Politik

Kalau PBMR Ndak Jadi, No Apa Selanjutnya?

boganiPADA catatan sebelumnya  saya menuliskan bahwa kondisi bergulirnya perjuangan PBMR kini masih dikatakan berada di ujung tanduk. Meski memang kabarnya berkas PBMR berhasil lolos untuk diplenokan  ditingkat Komisi II DPR RI, untuk saat ini kabar tersebut minimal cukuplah untuk memberi stimulus positif, dan mudah-mudahan bukan hanya kabar yang sekedar enak di dengar (bekeng sanang talinga). Harapannya api semangat rakyat yang kini redup dan tinggal menunggu padam mudah-mudahan bisa kembali berkobar seperti sebelumnya. Kemarin di awal-awal sempat berkobar-kobar karena berita di media masa lokal dari para tokoh-tokoh yang terlanjur memberi harapan besar.

Pada catatan kali ini sekedar untuk berbagi sekaligus menjawab beberapa pertanyaan sahabat terhadap catatan kemarin. Kalau ditanya peluang PBMR jadi dengan adanya berita tersebut? untuk masalah teknisnya jujur saja saya tidak bisa menjawab itu (lebih tepat tidak tahu) dan juga bukan ranah serta wewenang saya.

Hemat saya seperti ini: agar PBMR bisa berhasil dan disetujui saat musyawarah atau pleno ditingkat Komisi II DPR RI nanti maka ada beberapa hal yang harus dipersiapkan secara matang sebelum RDP nanti. Intinya di level puncak ini, point-point yang harus dipersiapkan tersebut saya kira tidak akan pernah jauh dari seberapa kuat aspirasi rakyat yang didukung bukti riil, Kualitas Intelektualitas dan “Isi Tas” yang dimiliki. Di posisi ini, tentunya semua elemen yang terkait dengan permasalahan “tas-tas” seperti  intelektualitas (politisi, akademisi) dan “isi tas “ (pengusaha, pejabat,dll) tersebut harus bersatu. Tanpa itu semua jangan harap wacana PBMR akan berakhir bahagia, minimal sampai tahun 2020.

Saya kemudian ingat pesan DR. Ridwan Tohopi, beliau mantan Sekjen Presidium Nasional Provinsi Gorontalo. Dalam diskusi kami usai dialog terkait pemekaran PBMR yang difasilitasi KPMIBMS beberapa waktu lalu, beliau berpesan “ Tanpa Pengorbanan dan Keikhlasan  jangan berharap PBMR akan Terwujud”. Maka dalam  pleno nanti saya fikir rakyat BMR akan menilai seberapa besar pengorbanan dan keikhlasan dari para tokoh yang ditunjuk sebagai panitia pemekaran, apakah mereka pantas ditulis dalam tinta emas sejarah dan didaulat sebagai pejuang dan pahlawan pemekaran ataukah hanya pengobral janji semu belaka.

Sebenarnya, kalau kita cermati dengan cerdas apa yang dibahasakan Ketua Komisi II DPR RI, Agun Gunanjar Sudarsa, yang sering ia sampai di media masa telah menjadi sinyal awal bagi kita dalam menganalisa seberapa besar peluang PBMR terealisasi. Meski moratorium pemekaran daerah yang ditetapkan pemerintah masih berlaku namun hal tersebut telah di-kompromikan dengan adanya desain besar penataan daerah (Desartada) 2010-2025 yang ditetapkan Kemendagri. Menurut Agun, “rencana pembahasan pemekaran tidak berlawanan dengan moratorium, sebab menurut dia moratorium dipahami dalam konsep pemekaran yang sesuai dengan waktu-waktu yang direncanakan, yakni sesuai dengan Desain Besar Penataan Daerah (Desartada) sampai 2025” (baca: http://www.jpnn.com/read/2013/09/03/189016/Tambah-70-Kabupaten-dan-Kota-Baru-).

Bisa dikatakan  hasil kajian dalam Desartada akan turut serta memberikan andil besar dalam merealisasikan PBMR. Nah, pertanyaannya adalah bagaimana pandangan Desartada terhadap peluang di terbentuknya provinsi baru di Sulut dalam hal PBMR? saya pernah buat tulisan tentang hal ini bebera waktu lalu, catatan tersebut berjudul “Menimang Peluang BMR Jadi Provinsi” (baca: https://qomaidiansyah.wordpress.com/2013/04/24/menimang-peluang-bmr-jadi-provinsi/).

Hasil kajian Kemendagri dalam Desartada, Sulut hanya bisa ketambahan 1 provinsi baru, sedangkan daerah yang jadi prioritas utama untuk mekar hingga tahun 2025 itu dua syaratnya, yakni: Daerah yang terletak diperbatasan dan atau daerah yang rentang geografisnya luas  lebih dari 30 kabupaten/kota. Kenyataannya di Sulut ada dua daerah yang mengusulkan untuk jadi Provinsi yakni PBMR dan PKNU, tinggal kita lihat yang mana yang memenuhi syarat berdasarkan Desartada tersebut.

