Uncategorized

Isu Maritim dan Jati Diri Bolaang Mongondow

Sumber peta: Buku "Reisgids voor Nederlandsch-Indie Samengesteld op Uitnoodiging der Koninklijke Paketvaart Maatschappij [KPM]" [1896], Batavia, G. Kolf & Co.
Sumber peta: Buku “Reisgids voor Nederlandsch-Indie Samengesteld op Uitnoodiging der Koninklijke Paketvaart Maatschappij [KPM]” [1896], Batavia, G. Kolf & Co.
BELAKANGAN isu Indonesia maritim mulai menggeliat, menjadi wacana yang sangat diperhitungkan. Tujuannya adalah mengembalikan sikap dan kosmologi masyarakat Indonesia kembali ke culture-nya yakni berjiwa maritime yang inklusif, egaliter, ramah, sopan serta tebuka, yang kini terlanjut terkooptasi dengan bentukan nalar daratan buatan penjajah, atau land looked dan inward looking meminjam instilah Hasyim Wahid. Bangunan mental daratan ini dapat dilihat dalam wujudnya yang terlalu didominasi oleh tingkat kekuasaan, ekslusif.

Radhar Panca Dahana, seorang sastrawan dan budayawan, dalam catatannya “Manusia Maritim Indonesia” menuliskan, bahwa adab daratan itu cenderung konfliktif, dominatif, dan materialistic, sebaliknya manusia yang dibentuk oleh kultur laut dan pesisir adalah manusia yang membangun permukiman, sosial, ekonomi, dan politiknya dalam sebuah kota pantai atau bandar. Di kota-kota bandar ini, manusia maritim Indonesia berkembang sesuai kondisi alamiah dan pengasuhan bandar: menjadi masyarakat hibrid (melting pot society) yang berpikiran terbuka, adoptif, sekaligus adaptif.

Berdasarkan pandangan tersebut, lahirnya sebuah pandangan/pemikiran untuk mengorek kembali nalar maritim di Bolaang Mongondow perlu mendapat apresiasi. Tujuannya untuk menggali lebih dalam jatih diri masyarakat bolaang Mongondow yang sebenar, sehingga dengan memahami jatih diri tersebut bisa digunakan sebagai landasan pembangunan di Bolaang Mongondow.

Selain itu, pengenalan jatih diri Bolmong tersbut akan menghindarkan kita dari stereotype sebagai daerah peniru, dimana kita hanya mampu berbuat sesuatu untuk daerah kita nanti ketika hal tersebut sudah terlebih dahulu dibuat orang lain. Padahal kita semua tahu, dimana-mana yang namanya peniru tidak akan pernah menjadi lebih baik dan melampaui dari yang ditiru.

Dibeberapa literatur, saya mendapati bahwa jatih diri masyarakat Bolaang Mongondow sebenarnya mengarah kepada masyarakat maritim. Jika cirri-ciri masyarakat maritim sebagaimana yang disebutkan adalah adanya keterbukaan, maka masyarakat Bolaang Mongondow pada jaman dahulu merupakan masyarakat yang terbuka dan mau menerima kebudayaan orang lain. Mereka egaliter, demokratis, dan kontemporer (mengikuti perkembangan zaman) karena tradisi yang ada di Nusantara bersifat selalu mengembangkan diri. Jika ditarik ke zaman kerajaan misalnya, maka ciri-ciri kerajaan yang bersifat maritim, akan kita dapati bukti-bukti otentik misalnya adanya persentuhan dan pesinggungan dengan kerajaan lain. Ini wujud nyata dari keterbukaan masyarakat maritim tersebut. Beberapa kerajaan di Bolmong contohnya juga sering berpindah-pindah (migrasi).

Saking terbukanya, kerajaan-kerajaan di Bolaang Mongondow tidak membuat batas wilayah yang jelas mengenai daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya, bisa jadi tidak ada system penguasaan pada waktu, hanya persinggungan atau persentuhan. Sebagai contoh, pembuatan batas wilayah di Bolaang Mongondow nanti ketika masuknya gubernemen Belanda pada tahun 1901, dari sinilah dibuat batas-batas wilayah (enclave) meski belum jelas. Disinilah mulai dikenal distrik-distrik, imbasnya Rololuo (kini Doloduo) yang merupakan salah satu distrik kerajaan Bintauna diserahkan ke Kerajaan Bolmong, yang ditukar dengan Batulintik yang masuk wilayah Bintauna saat ini.

Untuk itu, lahirnya studi demi mengorek kembali sejarah-sejarah Maritim di Bolmong perlu mendapat apresiasi besar. Saya kira ini sebagai bagian dari langkah awal mencari dan mempertegas jatih diri masyarakat Bolaang Mongondow. Kedepannya ini menjadi sebuah sumbangsi intelektual demi mendorong percepatan perubahan dan pembangunan di Bolaang Mongondow. Natua dega. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s