Lipuku

Menyonsong Perubahan Bolaang Mongondow Raya

Menggali Semangat Dalam Falsafa “Mototabian, Mototanoban, Bo Mototompiaan”
Oleh: Donald Qomaidiansyah Tungkagi

Tidak ada yang ada, yang ada itu ialah perubahan “panta rei”. (heraklitos)

Melihat bolaang mongondow (Bol-mong) saat ini, bukanlah sebuah guyonan semata jika isu perubahan harus digulirkan. Bol-mong sangat butuh perubahan, sebab hanya dengan perubahanlah bol-mong lebih mampu menatap masa depan. Namun, terlebih dahulu kita harus mengakui dengan jujur terutama pada diri kita mengenai segala kekurangan dan kelemahan kita, baik dalam wilaya politik, ekonomi, pendidikan, pelestarian budaya dan banyak lagi lainnya.

Lebih tepatnya kondisi bol-mong saat ini miskin infrastruktur dan supra struktur. Sehingga, dengan kita kita jujur dan sadar akan kelemahan ini, dapat melahirkan keresahan dan kesadaran yang menyebabkan menumbuhnya semangat melakukan perubahan di bumi bolaang mongondow.

Sampai saat ini, sangat disayangkan memang perubahan dibol-mong menjadi lebih baik belum tampak, dan ini yang menyebabkan kita jauh ketinggalan dari daerah lainnya. Selain itu, yang lebih disayangkan lagi justru perubahan kearah merosotnya nilai budaya yang justru lebih populer di daerah ini. Hal ini, dapat kita lihat dari sikap apatis (masa bodoh) yang sudah menjalar di masyarakat, seperti lahirnya ungkapan “tau dank” atau “kong dank kira-kira kita mo perduli”, yang semakin ngetop dan dianggap “gaul” oleh masyarakat terutama kalangan mudanya, dan dibiarkan saja oleh kalangan orang tua. Sadar atau tidak budaya baru inilah yang melahirkan sikap individualistis di masyarakat dengan tambahan ungkapan “sapa ngana sapa kita” atau “akuoi bi’ de’eman te mo iko”,kita kwa bukang ngoni.

Saya khawatir dengan semakin membudaya seperti ini, akan berdampak pada terkikisnya budaya saling menghormati dan mo o’aheran . Demikian juga karena sikap individualistis yang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada sesama (kolektif) akan mengikis budaya mododuluan dan moposad di bol-mong.

Padahal, secara budaya serta kultur etnik bol-mong ungkapan-ungkapan seperti yang tersebutkan sebelumnya, tidak perna dikenal, dan sama sekali tidak diwariskan oleh nenek moyang kita. Dan inilah salah satu sikap yang membuat pergeseran budaya di bol-mong, sehingga bolaang mongondow kehilangan jati dirinya.
Oleh karenanya, dalam tulisan ini saya akan memfokuskan pada pentingnya kembali pada nilai local bol-mong dalam menyonsong perubahannya. Jika, di Gorontalo dikenal falsafa “Adati HulohuloA Syara, Syara HulohuloA Qur’ani”, di Minahasa dikenal “Sitou Timou Tumou Tou”, maka di bolaang mongondow kita mempunyai falsafah yang agung dan syarat akan makna yakni, “Mototabian, Mototanoban, Bo Mototompiaan” . jika di perhatikan falsafa Bol-mong ini secara seksama, sekilas dapat dijadikan sebuah spirit dalam membentuk sebuah perubahan di tanah Totabuan ini.

