Pendidikan

Kearifan Lokal dan Pendidikan: Proyeksi Membangun Daerah

Diskusi dengan RIDWAN LASABUDA

TERLINTAS keinginan untuk menambah pengetahuan tentang Bolaang Mongondow terkini, tentunya hal ini membutuhkan orang-orang yang memang mampu untuk menjelaskan dan memberikan solusi tentang kondisi itu, hanya saja cukup banyak keterbatasan baik dari sisi jarak dan waktu.

Saya mencoba untuk memutar otak, mencarikan solusi bagaimana mengantisipasi Keterbatasan jarak dan waktu tersebut. Maka lahirlah, ide berdiskusi dengan memanfaatkan kecanggihan tehnologi saat ini. Salah satunya dengan memanfaatkan diskusi lewat pesan pada salah satu situs jejaring social Facebook.

Tepat pada selasa 4 januari 2011, saya mulai mencari dan mengirimkan pertayaan kepada beberapa orang dari berbagai profesi lewat pesan FB. Diskusi yang kali Ini dengan Pak RIDWAN LASABUDA, dimana beliau salah satu dosen di kampus, STIE Widia Darma Kotamobagu, juga salah satu Doktor yang dimiliki Bolaang Mongondow. Dalam diskusi singkat kali ini, yang dibahas lebih pada seputar pentingnya pemahaman kearifan dan sejarah local Bolaang Mongondow, serta kondisi pendidikannya saat ini.

Sebenarnya masih ada beberapa perntanyaan yang belum sempat di jawab oleh Pak Ridwan dalam diskusi kali ini, karna rasa keingintahuan saya yang memang bisa dikatakan cukup besar, sehingga pertanyaan saya sedikit melenceng dengan topik awal yang menjadi pertanyaan. Sehingga tepatlah jika Pak Ridwan tidak menjawabnya, apalagi hanya via Facebook selain itu saya dengan Pak Ridwan juga belum pernah bertatap muka.

Disamping itu, dalam diskusi ini saya mencoba mengedit beberapa pertanyaan yang masih rancu pemakaian kalimatnya, demikian juga dengan jawaban dari Pak Ridwan, yang walaupun sebenarnya proses editing saya hanya seputar melengkapi kata – kata yang disingkat, serta mengurangkan tanda baca dan memakaikan tanda baca, hehehe.

Agar lebih lengkapnya seputar perjalanan diskusi ini, saya tetap mencantumkan pertanyaan yang belum dijawab tersebut, mudah-mudahan dengan adanya pertayaan itu, ada salah satu diantara pembaca yang berkeinginan untuk menjawabnya. Selamat Membaca.Keterangan: Pak RIDWAN LASABUDA (RL), Donald Q Tungkagi (DQ)

DQ: Melihat kondisi bolaang mongondow saat ini, menurut bapak hal apa yang paling mendasar yang mesti diperbaiki?. Apakah dengan adanya pemimpin yang memahami kearifan lokal, dapat menjadi suatu kekuatan dalam memajukan Bolmong?

