton Memorial Agreement”

Setelah masa perang dunia berakhir, negara-negara timur dan barat yang terlibat perang mulai membangun kembali infrastrukturnya. Akan tetapi, dampak yang telah diberikan oleh perang tersebut bukan secara materi saja tetapi juga secara psikologis luar biasa besarnya. Pergolakan sosial dan keagamaan terjadi di mana-mana. Orang-orang ketakutan perang ini akan terjadi lagi. Pemerintah negara-negara barat yang banyak terlibat pada perang dunia berusaha menenangkan rakyatnya, dengan mengatakan bahwa rakyat akan segera memasuki era industri dan teknologi yang lebih baik. Para bankir Yahudi mengetahui bahwa negara-negara timur di Asia masih banyak menyimpan cadangan emas. Emas tersebut akan dijadikan sebagai kolateral untuk mencetak uang yang lebih banyak yang akan digunakan untuk mengembangkan industri serta menguasai teknologi. Karena teknologi informasi sedang menanti di zaman akan datang.

Sesepuh Mason yang bekerja di Federal Reserve (Bank Sentral di Amerika) bersama bankir-bankir dari Bank of International Settlements/BIS (Pusat Bank Sentral dari seluruh Bank Sentral di Dunia) mengunjungi Indonesia. Melalui pertemuan dengan Presiden Soekarno, mereka mengatakan bahwa atas nama kemanusiaan dan pencegahan terjadinya kembali perang dunia yang baru saja terjadi dan menghancurkan semua negara yang terlibat, setiap negara harus mencapai kesepakatan untuk mendayagunakan kolateral emas yang dimiliki oleh setiap negara untuk program-program kemanusiaan. Dan semua negara menyetujui hal tersebut, termasuk Indonesia.

Akhirnya terjadilah kesepakatan bahwa emas-emas milik negara-negara timur (Asia) akan diserahkan kepada Federal Reserve untuk dikelola dalam program-program kemanusiaan. Sebagai pertukarannya, negara-negara Asia tersebut menerima Obligasi dan Sertifikat Emas sebagai tanda kepemilikan. Beberapa negara yang terlibat diantaranya Indonesia, Cina dan Philippina. Pada masa itu, pengaruh Soekarno sebagai pemimpin dunia timur sangat besar, hingga Amerika merasa khawatir ketika Soekarno begitu dekat dengan Moskow dan Beijing yang notabene adalah musuh Amerika.

Namun beberapa tahun kemudian, Soekarno mulai menyadari bahwa kesepakatan antara negara-negara timur dengan barat (Bankir-bankir Yahudi dan lembaga keuangan dunia) tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Soekarno mencium persekongkolan busuk yang dilakukan para Bankir Yahudi tersebut yang merupakan bagian dari Freemasonry.

Tidak ada program-program kemanusiaan yang dijalankan mengunakan kolateral tersebut. Soekarno protes keras dan segera menyadari negara-negara timur telah ditipu oleh Bankir International.

Akhirnya Pada tahun 1963, Soekarno membatalkan perjanjian dengan para bankir Yahudi tersebut dan mengalihkan hak kelola emas-emas tersebut kepada Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy (JFK). Ketika itu Amerika sedang terjerat utang besar-besaran setelah terlibat dalam perang dunia. Presiden JFK menginginkan negara mencetak uang tanpa utang.

Karena kekuasaan dan tanggung jawab Federal Reserve bukan pada pemerintah Amerika melainkan dikuasai oleh swasta yang notabenenya bankir Yahudi. Jadi apabila pemerintah Amerika ingin mencetak uang, maka pemerintah harus meminjam kepada para bankir Yahudi tersebut dengan bunga yang tinggi sebagai kolateral.

Pemerintah Amerika kemudian melobi Presiden Soekarno agar emas-emas yang tadinya dijadikan kolateral oleh bankir Yahudi dialihkan ke Amerika. Presiden Kennedy bersedia meyakinkan Soekarno untuk membayar bunga 2,5% per tahun dari nilai emas yang digunakan dan mulai berlaku 2 tahun setelah perjanjian ditandatangani.

Setelah dilakukan MOU sebagai tanda persetujuan, maka dibentuklah Green Hilton Memorial Agreement di Jenewa (Swiss) yang ditandatangani Soekarno dan John F. Kennedy. Melalui perjanjian itu pemerintah Amerika mengakui emas batangan milik bangsa Indonesia sebesar lebih dari 57.000 ton dalam kemasan 17 Paket emas.

