Pendidikan

Mengapa Harus Setia?

FROM BANDUNG WITH LOVE. Sebuah film karya Henry Adianto ini, menurut aku cukup menggambarkan arti pentingnya kesetiaan terhadap pasangan. Memang tidak mudah untuk menjaga kesetiaan itu. Setelah menonton film ini, aku baru menyadari akan hal itu.

Seorang Vega sebagai tokoh utama dalam film ini, yang kesehariannya sebagai mahasiswa sekaligus penyiar radio yang program acaranya membahas tentang permasalahan cinta, seperti kesetiaan, hubungan dengan mantan pacar, perselingkuhan, dll. Ternyata tidak juga mampu untuk menjaga hubungannya dengan pasangan. Ia akhirnya terjebak dalam cinta si playboy Rian teman sekantornya yang berprofesi sebagai kreatif director. Yang sebenarnya ia sudah punya pacar, Dion namanya.

Mengapa ini sampai terjadi? Aku cenderung menangkap, Vega sepertinya terjebak dalam kebosanan hubungannya dengan si Dion pacarnya, yang hampir dikatakan jarang terlibat masalah. Dion tak seromantis Rian. Bahkan sikap Dion tidak semanis Rian. Bahkan Dion tidak pintar memuji dan merayu seperti Rian. Parahnya semua sikap itu secara tidak sadar sangat di dambahkan wanita pada umumnya.

Vega juga sering menjadi tempat curhat teman-tamannya yang terlibat masalah cinta. Bisa dikatakan Vega merupakan sosok ideal sebagai pemberi masukkan yang paling dicari untuk teman seumurannya. Orangnya dewasa, pendengar yang baik, serta mampu memberikan solusi yang jitu. Lebih dari itu, kebanyakan solusi dari permasalahan teman-temannya, justru ia dapatkan dari risetnya, dan tidak lupa ia catat.

Dalam risetnya tentang kesetiaan. Berikut beberapa kutipan yang menjadi pertanyaan Vega tentang kesetiaan:

KESETIAAN. Katanya sih, paling penting dalam setiap hubungan.
Seberapa banyak, manusia yang bisa bertahan setia?
Apa sih alasan manusia, ketika akhirnya ia menjadi tidak setia?
Mungkinkah manusia bisa hidup setia sama satu pasangan? 
Sampai akhir hidupnya? 

Awalnya sih, Vega sebenarnya seperti biasa sedang riset tentang topic sebelum ia siaran radio. Saat itu dia sedang riset tentang perlakuan orang yang tidak setia. Kebetulan Rian yang terkenal playboy satu proyek dengan dia, yakni proyek iklan sebuah produk. Karena mengetahui Rian sebagai seorang playboy dari temannya sekantor yang juga pernah menjadi korbannya Rian, Vega-pun menjadikan Rian sebagai risetnya. Apapun perlakuan rian kepadanya, baik perlakuan lembut dan manis, ia biarkan saja tanpa menolak. Ini agar ia bisa menuliskan perlakuan bagaimana seseorang bisa tidak setia.

Dalam perjalanannya, ia kemudian mencoba membandingkan perlakuan Rian terhadapnya dengan perlakuan Dion pacarnya. Vega melihat banyak perbedaan. Banyak hal yang dimiliki Rian yang tidak Vega dapatkan saat bersama Dion. Bahkan dalam hal yang terkecilpun, seperti menyuap makanan. Ia memandang Rian lebih romantis dibanding Dion. Bahkan ketika ia berdebat dengan bos-nya, Dion justru mendukung bos-nya itu, sedangkan Rian justru membelanya. Seperti biasa dengan senyuman yang penuh simpati.

Dan saat presentasi iklan mereka diterimah oleh bosnya, yang notabene sebagian besar adalah idenya Rian. Ia justru mendapatkan pujian dan ucapan selamat dari Rian. Apa yang ia rasakan saat itu menambah daftar catatannya tentang kecenderungan orang untuk tidak setia. Berikut catatan Vega ketika mendapatkan perlakuan itu:

Memperlakukan lawan jenis yang bukan pasangannya dengan manis, bisa jadi awal ketidak setiaan.  Ketika si lawan jenis mulai luluh hatinya biasanya akan keluar perkataan, “loe mensalah artikan kebaikan gue”.