RL: Iya , pemimpin lokal harus berdasarkan, “Adat Bersendikan Syara’ Dan Syara’ Bersendikan Kitabullah”. Dimana adat harus di junjung tinggi, sepanjang tidak bertentangan dengan agama (Islam :pen). Pemimpin Bolmong yang ada sekarang, sebagian besar sudah meninggalkan hal tersebut. Kalau toh, meskipun dia memahami adat, namun pemahamannya hanya sebatas yang bersifat seremonial, misalnya : upacara – upacara adat, perkawinan, kematian, menyambut tamu, dll. Padahal, pada dasarnya adat minimalnya harus mempunyai 3 fungsi bagi masyarakat adat itu sendiri. Diantaranya: fungsi Edukasi, fungsi Inovasi dan fungsi Proteksi, memang hal ini tidaklah mudah dan perlu adanya pemahaman yang mendalam tentang adat itu sendiri, hehehe.
Sebagai contoh, dengan motto Bolmong Mototompiaan, Mototabian bo Mototanoban, hal ini akan tercapai sesuai harapan apabila telah ada “pra kondisinya” seperti IPM masyarakat sudah ada perbaikan, akan tetapi selama kondisi masyarakat Bolmong masih lemah (contoh : Indeks Pembangunan Manusia nya, terendah se Sulut,.misalnya : di Bolsel, rata-rata lama sekolah hanya 6,05 tahun,.artinya hanya lulus SD)…bagaimana mungkin masyarakat dengan kondisi seperti ini mau dianjurkan baku-baku bae, baku-baku sayang dan baku-baku inga, hahaha. Padahal yang mereka perlukan adalah bagaimana supaya mereka dapat keluar dari kemiskinan struktutal tersebut.
Filosofi Bolmong ini,.menurut saya justru melemahkan masyarakat Bolmong itu sendiri, dengan kondisi carut-marut seperti saat ini, masyarakatnya koq disuruh bersabar, apalagi melihat kondisi “pemimpinnya saat ini”, masa kita disuruh mo oaheran, bo bobangkalan, hehehe.
Oleh karenanya saya menawarkan moto baru : mo olut in singkod, mo olut in sigogow (kalau tumit nya basah, pasti lehernya akan basah juga). Maksudnya, siapa yang mau bekerja keras, pasti akan dapat makan (hidup).
Selain itu, pemahaman dan penjabaran keberagamaan dalam hal ini Islam di Bolmong, jauh panggang dari api, mereka hanya Islam (beragama) secara simbol, bukan Islam aplikatif, hehe. Padahal banyak ajaran – ajaran Islam, yang bisa menjadikan kita maju dan berkembang. Lihat saja, keberhasilan Malaysia saat ini adalah menjadikan Islam sebagai landasan dalam berbangsa dan bernegaranya, mereka mencari semua nilai – nilai positif Islam, di inventarisir kemudian dipraktekkan, mungkin ini juga juga sebabnya Timnas kalah sama Tim Malaysia, hahaha. Mereka mempunyai Tauhid yg ingin diperjuangkan, sehingga kelihatannya mereka “sangat percaya diri”.
Sebagai seorang pendidik, memang saya tidak memulai perubahan secara sporadis (politis;pen). Tapi saya mulai dari mahasiswa-mahasiswa saya di STIE Widya Darma Kotamobagu. saya pelan-pelan merobah ‘mindset’ nya. Sebelum saya ke Bogor melanjutkan studi S3 tahun 2003, saya sering terlibat politik praktis (misalnya melalui tulisan-tulisan di koran), bahkan sampai berhadap-hadapan dengan penguasa. Akan tetapi, hal tersebut menurut saya kurang efektif, kalau toh berhasil sifatnya jangka pendek. Malah kita jadi banyak musuhnya..hehehe.. Padahal harapan kita Bolmong itu harus maju secara bergandengan tangan, bukan dengan “pergiliran rezim” yang berkuasa..hehe.
RL: Donald,.aktif dimana skarang ?.
DQ: Status saya saat ini masih mahasiswa UNG Pak, jurusan Pendidikan Matematika yang senang dengan sejarah bolmong, hehehe.
DQ: Melihat apa yang bapak sampaikan, mengenai pemimpin harus berdasar pada adat bersendikan syara dan syara bersendikan kitabullah, bukankah jika kita mengunakan falsafa ini akan menambah daftar panjang perdebatan mengenai kepemilikan falsafa ini?. saat ini sudah digunakan di minangkabau, banten dan gorontalo (Adati Hulohuloa Syari, Syari Hulohuloa Qurani). Ada tidak pak falsafa yang sudah ada di bolaang mongondow yang dapat memperkuat kembali hukum adat tanpa mengesampingkan hukum agama?
RL: Yang saya maksudkan bukan “siapa pemilik falsafah” tersebut, tapi substansi dari falsafahnya. Semua etnis di Indonesia (yang mayoritas muslim), pasti sama falsafahnya, cuman kemasannya berbeda. Kalau falsafah Bolmong, yang bisa digunakan “pemimpinnya” untuk mensejahterakan rakyatnya adalah apa yang telah disepakati dalam dodandian paloko bo kinalang. Obagaai in akuoi babibiton ku in iko (Kinalang), O,o.kuntungon nami yo bibitonmu in kami (Paloko), yg diikuti oleh odi-odi bo itu-itum, sebagai pengikat kedua belah pihak. Sehingga terjadilah kontrak social. Relasi-relasi ini mengokohkan rasa solidaritas antara pemimpin dan rakyat Bolmong. Pemimpin (baca:raja) Bolmong dahulu disebut “Tule Molantud” arti harafiahnya Teman, tapi mempunyai keunggulan (intelektual, keberanian, kejujuran).