RENUNGAN KERESAHAN DAN BERKACA PADA TETANGGA

Menyadari kondisi kekinian Bol-mong, mendorong saya untuk ikut menuliskan sebuah capaian keresahan dan sedikit tawaran yang terlintas dibenak, untuk kemudian dikritisi orang-orang di tanah kelahiranku ini. Dalam perenungan, di depan kos yang kecil di samping Universitas Negeri Gorontalo, ditemani senandung merdu dalam untaian bait-bait indah yang didendangkan Abang Hatam dan Ismet Mokoginta, memebuat saya menerawan jauh kembali melihat kampung halamanku. Dan sedikit membandingkan dengan Spirit Lokal yang digunakan Gorontalo dalam memajukan daerahnya yang kebetulan saat ini sebagai tempat menuntut ilmu saya. Selain itu juga, karena Gorontalo merupakan daerah tetangga Bol-mong, dimana secara tidak lansung ada sedikit keterkaitan dan kesamaan kultur antara kedua daerah ini. Misalnya, adanya andil besar Gorontalo dalam penyebaran Agama Islam di Bol-mong sehingga sampai saat ini masi kita rasakan mayoritas penduduk Bol-mong beragama Islam, disamping itu ada kesamaan antara cerita orang Bol-mong dan Gorontalo mengenai orang yang pertama mendiami daerahnya, di Bol-mong di kenal dengan Gumalangit (yang turun dari langit), di Gorontalo dikenal dengan Hulonthalangi memakai langit juga. Tentunya, untuk menganalisis itu, saya fikir kurang efektif dalam tulisan singkat ini, sebab saya butuh lebih banyak referensi dan tentunya dalam tulisan baru yang secara khusus membahas masalah ini.

Namun demikian, yang ingin saya bagikan kepada pembaca sekalian, ialah bagaimana kita dapat mengambil dan mencontohi penggunaan spirit perubahan yang berorientasi pada kearifan local yang menjadikan Gorontalo mampu berdiri secara mandiri sat ini. Salah satunya ialah, dengan mereka mengambil kekuatan dari falsafa mereka yakni “Adati hulohuoA Syara, Syara HulohuloA Qur’ani” artinya adat bersendikan syariat, syariat bersendikan Al-quran. Dengan falsafa ini Gorontalo mampu mengharmonikan antara Adat dan syariat (aturan) yang bertumpu pada Al-quran, hal ini juga didukung oleh kondisi social penduduknya yang mayoritas beragama Islam. Semangat local yang bernuansa keagamaan inilah yang menjadi pendorong gorontalo semakin melangka jauh menyonsong kemajuan, dan spirit ini juga yang melahirkan ungakapan gorontalo sebagai Serambi Madina, adanya Kota Gorontalo sebagai Kota Madrasah, Kabupaten Boalemo Bestasbih, dll.

Nah, bagaimana dengan Bol-mong?, tentunya melihat kondisi social masyarakat kita yang begitu plural tentunya kita tidak harus mengikuti perubahan sampai harus bernuansa keagamaan, seperti di Gorontalo, namun kita tinggal menggali kembali apa yang sudah menajdi rumusan dari para nenek moyang kita yang terbukti dapat berjalan seiringan dengan zaman. Dalam tulisan ini , saya coba untuk menuangkan sebuah renungan mengenai falsafa Bol-mong, “Mototabian, Mototanoban, Bo Mototompiaan” (saling mengasihi, saling mengingatkan dan saling memperbaiki). Dimana dari falsafa ini terkandung makna yang sangat dalam, yang saya harapkan dapat melahirkan sebuah energy yang dapat mendorong sebuah perubahan yang lebih baik di Bol-mong.

