Sosial & Budaya

Sikap Pribadi: Pro Kenaikan BBM, Tolak BLSM

Oleh: Donald Qomaidiansyah Tungkagi

ImagePILIHAN untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) saat ini memang pahit dan dilemati. Sepahit menelan buah simalakama. Kita seperti diperhadapkan pada dua pilihan yang sulit. Menjadi pro atau kontra terhadap isu ini.

Meski terjebak dalam zona Andilau (antara dilema dan galau), sebagai kaum intelektual kita harus bisa menentukan sikap. Merumuskan sebuah ijtihad demi kemaslahatan orang banyak adalah tanggung jawab kita. Ijtihad itu perlu, dan tidak ada ruginya, sebab jika benar kita dapat dua pahala, dan salah dapat satu pahala. Saya berharap pil pahit kenaikan BBM merupakan obat yang bisa menyembuhkan luka bangsa saat ini.

Perdebatan mengenai kenaikan BBM ini masih cukup alot. Sejauh ini, saya sepakat bahwa subsidi BBM untuk masyarakat yang berlangsung selama ini tidak sesuai ketentuan UU 30/2007 tentang Energi, dimana pada Pasal 7 Ayat (2) menyatakan, subsidi disediakan untuk kelompok masyarakat tidak mampu.

Namun, kenyataannya subsidi kita saat ini, terutama BBM tidak sepenuhnya dinikmati oleh rakyat yang kurang mampu. Lebih banyak subsidi BBM justru dinikmati kalangan berduit, yang punya mobil dan kendaraan bermotor. Bahkan di perkirakan, sekitar 70 persen BBM bersubsidi justru dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas, bukannya masyarakat kurang mampu.

Menurut M Romahurmuziy , sejak awal dekade 2000, Indonesia telah beralih status dari negara eksportir menjadi net importir minyak. Dengan importir BBM dan minyak mentah yang mencapai lebih sepertiga dari kebutuhan nasional, harga BBM nasional sangat bergantung kepada harga internasional. Bahkan menurutnya, seperlima APBN tersedot untuk subsidi energi yang bersifat konsumtif. Ruang gerak belanja negara untuk sektor produktif yang lebih bersifat jangka panjang menjadi terbatas.

Akibatnya daya saing yang tercipta di pasar internasional semu, didominasi oleh produk mentah yang mengandalkan buruh murah dan harga engeri yang muerah. Padahal murahnya harga energi karena disubsidi. Jadi, pengurangan subsidi BBM yang disertai kompensasi kepada masyarakat golongan ekonomi terlemah dimaksudkan untuk membenahi subsidi.

Disamping itu, harga BBM bersubdisi Rp4.500 dinilai masih terlalu terlalu murah, jauh berbeda dengan harga BBM industri yang mencapai Rp9.300. Harga BBM Indonesia paling murah di kawasan ASEAN. Bandingkan Rp4.500 di Indonesia (Ron 90), misalnya dengan Vietnam (Ron 92) Rp15.553, Laos Rp13.396, Kamboja Rp13.298, Myanmar RP10.340. Harga BBM bersubsidi Indonesia ini adalah yang termurah di dunia untuk ukuran negara net importer. Menurut Romahurmuziy, dengan harga yang murah itu, dapat merangsang tindakan penyelundupan, baik kepada sektor industri/pertambangan maupun penyelundupan ke luar negeri.

Bisa jadi jebolnya angaran subsidi di APBN karena banyaknya penyelundupan ini. BBM tetap dipertahankan juga saat ini, sama saja dengan tidak ada perubahan yang berarti bagi kemaslahatan Negara. Padahal subsidi BBM sudah membebani Negara, dengan begitu mau tidak mau Negara harus bisa menaikkan harga BBM. Subsidi BBM tersebut seharusnya dialihkan untuk keperluan yang lebih mengena ke masyarakat miskin.

Namun rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi dengan kompensasi Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), ini sudah seharusnya dipertimbangkan. Banyak yang memandang bahwa BLSM ini justru tidak mendidik rakyat. BLSM justru semakin membuat rakyat semakin miskin. Rakyat miskin justru akan ketergantungan dengan BLSM. Ini tidak jauh berbeda dengan member ikan bukan pancingnya. Setelah BLSM hilang, masyarakat kembali miskin.

Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siraj, menilai BLSM merupakan sifat yang tidak mendidik, BLSM dinilai bukan solusi yang tepat. “BLSM itu hanya obat masuk angin saja, saya tidak setuju,” kata dia.

Meski begitu dirinya sepakat BBM dinaikkan jika memang keputusan tersebut harus diambil oleh pemerintah untuk mencegah Negara menjadi bangkrut. Menurutnya menaikkan harga BBM, subsidi yang dikeluarkan juga bisa ditekan. Alihkan penggunaan subsidi itu secara tepat, seperti peningkatan mutu pendidikan, harga pupuk dan listrik jangan dimahalkan, dan kebutuhan di masyarakat lainnya harus bisa dijamin.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin juga menuding program BLSM dan berbagai konversi penaikan harga BBM bersubsidi hanya untuk mendongkrak perolehan suara Partai Demokrat. “Semua masyarakat masih ingat pemberian sejenis itu (BLSM: red), meski dikemas dalam bentuk konpensasi, penaikan harga BBM selalu menjelang pemilu, dan hasilnya Partai Demokrat selalu menang,” ujarnya.

Hemat saya, berdasarkan paparan tersebut, kenaikan harga BBM merupakan keputusan politik, namun sayangnya terlalu dipolitisir. Alasan menaikan harga BBM untuk mencegah defisit khas APBN dibidang energi saya kira masih rasional. Sehingga mau tidak mau harus dinaikkan, selain itu agar subsidi BBM bisa tepat sasaran.
Namun, pengalihan anggaran BBM bersubsidi menjadi BLSM tidak efektif, karena merupakan solusi yang terlalu politis dan menguntungkan partai tertentu. Karena dinilai BLSM selain tidak produktif, juga tidak lebih daripada sebagai suap politik rezim kepada masyarakat miskin jelang pemilu 2014. Dan inilah yang ditolak ramai-ramai oleh partai politik. Karena BLSM ini dipaketkan dengan kenaikan BBM, maka upaya untuk menolak BBM adalah menolak kenaikan BBM.

Saya cenderung setuju, jika subsidi BBM ini bukan untuk BLSM namun dialihkan program-program tepat sasaran seperti bantuan kesehatan masyrakat, peningkatan mutu pendidikan, pemberian subsidi tariff dasar listrik (TDL), dan peningkatan efektivitas para petani demi ketahanan pangan bangsa. Jika seperti ini pengalihan subsidi BBM, saya kira tidak ada alasan lagi untuk menolak kenaikan BBM. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s