Melalui perjanjian ini Soekarno sebagai pemegang mandat terpercaya akan melakukan reposisi terhadap kolateral emas tersebut, kemudian digunakan ke dalam sistem perbankan untuk menciptakan Fractional Reserve Banking terhadap dolar Amerika. Perjanjian ini difasilitasi oleh Threepartheid Gold Commision dan melalui perjanjian ini pula kekuasaan terhadap emas tersebut berpindah tangan ke pemerintah Amerika.

Dari kesepakatan tersebut, dikeluarkanlah Executive Order bernomor 11110, ditandatangani oleh Presiden JFK yang memberi kuasa penuh kepada Departemen Keuangan untuk mengambil alih hak menerbitkan mata uang dari Federal Reserve. Apa yang pernah dilakukan oleh Franklin, Lincoln, dan beberapa presiden lainnya, agar Amerika terlepas dari belenggu sistem kredit bankir Yahudi juga diterapkan oleh presiden JFK. salah satu kuasa yang diberikan kepada Departemen keuangan adalah menerbitkan sertifikat uang perak atas koin perak sehingga pemerintah bisa menerbitkan dolar tanpa utang lagi kepada Bank Sentral (Federal Reserve).

Tidak lama berselang setelah penandatanganan Green Hilton Memorial Agreement tersebut, presiden Kennedy ditembak mati oleh Lee Harvey Oswald. Setelah kematian Kennedy, tangan-tangan gelap bankir Yahudi memindahkan kolateral emas tersebut ke International Collateral Combined Accounts for Global Debt Facility di bawah pengawasan OITC (The Office of International Treasury Control) yang semuanya dikuasai oleh bankir Yahudi. Perjanjian itu juga tidak pernah efektif, hingga saat Soekarno ditumbangkan oleh gerakan Orde baru yang didalangi oleh CIA yang kemudian mengangkat Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia.

Sampai pada saat Soekarno jatuh sakit dan tidak lagi mengurus aset-aset tersebut hingga meninggal dunia. Satu-satunya warisan yang ditinggalkan, yang berkaitan dengan Green Hilton Memorial Agreement tersebut adalah sebuah buku bersandi yang menyembunyikan ratusan akun dan sub-akun yang digunakan untuk menyimpan emas, yang terproteksi oleh sistem rahasia di Federal Reserve bernama The Black screen. Buku itu disebut Buku Maklumat atau The Book of codes. Buku tersebut banyak diburu oleh kalangan Lembaga Keuangan Dunia, Para sesepuh Mason, para petinggi politik Amerika dan Inteligen serta yang lainnya. Keberadaan buku tersebut mengancam eksistensi Lembaga keuangan barat yang berjaya selama ini.

Sampai hari ini, tidak satu rupiah pun dari bunga dan nilai pokok aset tersebut dibayarkan pada rakyat Indonesia melalui pemerintah, sesuai perjanjian yang disepakati antara JFK dan Presiden Soekarno melalui Green Hilton Agreement. Padahal mereka telah menggunakan emas milik Indonesia sebagai kolateral dalam mencetak setiap dollar.

Hal yang sama terjadi pada bangsa China dan Philipina. Karena itulah pada awal tahun 2000-an China mulai menggugat di pengadilan Distrik New York. Gugatan yang bernilai triliunan dollar Amerika Serikat ini telah mengguncang lembaga-lembaga keuangan di Amerika dan Eropa. Namun gugatan tersebut sudah lebih dari satu dasawarsa dan belum menunjukkan hasilnya. Memang gugatan tersebut tidaklah mudah, dibutuhkan kesabaran yang tinggi, karena bukan saja berhadapan dengan negara besar seperti Amerika, tetapi juga berhadapan dengan kepentingan Yahudi bahkan kabarnya ada kepentingan dengan Vatikan. Akankah Pemerintah Indonesia mengikuti langkah pemerintah Cina yang menggugat atas hak-hak emas rakyat Indonesia yang bernilai Ribuan Trilyun Dollar (bisa untuk membayar utang Indonesia dan membuat negri ini makmur dan sejahtera)?

Ya, semoga saja semua milik indonesia itu kembali walau entah kapan waktunya.

Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 21 September 2013

19 Desember dan Momentum Patriotisme

Oleh: Donald Q. Tungkagi, S.Pd

(Pernah dimuat di Harian Media Totabuan edisi 22 Desember 2014)

PATRIOTISME adalah sikap yang berani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Patriotisme berasal dari kata “patriot” dan “isme” yang berarti sifat kepahlawanan atau jiwa pahlawan, atau  dalam bahasa Inggris disebut “heroism” dan “patriotism”. Pengorbanan ini dapat berupa pengorbanan harta benda maupun jiwa raga.