MENGGALI MUTIARA TERPENDAM DALAM FALSAFA BOLAANG MONGONDOW

Sampai saat ini, saya belum menemukan sumber sacara pasti mengenai asal usul lahirnya falsafa budaya ini, dan mengapa di pakai kata “Mototabian, Mototanoban, Bo Mototompiaan”. Namun, tanpa bermaksud untuk mengesampingkan hal tersebut, sebab itu tetap menjadi sebuah PR bagi saya pribadi. Terlepas dari itu semua, falsafa tersebut sangat lama melekat di sanubari masyarakat Bol-mong, dan ketika ditanyakan pada masyarakat apa falsafa Bol-mong maka mereka akan menjawab ini. Hanya saja, saat ini sebagian besar besar masyarakat baru mampu memahami falsafa ini sebatas kulitnya semata, atau dalam kata lain baru sebatas ungkapan semata dan masi jauh dari pemaknaan dan penghayatan. Sehingga, falsafa ini belum menyentuh isinya secara substansi, dan sulit untuk diaplikasikan secara nyata dalam bentuk sikap dan pandangan hidup masyarakat Bolaang Mongondow secara umum. Dari falsafa ini, saya mencoba untuk memberikan beberapa makna hasil kerutan fikiran saya. Diantaranya adalah:

Moto totabian
Pada kalimat ini, bermakna saling menyayangi, saling mengasihi, dan saling mencintai. Dari makna itu, dimana kata dasarnya adalah saying, kasih dan cinta, dapat dijadikan kekuatan mendorong perubahan. Kita ketahui bersama, bahwa segala sesuatu didunia ini tak akan pernah lepas dari yang namanya, cinta, kasih, dan saying. Bahkan kita hadir di dunia ini juga karena atas dasar ketiga kata itu, demikian juga dalam mewujudkan perubahan di Bol-mong menjadi lebih baik, itu hanya akan terwujud jika benar-benar dilandasi Saling mengasihi, saling menyayangi dan saling mencintai (Mototabian), baik antara sesama masyarakat, masyarakat dan pemerintah, demikian juga kecintaan pemeritah dan masyarakat terhadap tanah Bolaang Mongondow sendiri.

Hemat saya, sejarah lahirnya sumpah (perjanjian) Paloko Kinalang yang dengan itu merupakan awal dari masa keemasan Kerajaan Bolaang Mongondow pada masa itu, juga didasari atas kecintaan rakyat (Paloko) kepada pemerintah (Kinalang), begitu juga sebaliknya cinta pemerintah terhadap rakyat, sehingga melahirkan keharmonisan dan keseimbangan pemerintah menimbulkan sikap kepercayaan besar rakyat kepada pemerintah terhadap rakyat, melahirkan sikap yang amanah bagi pemrintah pada waktu itu. Sehingga apa yang menajdi sumpah (perjanjian) Paloko Kinalang yakni “Untuai Akuoi Sin Ba Bibitonku Mo Iko” artinya junjung aku (Kinalang), sehingga akan ku angkat kalian (Paloko), ini benar-benar mampu dijadikan semangat dan mampu direalisasikan dalam pemerintahan pada waktu itu.
Coba bayangkan, apa jadinya jika Bol-mong dipimpin oleh orang yang tidak bersikap “mototobian” lagi, atau masyarakat dan pemerintahnya sudah tidak saling mengasihi lagi?. Menurut saya, kondisi Bol-mong saat ini, akibat dari kurangnya sikap “mototabian” tersebut.

Moto totanoban
Setelah mengasihi dalam sikap (Moto totabian) kita beralih ke “Moto totanoban”, kalimat yang bermakna kurang lebih, saling mengingatkan atau saling merindukan, ini menurut saya merupakan kalimat yang sangat berharga. Mengapa bisa?, karena penting “moto totabian” selanjutnya ketika sudah dihayati dengan baik, kemudian dengan adanya “moto totanoban” dengan sikap saling mengingatkan dan saling merindukan. Tentunya, ini hanya akan benar-benar dirasakan jika telah terlebih dahulu menumbuhkan sikap persaudaraan, sebab tanpa sikap ini akan sulit rasanya untuk mengaplikasikan “moto totabian” dan “moto totanoban” ini. Hanya dengan sikap saling mengasihi “moto totabian” dalam mental persaudaraan pulalah, sehingga akan terjalin yang namanya saling mengingatkan, dan merindukan “moto totanoban” dalam menggapai perubahan.

Analoginya, hanya seorang saudara yang baiklah yang tidak akan membiarkan saudaranya yang lain tetap berada di jalan yang salah, sehingga aka nada selalu saling mengingatkan dan hanya saudara yang saling mengasihi dan menyayangilah yang akan merasakan sikap saling merindukan.

