Uncategorized

Pidana Demonstran, Pemprov Bungkam Aspirasi Rakyat

KEMARIN saya sempat dapat kabar via pesan singkat dan berita online, bahwa utat-utat yang tergabung dalam Komite Rakyat Untuk Pembentukan Provinsi BMR (KRUPPBMR) yang melakukan aksi demonstrasi menuntut Deprov sulut agar segera memparipurnakan rekomendasi pembentukan PBMR dan Pemprov Sulut segera membuat rekomendasi Gubernur Sulut, akan dipidanakan dengan delik penghinaan terhadap pejabat negara karena diduga sempat membakar gambar mirip Gubernur.

Menurut Kepala Biro Pemerintahan dan Humas Dr. Noudy Tendean, dalam sebuah berita para demonstran tersebut akan dijerat pasal 134 kitab UU hukum pidana yang masuk dalam kategori penghinaan terhadap pejabat negara, (http://www.humasprovsulut.com/2013/01/oknum-pembakaran-foto-gubernur-terancam.html)

Dus, penggunaan pasal ini, hemat saya akan membuat kita justru mundur kebelakang, biasanya di kalangan aktifis mahasiswa, masyarakat dan politisi, khususnya di masa orde baru, penggunaan pasal 134 KUHP, ada juga pasa136 dan 137 KUHP dipandang sebagai bentuk pengekangan atau represi politik terhadap mereka. Penggunaan pasal-pasal ini dipandang sebagai cara pemerintah menghadapi, mengendalikan dan mematikan kritik-kritik terhadap perilaku dan kebijakan Presiden atau pejabat negara.

Padahal sebenarnya, apa yang mereka sampaikan itu bukan dimaksud untuk menghina pejabat negara –dalam pasal 134 KUHP disebut Presiden dan Wakil Presiden–, tetapi sekedar menggunakan hak dan kebebasan mereka yang telah diatur dalam konstitusi sebagai warga Negara untuk mengontrol jalannya pemerintahan dengan baik dan responsive terhadap mereka. Terutama untuk menagih janji pejabat negara tersebut. Bukankah Gubernur pernah berjanji akan membantu terwujudnya Provinsi BMR? ( lihat: http://www.suaramanado.com/berita/bolaang-mongondow/politik-pemerintahan/2013/01/5954/pemprov-dukung-100-bolaang-mongondow-raya)

Kalau dilihat pasal yang digunakan untuk menjerat para demosntran ini, jadi ingat kasus demonstrasi menentang kenaikan harga BBM dan TDL pada awal tahun 2003 silam. Dimana pada masa Megawati, para aktivis mahasiswa-pemuda dijerat dengan pasal-pasal haatzaai artikelen. Contohnya kasus yang menimpah Ign Mahendra dan Yoyok yang didakwa telah melakukan pembakaran foto presiden dan wakil presiden. Perbuatan ini oleh jaksa diartikan telah menyerang kehormatan dan nama baik seorang kepala negara. Keduanya diancam dengan pasal yang sama yakni Pasal 134 juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara.

Jika ini diterapkan, tidak ada jaminan jika penahanan kepada para demonstran yang melakukan aksi pada 29 Januari tersebut akan berjalan mulus. Apalagi saat ini rakyat BMR menilai bahwa aksi mereka pada waktu itu sudah merupakan perpanjangan lidah dari rakyat.

Saya pikir hal-hal seperti jadikan sajalah sebagai riak-riak politik. Paska reformasi pada masa Habibie dan Gus Dur aksi menyobek, menginjak, dan membakar potret atau boneka kepala negara sudah menjadi ritual yang selama ini biasa dilakukan demonstran dan disaksikan masyarakat di layar televisi.

Mempidanakan kasus seperti ini, tampak seperti tiba-tiba foto pejabat negara menjadi demikian penting dan sakral, sehingga bisa membenarkan untuk mencabut kebebasan seseorang atas dasar pasal-pasal penghinaan. Pejabat negara jadi angker, sehingga tidak bisa lagi dikritik. Padahal, aksi bakar-bakar tersebut hanya bentuk teatrikal agar aspirasi mereka didengar, ditengah telinga pejabat negara seakan tuli karena mendengar orasi.

Kita tidak mau, ancaman mempidanakan demonstran ini justru mengembalikan kita ke masa lalu dimana kebebasan dikekang dengan pasal-pasal yang ada, hanya untuk meredam kebebasan berekspresi dan berpendapat masyarakat. Jangan sampai sakralisasi gambar justru menjadikan hak-hak menyampaikan pendapat, protes, dan kontrol terhadap pejabat menjadi terhambat. Apa jangan-jangan ini justru cara Pemprov membungkam perjuangan rakyat BMR yang mulai berkobar?. Entahlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s