Artinya seorang Tule Molantud, harus menjadi pengayom bagi rakyatnya, bukan menjadi penguasa. Secara moral, seorang ‘Tule Molantud’,.tidak hanya mementingkan keluarganya, berlaku adil, tidak korup, egois, serakah, apalagi menindas rakyat…hehe.
DQ: Sebagai tenaga pendidik, bagaimana bapak melihat kondisi pendidikan di bolmong saat ini?. Ini dalam rangkah menyonsong bolmong maju yang akan datang (misalnya dalam skala provinsi) sehingga dapat bersaing dengan daerah tentangga.
RL: Kondisi Pendidikan di Bolmong Raya, sangat memprihatikan,.dari 15 Kab/Kota se Sulut, IPM nya yang meliputi Pendidikan, Kesehatan dan Pendapatan merupakan yang terendah (Bolsel No.15, Boltim No.14, Bolmut No.13, Bolmong Induk No.11, sedangkan Kota Kotamobagu No,7, msh dibawah Kab.Sangihe). Ke depan, kelima daerah ini harus punya Grand Design untuk meningkatkan IPM nya (untuk menuju Provinsi). Kita harus menggunakan konsep sinergisitas “ABG” (Academition, Bussinesman and Government). Harus ada kerjasama antara Akademisi, Pengusaha dan Pemerintah,.tidak bisa sendiri-sendiri.
Persoalannya, apakah pemimpin-pemimpin di Bolmong paham tentang masalah ini?, hehehe….tapi kita tetap harus optimis,.semua pasti bisa. Insya Allah.
DQ: hehehe. Betul juga pak. Dengan melihat sumpah paloko kinalang diatas, saya melihat ternyata ada siinergitas dan pemberian kepercayaan sepenuhnya dari rakyat (paloko) kepada pemerintah (kinalang), yang tentunya kinalang juga mempergunakan amanah rakyat tersebut dengan sebaik-baiknya. Mungkin juga karena ada hukum adat dan itum-itum yang sangat keras sehingga membuat kinalang tidak menyepelehkan itu semua. Untuk membentuk lagi kepercyaan masyarakat terhadap pemerintah, dalam memajuhkan bolmong. dengan cara mengunakan kembali sumpah paloko kinalang beserta itum-itumnya, dalam setiap pelantikan pemerintah daerah bolmong, apakah masih relevan pak?. Bagaimana dengan kekuatan itum-itum saat ini menurut bapak?.
(Pada diskusi di kampus, saya sering mendengar bahwa kemajuan suatu daerah salah satunya adalah dilihat dari sektor pendidikannya, terutama kemajuan kampus atau universitasnya. Karena kampus penghasil Iron Stok (pelanjut generasi), dengan modal kewajiban sosial of countrol (control social) dan agen of change (pelopor perubahan). nah dengan melihat ini, apa kesan bapak tentang perkmbangan kampus-kampus di bolmong saat ini?. Dapatkah kita memberikan SDM untuk bekerja pada instansi-instansi ketika nanti provinsi benar-benar terwujud. Apakah harus menarik (misalnya) guru-guru untuk menjadi pegawai pada instansi tersebut ataukah kita harus mengimpor SDM dari luar?)
RL: hehehe. Tergantung siapa yang menyumpah, dan siapa yang disumpah, secara simbolis mungkin bisa, tapi masyarakat Bolmong saat ini yang sudah beragama (mayoritas Islam). Tentu gunakan Al Quran Zaman dahulu, yang mengangkat/menyumpah raja adalah “Sadaha Tompunuon” (Ketua Dewan Musyawarah Rakyat = DPRD, Pemegang Hukum Adat yang dihafal, merangkap Perdana Menteri ). Makanya raja-raja dahulu ada yang menjadi gila, mati sebelum disumpah, ataupun menjadi buta, hehe. Tapi apakah ini ada hubungannya dengan menyalahi odi-odi bo itu-itum? wallahualam.. Kebetulan, Sadaha Tompunuon terakhir kerajaan Bolaang Mongondow (jabatan ini dibubarkan tahun 1906) adalah kakek buyut saya, namanya Sunge Lasabuda, beliau yang menyumpah Raja DC Manoppo (1901-1928).
DQ: Apa benar bahwa yang menajadi sadaha tompunuon itu harus keturunan dari bogani amalie dan inalie, yang merawat mokodoludud? jika benar sebabnya kenapa pak?. Apakah hukum adat dahulu seperti undang-undang saat ini?. Bisa tidak pak hukum adat yang masih ada sekarang itu dibukukan?.
RL: Seperti itulah yang ditulis oleh N.P. WILKEN dan J.A. SCHWARZ tentang Sadaha Tompunuon. Interpretasi saya, karena Inalie dan Amalie yang merawat/mendidik Mokodoludut, maka Inalie dan Amalie lah yang menjadi patron bagi Mokodoludut dalam menjalankan pemerintahannya. Setelah dilembagakan menjadi Sadaha Tompunon, maka lembaga inilah yang menjadi acuan setiap raja yang memerintah, karena sadaha lah, yang mengerti dan memahami hukum adat Bolmong (kebetulan mereka-mereka adalah orang-orang yang kuat hafalannya). Kerajaan Bolmong hanya mempunyai tradisi lisan, tidak ada tulisan. Jadi sejarah/hukum-hukum adatnya hanya dihafal, dan hanya orang-orang tertentu yg menghafalnya. Nanti pendatang-pendatang asing yang mulai menulisnya, seperti Dunnebier, G.Molsbergen, dll. Hukum adat Bolmong, bisa dibukukan, selama masih ada sumber-sumbernya yang relevan.