Sayangnya belakangan semangat patriotisme ini semakin memudar karena kealpaan kita yang disebabkan pengaruh budaya dari luar kurangnya pengetahuan sejarah lokal daerah. Untuk itu catatan ini sengaja dihadirkan sebagai upaya sadar untuk melawan lupa terkait sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Bolaang Mongondow.

Saya kira peristiwa-peristiwa patriotik tersebut amatlah menarik dan tidak hilang aktualitasnya untuk di korelasikan dengan kondisi kita saat ini. Sengaja saya tuliskan kembali dan kemudian di publikasikan dengan tujuan untuk me refresh ingatan akan sejarah kita. Ada pameo yang cukup berkembang, bahwa jika ingin menghancurkan kekuatan sebuah generasi, maka hancurkanlah ingatan akan sejarahnya. Saya amat berharap, kita tidak termasuk bagian dari itu. Dan sudah seharusnya kita keluar dari jebakan para oknum-oknum tertentu yang sengaja membuat kita amnesia akan sejarah masa lalu kita.

Hari ini, merupakan momentum sejarah bagi masyarakat Bolaang Mongondow. Pada hari ini, tepatnya 69 tahun yang lalu 19 Desember 1945, sejumlah element masyarakat yang tergabung dalam pasukan Laskar Banteng mengarak-arak Merah Putih dari Tanoyan dengan berjalan kaki untuk dikibarkan di lapangan Molinow. Peristiwa tersebut membuktikan jiwa patriotisme masyarakat Bolaang Mongondow dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru di proklamirkan oleh Sukarno dan Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945.

Momentum penuh sejarah tanggal 19 Desember ini, tidak ada salahnya jika kita sedikit merenungi pahit manisnya perjuangan para pendahulu kita dimasa lalu. Bukanlah bertujuan untuk menjebakkan diri dalam romantisme lampau tersebut. Tidaklah demikian. Melainkan demi menemukan jatih diri dan semangat yang lebih baru untuk mendorong masa depan daerah kita tercinta ini. Selain itu dengan mempelajari sejrah itu juga, kita coba merancang peta dan arah perubahan Bolaang Mongondow di masa depan. Tentunya ke perubahan yang lebih baik dari saat ini.

19 Desember Sejarahnya Rakyat

Sampai pada pendudukan Jepang, Bolaang Mongondow masih berstatus swapraja. Pada tahun 1943, H.J.C Manoppo diangkat oleh Jepang sebagai Raja Kerajaan Bolaang Mongondow. Tak lama kemudian, bersamaan dengan kemenangan sekutu dalam perang dunia ke-2, yang dipertegas dengan menyerahnya Jepang kepada sekutu. Belanda-NICA kembali ke Bolaang Mongondow dan mengukuhkan kedudukan raja Bolaang Mongondow setelah sebelumnya Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya.

Tak ayal, dengan kembalinya Belanda ini menimbulkan kegojalak politik hampir diseantero Nusantara, termasuk Bolaang Mongondow tak luput terkena imbasnya. Kembalinya Belanda tersebut merupakan imbas dari gejolak politik pasca Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 agustus 1945. Belanda bersama pasukan sekutu tiba di Manado pada tanggal 10 Nopember 1945 meresmikan pemerintah NICA (Nedherland Indie Civil Administration) yang berpusat di Tomohon, dengan dipimpin seorang Residen (Keresidenan Manado). Tomohon dijadikan sebagai markas KNIL.

Paska kedatangan Belanda memboceng NICA. Dalam rangkah mempertahankan kedaulatan NKRI tersebut Bolaang Mongondow tidak tinggal diam. Kehadiran Belanda yang mulai memasuki Bolaang Mongondow membuat jiwa patriotisme para pejuang di daerah meningkat. Ini terbukti dengan dibentuknya pasukan gerilya Laskar Banteng Republik Indonesia Bolaang Mongondow pada tanggal 14 Oktober 1945.

Pasukan ini dibentuk dan diberi nama oleh Johan Faisal Kasad Damopolii, yang nama banteng konon diambil dari nama Bogani Antong, Antong atau Bantong, bantong berarti Banteng. Bogani Antong ini merupakan pengawal Raja Laloda Mokoagow, Ia berpasangan dengan Bogani Oyotang. Mereka dikenal sebagai Bogani yang sangat kuat dan perkasa.

