Lipuku

Pemetaan Pertanian Bolaang Mongondow Raya

PertanianTulisan ini merupakan hasil diskusi dengan Pak Hery pada bulan Januari 2011. Ia salah satu guru di SMK Pertanian Dumoga, Kab. Bolaang Mongondow. Mendapatkan gelar sarjana di Institut Pertanian Bogor. Selain mengajar, aktivitasnya saat ini juga sebagai Admin di Grup Diskusi facebook PINOTABA.

Negara Indonesia termasuk dalam negara agraris, yang beriklim tropis dan dilalui oleh khatulistiwa. Karena kondisi ini, maka bisa dikatakan Indonesia kaya akan sumber daya alamnya, terutama dalam sector pertaniannya. Bisa dikatakan juga, ekspor pertanian Indonesia cukup berpengaruh dalam memenuhi kebutuhan pokok dunia. Selain itu juga kesejahteraan sebuah Negara dapat ditentukan oleh seberapa majunya pertaniannya.

Bolaang Mongondow dalam hal ini sebagai salah satu daerah di Indonesia, juga tanpa disadari memiliki potensi pertanian yang luar biasa. Bahkan dalam skala local misalnya, hasil pertanian Bolaang Mongondow seperti cabai sempat mengalahkan hasil pertanian di Jawa Barat. Sebenarnya masih banyak lagi pertanian yang potensial di bolmong, hanya saja itu masih perlu dimanfaatkan dan benar-benar dimaksimalkan.

Kali ini saya mencoba untuk menggali potensi pertanian Bolmong kepada Pak Hery, via Facebook. Dimana berdasarkan info profilnya beliau adalah salah satu lulusan Institut Pertanian Bogor, salah satu kampus pertanian terkenal di Indonesia. Saya ini beliu juga aktif mengajar di salah satu sekolah pertanian di Bolaang Mongondow. Untuk lebih jelasnya silakan simak diskusi ini.

Donald Qomaidiansyah Tungkagi 06 Januari jam 22:15
Mohon maaf sebelumnya Pak Hery. Dalam rangkah memajukan bolmong, terlebih pada saat lagi gencar-gencarnya peguliran wacana pembentukan provinsi bolmong raya, salah satu aspek yang dibutuh antara lain selain sektor pendidikan, dan perekonomian,ada juga yang paling mendasar yakni sektor pertanian.

Menurut bapak seberapa besarkah potensi pertanian di bolmong saat ini? Bisakah bolmong menjadi daerah yang angropolitan?. Saya pernah membaca sebuah artikel di situs totabuan madani yang berjudul pertanian masih primadona di bolmong, terutama di katakan di situ bahwa bolmong sebagai lumbung beras sulawesi utara, apa pendapat bapak mengenai pemanfaatan sumber daya ini?.

Hery Ayahnya Elya 07 Januari jam 8:01 
Utat Donal, sebenarnya dulu kami waktu masih di Jawa pernah membicarakan tentang bagaimana agar Pertanian di Bolmong bisa berkembang. Karena potensi pertanian di Bolmong sangat besar di banding daerah lain di Sulawesi Utara, maka dari pembicaraan itu kami memperoleh kesimpulan bahwa pertanian di bolmong harus di petakan, dalam artian setiap daerah harus ada tanaman unggulan dan itu tidak boleh dicampur adukan dengan tanaman lain yang tentunya harus ada binaan langsung dari Dinas terkait.

Saat ini kita masih terlalu mudah di bodohi oleh berbagai macam produk pertanian, misalnya kalau harga cengkih naik kita berbondong-bondong di suruh oleh produk pertanian menanam cengkih, kalau harga vanili naik kita berbondng-bondong membabat habis pohon cengkih diganti dengan vanili.

Nah ini yang menurut kami harus disudahi dengan cara memetakan wilayah pertanian. Lobong biarkan dia menanam nenas dan harus diusahakan oleh pemerintah agar memberi bibit nenas unggul dan juga harus menjembatani pemasaran produk pertanian tersebut, demikian juga Dumoga biarkan mereka bertani padi, dan juga daerah-daerah lain yang punya potensi tanaman/ternak, yang pada akhirnya semua tergantung dinas terkait yang memang ingin daerahnya maju.

Donald Qomaidiansyah Tungkagi 07 Januari jam 20:20
Sejauh ini adakah daerah di indonesia misalnya yang dapat kita jadikan sebagai percontohan untuk membentuk pemetaan pertanian ini pak?

