Uncategorized

Menakar Wacana Federalis di Indonesia

ImageKALAU inti dari federalis hanya sebagai sistem pemerintahan yang menyatukan negara-negara bagian, sedangkan setiap negara bagian memiliki otonomi khusus untuk menjalankan pemerintahannya sebagai negara. Saya kira konsepnya tidak terlalu berbeda dengan konsep Otonomi daerah yang saat ini tengah di jalankan.

Desentralisasi ini sudah merupakan substansi dari federalis, namun tetap dibingkai dengan NKRI. Desentralisasi atau otonomisasi kalau dijalankan dengan sebaik-baiknya, sudah merupakan jalan tengah menjaga keutuhan Bangsa. Bisa dikata otonomi justru menjadi solusi permasalahan bangsa. Mandeknya otonomi daerah saat ini, terlalu naif kalau dikira itu faktor negaranya.

Konsep negera federalis pada dasarnya baik, karena sudah ada negara yang terbukti menjalankannya dengan baik. Namun pertanyaannya kemudian, apakah itu cocok untuk Indonsia? Ini butuh kajian mendalam, dengan mengorek kembali patahan-patahan sejarah lampau, serta perlu kearifan lintas sektor. tidak hanya dari umarah (pemerintah), namun juga ulama (orang2 berilmu) untuk mendapat wangsit dari Tuhan.

NKRI saya kira sudah final. Konsep NKRI itu tidak lahir tanpa pertimbangan matang dari founding father pendidiri bangsa, bahkan ada literatur yg mengatakan NKRI justru wangsit dari Tuhan (entah benar, butuh kajian mendalam).

Toh, sebelumnya kita juga sudah pernah merasakan suka dukanya negara federalis, ternyata gagal juga, karena ternyata tidak pas untuk Indonesia.  Kalau kita kembali lagi ke bentuk federalis, bukankah sama saja kita back to zero, kembali ke nol untuk membangun dari awal. Kapan majunya. Hemat saya permasalahan yang dihadapi bangsa saat ini, bukan karena konsep Negara saat ini yang tidak pas, hanya person-personnya yg tidak mengerti bagaimana memanfaatkan saja.

Saya cenderung sepakat, wacana Negara federalis di Indonesia, semestinya tidak harus ditutupi. Kran informasi tentang konsep Negara yang satu ini harus dibuka, sehingga bisa dideteksi apa manfaatnya dan apa mudarotnya. Ini untuk memberi penjelasan, mengapa Indonesia lebih memilih NKRI ketimbang Federal? Agar kedepan tidak ada lagi yang hanya bicara konsep federalis buta dan NKRI buta tentunya. Anak bangsa sudah mesti melek pengetahuan tentang kebangsaan ini.

Harus disadari, apapun bentuk atau konsep negaranya, karena ini merupakan hasil ijtihad, sifatnya tidak mutlak. Mo itu bentukan Kesatuan, Federal, Monarki, tergantung hasil ijtihad negaranya. Sekali lagi, karena bentuk Negara bukan dari Tuhan, maka pasti terdapat banyak permasalahan. Indonesia dengan konsep NKRI-nya harus disadari ada dan terdapat beberapa kelemahan, namun tidak berarti dengan serta merta wacana pengganti seperti federalis muncul sebagai solusi. Kelemahan ini harus dipandang positif untuk menjadikan Negara kita ini lebih dewasa.

Konsep Negara federalis juga punya masalah sendiri, Amerika Serikat contohnya, sebagai Negara federal terbesar, selalu menghadapi masalah Internal berupa overlapping atau tumpang tindih antara kebijakan Negara bagian dengan Negara pusat, namun kalu ditawarkan konsep Amerika Serikat menjadi Negara kesatuan untuk menghindari masalah overlapping, itu justru tidak cocok. Selain itu federalis dalam hemat saya, cenderung digempur ancaman diintegrasi bangsa ketimbang Negara kesatuan.

Mungkin sebagai penegasan, munculnya wacana Negara Federalis, anggap saja sebagai bumbu nostalgia bangsa, ditengah kondisi perbaikan dan perombakan secara besar-besaran. Saya termasuk salah satu orang dari jutaan orang Indonesia yang sepakat bangsa NKRI sudah harga Mati, dan tidak ada tawar menawar lagi.

Pandangan skeptisnya, diberi kewenangan otonomi saja tidak mampu mengelola dengan baik, apalagi kalau sudah mau jadi Negara bagian (federal). Kedepan ketika bentuk Negara bagian tidak lagi memuaskan, pasti minta memisahkan diri. Tamatlah sudah Indonesia sebagai Negara kesatuan.

Sebuah wejangan lama dari Lord Acton seorang ahli sejarah dari Inggris, pernah berkata,“power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely”. “Manusia yang mempunyai kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaan itu, tetapi manusia yang mempunyai kekuasaan tak terbatas pasti akan menyalahgunakannya secara tak terbatas pula”. 

Peribahasa lama juga berkata; “homo homini lupus”. “tiap manusia adalah serigala bagi manusia lainnya”. Bahkan Thomas Hobbes  mendefinisikannya sebagai keadaan anarchy; “the condition of man is a condition of war of everyone against everyone”. Manusia pada dasarnya diasumsikan memiliki sifat-sifat jahat dan bertendensi untuk menyalahgunakan hak orang lain demi pemenuhan hak pribadinya.

Saya tidak mau mengatakan orang-orang yang menggelontorkan konsepsi Negara federalis yang muncul saat ini diasumsikan seperti orang jahat itu. Dan mudah-mudahan tidk demikian. Salam. NKRI HARGA MATI. (***)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s