Sebelumnya dikirim delegasi untuk menghadap raja Bolaang Mongondow yang waktu itu masih H.J.C Manoppo pada tanggal 12 September 1945. Raja menerima delegasi tersebut di komalig (istana kerajaan Bolaang Mongondow di kotobangon. Delegasi tersebut berjumlah 17 orang yang dipimpin Zakaria Imban. Raja menghimbau untuk membina persatuan dalm perjuanga, pertinggi disiplin serta kesetiakawanan. Tidak lupa raja berpesan agar para pejuanga untuk tidak mengajak rakyat yang masih ragu. Terutama kepada mereka yang sudah menerima terlalu banyak kebaikan Belanda.

Pimpinannya Laskar Banteng terdiri dari Johan F.K Damopolii sebagai Komandan Umum  dan diwakili Roeland Johan Rudolf (Laan) Massie. Komandan Pasukan Pria dipimpin Abdul Rahman Mokobombang, dan Komandan Pasukan Putri dipimpin Nurtina Dampolii Manggo (waktu itu masih menjadi istrinya JFK Damopolii). Pembantu umum dan staf terdiri dari Saleh Mokobombang, Adna Raupu, S.M Daun,  Aminullah T. Mokobombang, Wahab Gonibala, Abubakar Hatam dan Ismail Mokobombang.

Di pasukan putri muncul Djamilah Ansik, Hamsiah Moji, Hasnah Mokobombang dan Nurbaya Ansik. Tokoh-tokoh utama yang dijadikan pembina dan penasehat terdiri dari zakaria imban, Lour Mokobombang, Husinb Raupu, Haji saleh Mustafa, Kinompol Imban, Haji M. Daun, Ibu Raupu Mokobombang dan BY Kaadulah (yang terakhir ini merupakan pimpinan Pasukan Berani Mati di Molibagu).

Pada umumnya yang mendaftar sebagai sukarelawan adalah pemuda bekas anggota pemuda muslim dan SIAP (Syarikat Islam Angkatan Pandu). Sebagian di antara mereka semasa pendudukan jepang menjadi anggota Heiho, Jumpo (Polisi), Seinedan dan Keibodan (Pertahanan Rakyat) yang telah mendapat latihan militer. Mereka itu yang menjadi tonggak utama Laskar Banteng.

Sejak berdirinya anggota laskar banteng  secara maraton diberikan latihan kemiliteran dan disiplin organisasi, penataran tentang arti  dan tujuan perjuangan, keihlasan dan berkorban demi negara. Kepada mereka di pompakan semangat juang dan semboyan “Merdeka atau Mati”.

Diawal-awal perjuangan Laskar Banteng sudah diuji. Pada tanggal 23 Oktober 1945 siang, saat  JFK Damopolii, Abdurahman Mokobombang dan Nurtina Manggo, tengah merundingkan usaha untuk mendapatkan persenjataan, rumah JFK Damopolii dikepung NICA.  Inspektur NICA Jacob ca Beugen menyerahkan surat perintah penangkapan atas JFK Damopolii. Saat menyadari dirinya akan ditangkap dan peluang untuk selamat kecil, JFK Damopolii sempat berbisik kepada Nurtina Manggo untuk melanjutkan perjuangan, seperti dirinya berada ditengah-tenga mereka. Saat hendak dibawah NICA, JFK masih sempat menyeruhkan salam perjuangan “Merdeka atau Mati” yang langsung disambut lantang oleh orang-orang yang berkerumun “tetap merdeka”.

Meski kehilangan Pimpinan mereka, semangat para pejuang tidak sedikitpun surut. Pada hari berikutnya dilaksanakan rapat kilat pimpinan terbatas, dimana Laan Masie menggatikan posisi JFK Damopolii. Pasukan disebar dalam bentuk rayon-rayon. Markas besar dipindahkan ke perkebunan rakyat Tanoyan, sedangkan pusat latihan di hutan Mopusi yang jaraknya sekitar 20 kilometer, yang disinyalir aman dari intaian mata-mata dan intaian pasukan Belanda.