Dari hasil mendengar cerita sedih teman-temannya. Hingga perlakuan Rian kepadanya di kantor, Vega sempat berkesimpulan bahwa, cowoklah yang paling gampang selingkuh. Dia kelihatannya sangat bersikukuh dengan keputusannya tersebut.

Eeits. Hampir lupa. Aku belum menguraikan tentang karakter Dion. Kalau diperhatikan dari perannya, Dion itu termasuk tipe cowok yang baik, perhatian, penurut, suka mengalah, tenang, kalem, sabar. Intinya berbeda 180 derajat dengan Rian, yang cenderung agresif.

Kalau Anda yang sudah pernah menonton film ini, pastinya setuju dengan pendapat aku, kalau Dion itu sebenarnya termasuk tipe cowok idaman yang perfect bagi wanita. Sebelas dua belas sama akulah. Hehe

Seiring berjalannya waktu. Dion mulai curiga terhadap perubahan Vega. Tidak hanya Dion, melainkan ibunya Vega juga sempat curiga. Hingga sang ibu berpesan kepada Vega, sebagaimana yang aku kutipkan untuk anda pembaca.

Ve, semua kecurigaan itu pasti ada alasannya. Bahkan untuk sesuatu yang belum terjadi.

Pergulatan batinpun harus di hadapi Vega, sebagai konsekuensi dari jalan yang dia ambil. Ia pun kini lebih jauh melangkah dan itu justru menjadi boomerang baginya. Semakin hari, pergolakan batinnya semakin membunca, disatu sisi Rian setiap hari selalu mengodanya, disisi lain dia masih mempunyai Dion yang selalu setia kepadanya. Selalu memberikan perhatian dengan cara yang tidak seperti lazimnya para pria. Maksud aku perhatiannya dengan sikapnya, jarang dengan kata-kata. Berikut sebagian kegaluan dan pertentangan batin yang dilalui Vega.

Gue sering mencari tahu tentang kesetiaan.
Setia kepada pasangan.
Setia kepada cinta.
Setia kepada tujuan.
Dan sebelum gue tahu apa-apa, gue telah kehilangan semuanya.
Sekarang gue tahu, kestiaan tidak bisa direncanakan.
Sama seperti cinta.
Sama seperti hidup.

Dan dipuncak ceritanya, ketika Vega mulai memutuskan untuk kembali kepada Dion. Namun, badai justru menimpah hubungan mereka berdua, tatkalah Dion mendapati Vega pulang diantar oleh Rian, dan sempat melihat kemesraan hubungan mereka (adegan kiss bye). Akhirnya, hubungan mereka berduapun kandas. Disertai penyesalan yang sangat dalam yang dirasakan oleh Vega. seperti petikan kalimat penyesalan Vega berikut ini:

Dan demikianlah semuanya harus terjadi.
Karena memang harus terjadi.
Hidup ini akan terus berlanjut.
Kita semua pernah merasakan dikhianati dan menghianati.
Setia dan tidak setia.
Kita semua pernah merasakan cinta yang membawa kita ke tempat tertinggi.
Kita lalu merasakan yang namanya terjatuh, karena kesalahan kita sendiri.
Kita tidak mati.
Tapi lukanya, membuat kita tidak bisa berjalan seperti dulu lagi.

Dari film tersebut dapat kita tarik sebuah pelajaran. Ternyata kesetiaan atau setia, begitu penting dalam setiap hubungan. Saking pentingnya kesetiaan tersebut, dalam mempertahankannya kita akan senantiasa diperhadapkan dengan sikap jenuh dengan rutinitas dan godaan untuk tidak setia. Maka ketika kita tidak mampu untuk bertahan dari godaan tersebut, penyesalan yang tiada akhirlah yang akan menghukum kita.

Sebagaimana Vega yang akhirnya harus berpisah dengan orang yang paling menyayanginya, hanya karena hal yang tidak pernah ia niatkan sebelumnya. Namun seperti itulah, terkadang benar juga, setia tidak jauh berbeda dengan cinta. Keduanya tidak direncakan namun diberikan. (***)

Gorontalo, 30 April 2012

Pukul, 04:20 WITA (dinihari waktu laptop)

Sehabis menonton “From Bandung With Love”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s