DQ: Dalam sejarah meskipun raja bolmong pada zaman cornelis manoppo sudah memeluk agama non muslim, tetapi rakyat bolmong tidak mengikuti agama raja tersebut padahal sebelumnya sempat saya membaca, bahwa ada ungkapan agama raja adalah agama rakyat (ini terlihat ketika pertama kali raja memeluk Islam, rakyat juga berbondong-bondong secara suka rela memeluk Islam), sampai saat ini mayoritas masyarakat bolmong pemeluk agama Islam, bukankah (kemungkinan) ada penentangan dari rakyat pada masa itu terhadap raja, bagaimana pendapat bapak?.Rakyat Bolmong dulu membenci bangsa asing (Belanda), dengan dalih tersebut (bisa jadi) otomatis Dunnebier kesulitan menyebarkan agama yang dibawahnya, kerena kesulitan berinteraksi dengan masyarakat (buktinya masih sebagian besar masyarakat Bolmong Islam).

Selain itu juga (pandangan saya) ketika dunnebier menulis pasti susah untuk mengumpulkan data (misalnya) berdasarkan wawancara dengan masyarakat setempat. Jika seandainya demikian, berarti sebagian besar analisis Dunnebier dalam menuliskan tentang bolmong hanya berdasarkan pada apa yang ia lihat. Bisa jadi sejarah itu belum cukup relevan dengan kondisi bolmong pada waktu itu. nah bagaimana tanggapan bapak mengenai itu? selanjutnya meminjam pendapat fazlurrahman bahwa bangsa asing (orientalis), pasti mempunyai kepentingan terhadap apa yang ia tulis, mengenai sejarah bangsa lain.Misalnya saya pernah mendengar bahwa dunnebier menganggap masyarakat bolmong sebagai pemberontak, itu karena mereka melakukan perlawanan terhadap belanda, padahal sebenarya perlawanan terhadap penjajahan bukanlah sebuah bentuk pemberontakan melainkan pembelaan terhadap bangsa sendiri..
(Terputus…….!!!!!!!)Sekian…………bisa jadi bersambung….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s