Kesadaran bahwa perjuangan mereka akan berhadapan dengan para pasukan NICA dan KNIL yang memiliki senjata, maka para pimpinan Laskar Banteng berusaha untuk mendapatkan senjata. Akhirnya atas negosiasi dan perjuangan yang tak kenal lelah, pada tanggal 19 Oktober 1945 pasukan Laskar Banteng mendapatkan sejrah dari Perwira Jepang yang bersembunyi di Hutan Mopusi. Perwira Jepang bernama Hirayama San dengan ikhlas menyerahkan senjata-senjata simpanan serta amunisinya dan berpeti-peti granat tangan. Tidak hanya itu pasukan jepang tersebut juga memberikan kain berwarna merah dan putih yang akhirnya dijahit untuk dijadikan bendera oleh pasukan Laskar Banteng.

Setelah mendapatkan sejata, latihan semakin di intensifkan dengan memakai senjata. Kemudian diadakan rapat tertutup yang dihadari pimpina laskar banteng dan para pembina dan penasehat. Di dapat suatu kesepakatan untuk melaksanakan satu gerakan pada tanggl 17 Desember 1945. Aksi tersebut berbentuk pawai akbar merah putih dengan sasaran kantor Kontroleur di Kotamobagu.

Pawai itu terdiri dari anggota pasukan putri yang masing-masing membawa bendera dipimpin oleh 4 komandan regu putri yang berseragam putih dan pita merah putih terikat di kepalah. Mereka menyelipkan pistol secara tersebunyi. Tugas mereka setiba di sasaran adalah menurunkan bendera Belanda dari tiang dan menggantinnya dengn Sang Merah Putih. Mereka tidak dibenarkan meninggalkan tugas bahkan disumpah tidak akan mundur apapun yang tejadi. Tugas mereka adalah mengibarkan bendera hingga ke ujung tiang atau mati karena diberondong senjata musuh. Meski mengetahui ancaman tersebut pada srikandi-srikandi tersebut tidak surut tekad mereka untuk melaksanakan tugas menantang maut. Mereka adalah Djamila Ansik, Hasnah Mokobombang, Hamsiah Moji dan Nurbaya Ansik.

Disamping kekuatan bersenjata Laskar Banteng, pada hari “H” akan datang pasukan tempur ‘Barisan Berani Mati” dari Molibagu yang dipimpin Husin Thanta. Dengan demikian diharapkan pasukan akan semakin besar. Namun karena berbagi kendala dan hambatan menyebabkan hari “H” Pawai Akbar Merah Putih menjadi tertunda hingga 2 hari.

Setelah sempat tertunda akhirnya rencana “Pawai Akbar Merah Putih” jadi juga pada tanggal 19 Desember 1945. Desa Molinow dijadikan sebagai tempat Konsolidasi terakhir sebelum bergerak menuju Kotamobagu. Aksi Laskar Banteng mengawali dengan upacara penaikan bendera pagi jam 08.00 di lapangan olahraga Molinow dan pengucapan ikrar bersama.

Sejak pagi buta setiap perbatasan desa yang akan dilalu pasukan Laskar Banteng dengan berjalan kaki dari Tanoyan sudah dipagari oleh barisan pengintai, terutama dari Jurusan Kotamobagu, Rumah JFK Damopolii yang terletak antara Molinow dan Motoboi (Jalan Veteran) sudah dihiasi lambaian merah putih. Abdurahman Mokobombang dan Nurtina Manggo yang memimpin aksi Merah-Putih tersebut. Rakyat dari desa-desa tetangga juga sudah mulai berkumpul di Molinow sambil membawa senjata seadanya, seperti parang, tombak dan bambu runcing, namun semangat juang yang terpancar dari wajah mereka sangat membara.

Pada tanggal 19 Desember 1945, saat hendak pawai menuju Kotambagu setelah sebelumnya mengibarkan bendera Merah Putih di markas Badule,  dan di lapangan Molinow dengan iringan lagu Indonesia Raya, pasukan Laskar Banteng di kepung oleh tentara NICA yang berintikan KNIL dan polisi kerajaan yang di pimpin oleh J. Kambey. Setelah terjadi baku tembak, J.Kambey dan pasukannyapun akhirnya mundur setelah sebelumnya Ia tertembak di kaki.

Setelah terjadi baku tembak dan dipukul mundurnya pasukan J. Kambey, terdengar ancaman akan mendatangkan pasukan KNIL yang lebih besar lagi. Ancaman tersebut bukan guyonan belaka, maka untuk menghindari korban jiwa dari kalangan rakyat, para pimpinan Laskar Banteng memutuskan agar pasukan menuju ke hutan. Sebagian pasukan lain pergi menyusup ke tangah-tengah rakyat dalam kampung.