Oleh karenanya, penting rasanya untuk bersikap Moto Totanoban ini sebagai sebuah semangat dan energy perubahan kearah yang lebih baik. Bukankah, di dalam Al-qur’an surat Al-maidah ayat 2, dimana dikatakan “Wataawanu Alal Birri Wa Taqwa, Wala Taawanu Alal Izmi Wal Udwan” artinya dan saling tolong menolonglah (mengingatkan) kamu dalam kebaikan dan taqwa, dan jangan kamu saling tolong menolong (mengingatkan) dalam kemungkaran.

Moto tompiaan
Adanya sikap moto totabian, moto totanoban, maka akan terasa lengkap jika itu disertai degan sikap saling memperbaiki “Moto tompiaan”. Menurut saya, moto totabian, moto totanoban tidak akan terlalu menjadi sesuatu yang berarti apa-apa jika tidak adanya keinginan untuk saling memperbaiki (Moto tompiaan), karena hanya dengan memperbaikilah perubahan yang dicita-citakan akan tercapai. Ibaratnya bangunan yang telah rusak, jika ingin bangunan tersebut mengalami perubahan menjadi lebih baik maka harus diperbaiki (tompiaan) bahkan kalau perlu di rekonstruksi. Begitu juga dengan bolaang mongondow, dengan kondisinya saat ini, maka diperlukan sebuah perubahan kearah yang lebih baik, dan itu tentunya harus diperbaiki. Dalam hal ini tentu harus didasari sikap moto tompian dalam masayarakatnya dan pemerintahnya.

Meungkin benar adagium yang mengatakan bahwa, perubahan itu tidak menjamin sesuatu yang berubah itu menjadi lebih baik. Namun demikian jika ingin menjadi lebih baik maka sesuatu itu harus mengalami perubahan terlebih dahulu. Hal tersebutlah yang menurut penulis perlu adanya perubahan di Bolaang Mongondow. salah satunya ialah dengan kembali melaksanakan apa yang terkadung dalam falsafa Bolaang Mongondow. karena dengan itu kita akan kembali pada jatih diri kita yang sebenarnya, dan tidak kehilangan kearifan-kearifan lokal yang telah diturunkan para pendahulu yang sebenarnya lebih mengetahui kondisi serta seluk beluk daerah ini. Heraklitos salah satu filsuf yunani pernah berkata bahwa tidak ada yang ada, yang ada itu ialah perubahan “panta rei”.

Sedikit buah renungan yang saya tuliskan ini, bukanlah merupakan hal mutlak namun sengaja dihadirkan, sebagai sebuah sumbangan kecil kepedulian terhadap Bolaang Mongondow yang saya sangat cintai, rindukan dan dengan itu melahirkan keinginan untuk memperbaiki sehingga terjadi sebuah perubahan. Dan selanjutnya untuk dikritisi dan dirinci dengan bantuan disiplin keilmuan para pembaca. Dan juga, melihat tidak sedikit persoalan dimasyarakat kita yang perlu diangkat ke permukaan dan kemudian di bahas dan dicarikan solusinya bersama.

Akhirnya, dengan nilai-nilai kearifan local yang justru hidup dan mampu mengharmonikan kosmologi kehidupan manusia Bolaang Mongondow: karena telah teruji lewat proses berabad-abad. Kita dapat memaksimalkan potensi nilai tersebut, diantaranya dengan memahami sejarah, budaya, tradisi local, yang tercantum dalam falsafa Mototabian, Mototanoban, Bo Mototompiaan, benar-benar kita hayati dan pahami serta dapat mengambil itu sebagai semangat dan energy yang digunakan demi mendorong perubahan di Bolaang Mongondow.

Gorontalo, 22 April 2011, Pukul: 18:20
Diselesaikan pengetikannya di Studio Radio SBCfm Gorontalo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s