Kalau mau jujur, Nusa Utara bisa dibilang yang paling potensial jadi provinsi berdasarkan Desartada 2010-2025. Keunggulan PBMR hanya karena memenuhi syarat yang tercantum dalam PP 78 tahun 2007. Okelah jika kita misalkan PP 78/2007 itu tidak pandang bulu untuk diterapkan. Jika semua daerah yang mengusulkan pemekaran harus sesuai dengan aturan tersebut, maka peluang PBMR untuk bisa terealisasi minimal sampai tahun 2019-2020, itupun jika aturan ini belum mengalami revisi. Sebab saat ini sudah ada 2-3 DOB yang diusulkan Nusa Utara, jika usulan ini disetujui maka secara otomatis Nusa Utara juga memenuhi syarat PP 78/2007 plus sesuai Desartada 2010-2025. Belum lagi kedepan kita menghadapi perubahan UU 32/2004 yang akan jadi pekerjaan rumah besar juga yang harus diantisipasi. Dari sini semakin jelas bahwa peluang PBMR untuk jadi semakin kecil.

Selain itu, yang lebih menyedihkan lagi ada kabar yang mengatakan bahwa tokoh-tokoh BMR yang dipercayakan rakyat ditingkat pusat justru sibuk dengan urusan pribadi ketimbang ikut serta memperjuangkan aspirasi rakyat ini (baca: http://beritakawanua.com/berita/nasional/6-legislator-sulut-di-dpr-ri-hanya-sinjal-yang-fokus-soal-dob#sthash.Gz4DS9kW.BSwVbugY.dpbs). Jika kenyataannya seperti ini, saya sarankan jangan terlalu banyak berharap PBMR akan jadi kenyataan. Yang harus Anda lakukan adalah persiapkan diri untuk kecewa lagi, karena rasanya pasti sangat sakit sesakit putus cinta.. hehehe

Lantas bagaimana jika 5-10 yang akan datang PBMR belum bisa terwujud? Langka apa yang harus dilakukan saat ini?

Coba kita perhatikan kenyataan dilapangan, banyak masyarakat kita yang jika sesuatu yang menjadi tujuannya atau harapannya belum tercapai, banyak cenderung cepat putus asah. Kebiasaan di masyarakat kita, sekali sudah punya keinginan maka keinginan tersebut yang harus dikejar. Apapun yang terjadi keinginan tersebut tidak akan pernah dirubah. Padahal belum tentu keinginan tersebut merupakan yang terbaik, apalagi jika keinginan tersebut tanpa pikiran dan kajian yang matang. Bukankah sesuatu yang kita anggap terbaik itu belum tentu baik jika tanpa kajian yang matang.

Begitu juga, jika PBMR tidak jadi maka bisa dipastikan banyak yang bakal putus asah, dan tidak bisa melakukan langka selanjutnya karena tujuannya hanya satu PBMR itu jadi. Saya kira kutipan kaidah fiqih berikut pantas untuk kita renungkan dalam mencari langkah selanjutnya “Ma La Yudraku Kulluhu, La Yutraku Kulluhu” (apa yang tidak dapat dicapai seluruhnya janganlah ditinggalkan seluruhnya). Kaidah ini secara tidak langsung mengajarkan kepada kita untuk tidak mudah putus asah, dan harus menyiapkan langkah strategis jika sekirahnya apa yang menjadi tujuan kita belum menjadi kenyataan. Pilihan ini yang lebih baik ketimbang menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginan tersebut. Karena dalam agama, kita tidak diperkenankan untuk menghalalkan segala cara dalam mewujudkan tujuan-tujuannya. “Al-ghayat laa tubarrir al-washiitah” (tujuan tidak menghalalkan segala cara).

Beberapa langkah strategis tersebut bisa berupa: 1) Tuntutan untuk perbaikan dan pembangunan infrastruktur di BMR, dan yang lebih penting lagi adalah peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini ketersediaan perguruan tinggi di BMR. 2) Demi menjaga kestabilan politik dan meminimalisir hambatan PBMR jadi provinsi di masa yang akan datang, maka usulan penggabungan kecamatan Lolayan kedalam pemekaran Bolaang Mongondow Tengah (Bolteng) sudah seharusnya diapresiasi tokoh-tokoh terkait (dikesempatan yang lain, saya akan menulis tentang ini).

Saya kira dua langkah itu yang paling rasional dilakukan saat ini. Dua langkah tersebut jika dikaji, maka secara tidak langsung justru memiliki kebaikan yang berdampak luas. Dalam konteks kemaslahatan umum yang luas  selain dari tujuan utama maka itu yang harus diutamakan. Ini berdasarkan kaidah fiqih “Kebaikan yang berdampak luas lebih dipertimbangkan” (al-khairul muta’addi). Natua dega’!! (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s