Sosial & Budaya

Semangat yang Terpendam

 

Beberapa point di tentang pembentukan Provinsi Gorontalo yang diposting di grup Pustaka Bolmong. Tidak jauh berbeda dengan apa yg ditulis oleh Alim S Niode dan Elnino M Husain Mohi, dlm buku “Abad Besar Gorontalo” yang pernah saya baca.. hanya saja di buku tersebut ketambhan satu point yakni adanya keinginan penguatan Identitas Suku dan Kemandirian Suku. meskipun demikian setelah terbentuknya Provinsi mereka tetap menekankan toleransi. buktinya pemimpin Gorontalo, mulai dari thursandi alwi dan Fadel Muhammad tidk murni berdarah gorontalo.

Nah, jika Bolmong ingin menjadi Provinsi, sebenarnya kita dapat belajar dari perjuangan Gorontalo menuju provinsi tersebut. Tidak harus sama, minimal kita dapat belajar dari upaya dan kuatnya keinginan mereka untuk bisa mandiri. Tidak ada salahnya kan. Bolaang Mongondow dan Gorontalo dari dulu banyak kesamaannya. Meskipun tidak sedikit juga terdepat perbedaan. Adapun kesamaan itu terdapat misalnya dapat kita lihat dari ad kemiripan pakaian adat, puade,alat musik dll. Selain itu sampai saat ini tradisi Bolaang Mongondow yg dipengaruhi Gorontalo dapat kita nlihat dari “TUNTUL” yang di gorontalo di kenal dengan “TUMBILOTOHE”. saya amat yakin ini dipengaruhi Gorontalo yang datang bersamaan dengan ketika tim 9 datang menyebarkan agama islam di Bolaang mongondow.

Dalam sebuah syair lagu “Bogat Toigu Yondog in Kuyatnya” , orang yg sudah pernah merasakan nikmatnya nasi jagung dgn lauknya Yondog, pasti mengerti maksud saya ini. Bukan berarti kita harus gabung dengan Gorontalo. Tidak demikian. Buktinya sebelum Gorontalo menjadi provinsi, Bolaang Mongondow pernah diajak untuk bergabung, pada waktu itu dengan isunya Provinsi Tomini Raya. Namun ditolak, karena Bolaang Mongondow dengan penuh keyakinan suatu saat nanti pasti akan menjadi provinsi. Tapi kalau kita mencontohi Kemajuan Gorontalo, tidak akan mengurangi harkat dan Martabat Bolaang Mongondow. Dalam sebuah diskusi dengan Anuar Totabuan Syukur, ada yang menarik yang sempat di lontarkan. Yakni kalau kita kritis terhadap sejarah, Bolaang Mongondow itu sebenarnya mulai mengalami kemunduran ketika raja kepincut Pingkan Matinda (Minahasa) saat ekspansi Bolmong sampai Minahasa dan mulai menampakkan kemajuan ketika raja menikah dengan putri Kilingo (Gorontalo) saat penyebaran agama islam.  (mohon diperbaiki jika keliru)

Selain itu kita sebenarnya punya sejarah yang bisa kita ambil semangatnya, atau bisa kita ulang kembali, tentunya sesuai dengan konteks yang ada saat ini. Bukankah, dulu selain perjuangan pendahulu kita untuk membubarkan Dewan raja-raja yg tidak sesuai dengn demokrasi Indonesia, salah satu  tuntutannya menjadi juga daerah otonom yang terpisah dari sulawesi utara yang pada waktu itu berpusat di Gorontalo. yang dengan perjuangan yang gigih yang didalangi oleh Komite Nasional Indonesia akhirnya itu terwujud. Sebelum itu bolaang Mongondow juga punya GAPRIBOM (Gerakan Perjuangan Republik Indonesia Bolaang Mongondow) yang merangkul semua organisasi politik pada waktu itu, seperti BNI, GIM, PSII, dan Muhammadiyah, yang melahirkan KNI.  Pada tahun 1950 kita sudah punya pemerintahan harian pasca pembubaran swapraja. Nanti pada 1954 setelah adanya SK baru kita menjadi daerah otonom.

Semangat itulah yang harus kita bangkitkan saat ini. Adanya Moratorium presiden dapat kita jadikan sebagai sebuah ujian untuk kita menjadi lebih gigih dalm memperjuangkan cita-cita menjadi provinsi. Nah, tinggal bagaimana menyatuhkan suara tersebut. Saya berfikir jika dulu oraganisasi politik, organisasi masyarakat, dapat bergabung dalam satu wadah yakni GAPRIBOM untuk menyatuhkan suara, sehingga terbentuk KNI, saat ini organisasi-organsasi yang sama2 berjuang untuk provinsi tersebut juga seharusnya dapat menyatuh dalam sebuah organisasi yang lebih besar untuk menampung aspirasi yang lebih besar juga, setingkat GAPRIBOM misalnya. Sudah saatnya mungkin untuk meninggalkan ego kelompok, dan seharusnya sudh diganti dengan lebih mementingkan rakyat  Bolmong. Kalau dulu ada Raja H.J.C Manoppo yang mampu legowo untuk turun, ada  Zakaria Imban, FP Mokondompit, Johan Pontoh, AC Manoppo,dkk, sebagai dalang terbentuknya KNI. Kita juga butuh orang-orang seperti itu saat ini. Tentu dengan format baru. Adakah? Mudah-mudahan ada.

One thought on “Semangat yang Terpendam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s