Serangan KNIL dan Pasukan NICA ke basis Tanoyan mendapat perlawan. Meski begitu karena kehabisan amunisi dan keterbatasan senjata akhir markas tersebut baru dapat dikuasai pasukan NICA dan KNIL pada 29 Desember 1945.

Dalam catatan singkat tidak cukup untuk menjelaskan secar rinci peristiwa patriotik tersebut, penulis sarankan pembaca untuk membaca bukunya Ny. Ha. Nurtina Gonibala Manggo, “Sejarah Perjuangan Kelaskaran Banteng RI Bolaang Mongondow” dan bukunya T. Mokobombang, “Napak Tilas Mengikuti Jiwa dan Jejak Merah Putih Kawasan Utara PropinsiSulawesi Utara”.

Patriotisme dan Pembangunan

Intinya yang ingin penulis sampaikan dalam catatan ini dengan terlebih dahulu menginformasikan tentang salah satu peristiwa heroik di Bolaang Mongondow adalah agar kesadaran patriotik masyarakat terutama pemuda kembali digairahkan.Semangat patriotisme ini masih diperlukan kendati kemerdekaan Republik Indonesia sudah memasuki usia 69 tahun. Salah satu caranya adalah dengan meneladani semangat para pejuang pendahulu.

Pada masa pembangunan, patriotisme tidak lagi berwujud perlawanan bersenjata melawan kolonialisme, tetapi sudah berbentuk perlawanan terhadap kebodohan, kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan. Semangat patriotisme tersebut tercermin dalam berbagai sektor pembangunan.

Dengan semangat patriotisme tersebut, kita akan semakin cinta kepada tanah air Indonesia umumnya dan Bolaang Mongondow khususnya. Sehingga dengan rasa ini ketika kita melihat kemajuan daerah lain, akan menambah cinta kita juga kepada daerah kita sendiri dan ingin agar daerah kita juga mendapat kemajuan. Jika daerah kita ditimpa kesulitan, dan orang lain menawarkan untuk menukar dengan yang lain kita tidak akan sudi menerimanya. Dan jika Bolaang Mongondow dalam perjuangannya mendapat kedudukan yang pantas, maka kita bisa dengan bangga mengatakan “aku ini adalah putramu”.

Orang yang cinta kepada daerahnya akan berani memberikan segalah pengorbanan. Karena cinta kepada daerahnya meskipun hidupnya sengsara, dirinya tidak akan sudi menjual hak-hak rakyat untuk kepentingan orang luar. Karena kecintaan kepada daerah orang akan sudi bahkan berani menantang maut. Tanah air hargnya lebih mahal, sehingga itu orang yang mencintai tanah air akan sudi menebusnya dengan nyawa. Nilai nyawa menjadi murah buat menebus tanah air, dan mati adalah bukti cinta sejati. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan para pejuang Laskar Banteng 69 tahun silam pada 19 Desember 1945.

Hemat penulis banyak cara yang bisa dilakukan para generasi muda untuk menunjukkan rasa patriotismenya. Yakni dengan mengisi kegiatan sehari-harinya dengan hal-hal yang positif dan berguna bagi dirinya sendiri, masyarakat dan bangsa. Generasi muda yang anti patriotisme adalah mereka-mereka yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, norma sosial dan agama serta yang dapat merugikan dirinya sendiri.

Seharusnya para pemuda Bolaang Mongondow menerapkan prinsip student today, leader tomorrow. Maksudnya dalam upaya menyonsong masa depan Bolaang Mongondow para pemuda harus terus belajar meningkatkan kualitas dirinya, sehingga kelak dapat menjadi pemimpin yang baik. Caranya dengan melalui pendidikan, karena Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk jiwa patriotisme para generasi muda. Pemerintah daerah juga harus memiliki tanggungjawab untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas di Bolaang Mongondow, baik dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi

Pemerintah juga sudah saatnya mengabadikan peristiwa heroik 19 Desember tersebut agar tetap dikenang dalam sanubari masyarakat Bolaang Mongondow. Lebih dari agar peristiwa tersebut menjadi sejarahnya rakyat, yang sedemikian hingga menjadi salah motor penggerak semangat rakyat untuk memperjuangkan masa depan Bolaang Mongondow menjadi lebih baik. Sebab menbangun Bolaang Mongondow sama saja dengan membangun Indonesia. Untuk itu mari kita “Motobatu Molintak Kon Bolaang Mongondow Raya!”. (***)

KI OMPU BOGANI

Aka Kotabi Intau, yo Kotabi Tuhan (Kalau dicintai Manusia, maka dicintai Tuhan)

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.