Uncategorized

Mari Bangkit..!! Kita Dorong Masa Depan

bogani

SUATU hari saya pernah berdiskusi dengan seorang pensiunan pegawai negeri di Gorontalo. Dari diskusi tersebut, saya sempat mengorek cukup dalam tentang perjuangan Gorontalo menjadi sebuah provinsi. Karena beliau mantan Birokrat, seperti biasa ia tak jauh-jauh bicara tentang permasalahan kelengkapan adminstrasi dan lain sebagainya yang berhubungan dengan urusan birokratis. Meskipun ia juga mengakui pada waktu itu tidak seribet saat ini.

Namun, yang paling membuat saya tergelitik dalam diskusi tersebut adalah kalimat yang terlontar dari teman diskusi saya itu, “umat Islam dibagian utara Sulawesi ini sudah tertipu” begitu katanya.

Menurut kakek bercucu tiga itu, pada masa  itu ada orang yang mengaku perwakilan Indonesia Timur yang mengatakan tidak akan bergabung dengan NKRI jika keinginan mereka untuk menghapus piagam Jakarta tidak dikabulkan, dengan alasan 7 kata tersebut melukai warga di bagian utara Sulawesi.

“Padahal Gorontalo dengan Bolmong itu mayoritas Islam,apalagi Gorontalo dipastikan tetap Indonesia sesuai dengan apa yang Pak Nani (Nani Wartabone) sampaikan waktu itu,” katanya.

Usut punya usut, perjuangan melepaskan diri menjadi sebuah provinsi baru itu berkaitan erat dengan sejarah Gorontalo sebelumnya. Dalam buku berjudul “Abad Besar Gorontalo” yang menceritakan perjuangan rakyat Gorontalo menjadi provinsi hal ini diakui. Perjuangan Gorontalo menjadi sebuah Provinsi sempat juga menyentil permasalahan akidah, mereka sebelumnya sempat merasa terpinggirkan dalam urusan yang satu ini.

Jika dibandingkan dengan Gorontalo, saya kira Bolmong mesti kerja ekstra keras dibarengi kesabaran tangguh dalam berproses untuk mengumpulkan kembali serpihan sejarahnya yang terkoyak dan berserahkan. Gorontalo punya memori sejarah dan mental perlawanan rakyat yang cukup kuat untuk berhasil. Mereka belajar dari situ. Bolmong juga harus demikian, harus punya memori yang jelas agar bisa memetahkan strategi jitu saat melakukan perjuangan. Bahkan Pelawanan.

Sebuah catatan: banyak hal yang saya dapati dalam diskusi itu. Ada beberapa bagian ektrim yang tidak saya cantumkan dalam tulisan ini, karena saya fikir itu bisa mengakibatkan tafsir ganda. Saya cukup, bahwa mengangkat tema-tema seperti ini harus dipandang dengan kacamata pengetahuan ilmiah. tidak bisa dipandang sebagai SARA apalagi provokasi, melainkan justru melengkapi Puzzle sejarah Bolmong yang terlanjur bolong sana-sini. Saya cukup lama menginginkan keterbukaan seperti ini.

Saya menilai ini momentum dan merupakan sebuah spirit baru bagi para Akedemia Bolmong, untuk bisa mengambil bagian berfokus pada bidang ini. Bantu mereka para penganalisis dan penyusun strategi untuk bisa meramal masa depan, dengan berpedoman pada peta sejarah masa lalu.

Paradigma menutup sejarah kelam masa lalu sudah semestinya dirubah. Berganti dengan erah kebangkitan, keterbukaan dan menerima dengan lapang dada. Para orang tua sudah saatnya membiarkan anaknya mengetahui apa yang terjadi pada kisah lampau leluhurnya apa adanya, agar tidak lagi menjadi bagian dari karat turunan yang membuat langka maju membangun daerah jadi terhambat. Para penulis juga harus punya pengetahuan sejarah yang komprehensif sehingga apa yang didalaminya bisa dipertanggung jawabkan, bukan sekedar gagah-gagahan dan klaim semata.

Saya kira, kita masih menyisahkan memori sejarah berkapasitas besar untuk menampung semua itu. Bangkit dan berbenah dari segalah hal adalah pilihan kita saat ini, ketika kekuatan yang kita miliki belum cukup kuat merobohkan tembok yang berdiri mengangkang di provinsi. Masa lalu yang apa adanya adalah modal untuk menyusun kekuatan saat ini untuk bisa merubah masa depan.

Bangkit dari keterkungkungan dan keterpurukan. Bangkit dan berbenah memperbaiki sumber daya manusia. Bangkit dan berbenah membangun pendidikan. Bangkit dengan revolusi kebudayaan. Dan jangan takut mengorek sejarah kelam masa lalu. Motobatu Molintak kon Bolaang Mongondow Raya. Bersatu “Bangkit” Membangun Bolaang Mongondow Raya. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s