Menurut bapak apa salah satu produk pertanian bolmong,yang dapat kita jadikan sebagai salah satu komoditi ekspor kita pak?

Hery Ayahnya Elya 07 Januari jam 21:46
Saya juga belum tahu pasti daerah mana yang bisa jadi daerah percontohan, dan itu pula yang membuat kami berpikir kenapa tidak dipetakan untuk komoditas pertanian di Bolmong. Memang daerah-daerah lain belum dapat dijadikan percontohan seperti Sukabumi, tapi mereka sudah mulai menerapkan di beberapa wilayah.

Daerah penghasil buah-buahan sudah terkonsentrasi di satu tempat, untuk daerah peternakan juga adanya di daerah pinggiran saja, dll. Misalnya juga daerah puncak Bogor yang kita kenal karena kebun tehnya, daerah pinggiran Bandung terkenal dengan daerah peternakan sapi perahnya, daerah Batu Malang terkenal dengan buah apel dan bunga-bunganya. Jadi sebenar-benarnya belum ada yang mempraktekan sepenuhnya teori sederhana tersebut.

Di Bolmong banyak komoditi yang bisa kita kembangkan sampai pasaran Eksport contoh beras. Kita banyak menghasilkan beras tapi pemasarannya cuma sampe Manado dan Gorontalo padahal kita punya daerah ekspor pelabuhan yang bisa dimanfaatkan, atau nenas yang sampai sekarang kita tidak punya teknologi tepat guna untuk mengolahnya sampai menjadi bahan jadi yang punya daya awet dan bisa di eksport, contoh lainnya sabut kelapa mungkin kita kurang informasi dari dinas terkait tapi kebutuhan di jawa saja untuk sabut kelapa ribuan ton, kenapa kita tidak memanfaatkan itu semua?. itu sebagian kecil dan kalo dinas terkait benar-benar mau membina masyarakatnya serta membuka jalan pemasarannya kita bisa lebih maju dan berkembang. Sayang kita tidak didukung instansi terkait, ditangan kalianlah semua bisa terwujud, salam tabi bo tanob

Donald Qomaidiansyah Tungkagi 08 Januari jam 12:46
Saya pernah mendengar bahwa saat ini didesa mopait terdapat perkebunan rakyat yang katanya sempat mengalahkan perkebunan di bandung. Bagaimana pendapat Bapak tentang pemanfaatan potensi ini??

Hery Ayahnya Elya 08 Januari jam 13:32
hehehehe…utat Donal, tanah kita subur lahan kita luas nah hal-hal seperti yang dilaksanakan para petani di Mopait yang patut di contoh, lahan tandus yang diolah sampe membuahkan hasil, pemanfaatan berbagai potensi tergantung juga dari masyarakat selain peran serta pihak instansi terkait

Donald Qomaidiansyah Tungkagi 08 Januari jam 16:33
Ketika program pemetaan ini dijalankan. Misalnya jika desa A khusus menanam cabai, desa B menanam jagung, desa C menanam kopi. jika kondisi saat ini cabai yang lagi naik (saat diskusi ini harga cabai melambung) dan kopi turun. Bagaimana cara untuk menghindari keinginan petani kopi dalam beralih ke bertanam cabai pak?

Hery Ayahnya Elya 08 Januari jam 21:08
Utat Donal, ketika berbicara teknis tentu sudah ada ahlinya, dalam hal ini saya cuma bisa menyampaikan pandangan umum tentang hal yang anda tanyakan bahwa tiap komoditi punya keunggulan masing-masing, pemetaan wilayah pertanian ini tidak hanya dilihat dari tanaman yang biasa di tanam oleh petani tapi sampai struktur tanah, drainase dl, itu harus dicermati terlebih dahulu.

Itulah makanya pemetaan wilayah pertanian akan punya nilai saing tinggi karena tiap wilayah memang punya keunggulan dalam hal struktur tanah dll, yang menunjang usaha pertanian masyarakat.

Petani cengkih belum tentu sejahtera jika menanam kopi, petani cabai belum tentu makmur jika menanam bawang, dst. Seperti dalam pemerintahan jika sarjana pertanian menjadi kepala dinas perhubungan. Semakin profesional para petani dengan tanaman unggulannya dengan dukungan penuh pemerintah maka kesejahteraan rakyat bukan cuma wacana tapi realita yang ada di depan mata kita. (***)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s