Sosial & Budaya

Waktunya Perempuan di Ruang Publik

ImageSekitar tiga hari yang lalu, tempat kerja saya mendapat undangan Seminar & Talkshow; Perempuan, Ruang Publik dan Islam, yang digelar Universitas Paramadina Jakarta, The Asia Foundation, dan IAIN Gorontalo, di hotel New Rahmat Inn, Kota Gorontalo, Selasa (19/03/2013).

Saya dipercayakan sebagai perwakilan untuk menghadiri undangan tersebut. Meski harus menyisihkan waktu antara kerja dan kuliah, gambaran bahwa pentingnya seminar tersebut membuat saya bertekad hadir.

Seminarnya sangat inspiratif, banyak isyu-isyu progresif terkait Islam, Budaya, dan Perempuan yang lahir dari acara ini. Sempat terbesit sebuah harapan, seminar seperti ini kedepan bisa diadakan di BMR.

Kehadiran Budhy Munawar-Rachman (penulis buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid, 4 Jilid) dan DR. Sofyan A.P Kau (penulis buku Tafsir Hukum Tema-tema Kontroversial) sebagai narasumber, semakin membuat greget dan berbobot seminar ini.

Mas Budhy Munawar-Rahman yang merupakan Program Officer The Asia Foundation ini dalam seminar tersebut memaparkan makalahnya yang berjudul “Paritisipasi Perempuan di Ruang Publik; Perspektif Agama dan Budaya Indonesia”. Dirinya cukup menekankan tentang wacana Islam Progresif dalam meningkatkan partisipasi perempuan di ruang publik.

Menurut pria bersahaja yang sudah 20 tahun menekuni bidang Islam dan Demokrasi ini , perlu ada pembongkaran (dekonstruksi) atas seluruh pencitraan (representasi) perempuan yang mempunyai sudut pandang kepentingan laki-laki (patriarki), justru untuk mendapatkan sudut pandang dan kepentingan perempuan sebagai subjek otonom.

Sedangkan, Bang Sofyan A.P Kau yang juga Dosen Fak. Ushuluddin dan Dakwah IAIN Gorontalo ini memaparkan makalah berjudul “Menuju Tafsir Agama yang berkeadilan Gender: Keniscayaan Peran Perempuan dalam Dunia Publik”. Dalam pemaparannya, Ia menekankan bahwa tafsir al-Quran adalah sebagai bentuk tafsir agama, bukan sebagai ajaran agama itu sendiri. Sehingga, menurutnya, pembacaan terhadap tafsir agama tentang perempuan harus diletakkan dalam konteks historis sosiologis. Dengan demikian tafsir ulama terdahulu bisa saja dipertahankan dan bisa juga dirombak sesuai dengan konteks zaman.

Dalam makalah yang memiliki 35 judul buku rujukan tersebut, Sofyan secara garis besar menegaskan, problem yang dihadapi masyarakat saat ini tidak sama dengan yang dihadapi masyarakat zaman dahulu. Karena itu, katanya, menjadikan pendapat ulama klasik untuk menjawab problem keumatan sekarang adalah tidak relevan dan kurang tepat. Problem kontemporer harus dijawab pula oleh ulama kontemporer.

Lebih dari itu, peraih gelar Doktor dibidang Syariah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengungkapkan, setiap penafsiran ulama berdasarkan konteks historisnya. Historisasi dan kontekstualisasi adalah cara interpretatif menuju tafsir agama yang berkeadilan gender. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s