Politik

Wajah Suram Caleg Kita: Pilih Sesuai Kriteria Atau Golput

KerenSeorang sahabat berkata “lebih baik memilih Caleg yang berduit, karena ketika jadi dia tidak akan korupsi karena sudah punya duit”.

“Belum tentu” kata sahabat yg satunya, “kalau Caleg tersebut saat kampanye membagi-bagikan duit, maka tdk mustahil dia akan berfikir untuk mengembalikan uang tersebut dengan cara apapun setelah terpilih. Bukankah banyak contohnya? Caleg yang berduit, setelah terpilih justru lebih banyak duit, rumah, dan mobilnya”.

“Kalau begitu lebih baik pilih Caleg yang tdk berduit saja, karena sudah terbiasa tdk berduit maka ketika jadi ia tdk akan korupsi” kata sahabat tersebut lagi.

“Belum tentu” katanya menyelah lagi, “bagaimana kalau niat mereka utk ikut Caleg justru karena utk mendapatkan duit, pasti mreka akan melakukan segala cara utk mencapai niat itu setelah terpilih. Bukankah banyak contohnya? Caleg yang tdk berduit, setelah terpilih justru punya banyak duit, rumah baru, dan mobil baru”.

“Hmmmmmm….” mendengar jawaban tersebut sahabat itu berfikir sejenak kemudian berkata “Lantas kita pilih caleg yg bagaimana? Atau mari kita Golput saja”.

***
Dialog singkat tersebut sedikit menggambarkan bagaimana pandangan rakyat terhadap para politisi yang terlibat dalam pencalegkan. Dengan kesederhanaan cara fikir, mereka akan gampang sekali mencapai sebuah kesimpulan sesuai batas pengetahuannya. Tidak sedikit yang sampai pada kesimpulan untuk tidak ikut berpartisipasi dalam pemilu, alias golongan putih (golput).

Terlebih juga beberapa pengamat politik mengungkapkan angka Golput di Pemilu 2014 diprediksi bakal kembali meningkat (baca:http://nasional.kompas.com/read/2013/04/28/14190415/Angka.Golput.Diprediksi.Naik). Berkaca pada Pemilu 2009, dari 171.265.442 pemilih, hanya 104.099.785 suara yang sah, sedangkan suara yang tidak sah sebesar 17.488.581 (sebagian tentunya juga Golput) !!. Jumlah suara Golput paling sedikit 49.677.776 ~ 29,006 persen. Kira-kira dua kali penduduk Australia.

Meningkatnya angka Golput ini justru dipengaruhi rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap wakil rakyat. Realita yang ada bahwa rakyat lebih memilih untuk menerima “money politik”, saya fikir ini justru kian menegaskan bahwa tingkat kepercayaan rakyat tersebut politisi terjun drastis.

Rakyat lebih memilih menjual suaranya ketimbang lama-lama mendengar bualan janji palsu para caleg dalam orasinya, karena rakyat menyadari semua janji itu tak pernah ditepati. Wajarlah karena rakyat kita sudah terbiasa dihianati.

Lebih dari itu, kualitas para DPRD terpilih belakangan justru kian dipertanyakan. Jangankan diharapkan untuk bisa merealisasikan janji kampanyenya, melakukan tugas pokoknya sebagai anggota DPRD saja mereka tidak tahu. Ini kian menambah wajah suram caleg kita.

Tidak hanya kinerja yang dinilai buruk, kualitas anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 juga dinilai lebih rendah dibandingkan dengan anggota DPRD periode sebelumnya. DPRD periode sekarang dinilai lebih hedonis dengan gaya hidup mewah dan jauh dari rakyat (baca: http://nasional.kompas.com/read/2011/04/18/09132515/Kualitas.Anggota.DPR.Rendah).

Intinya jika tidak ingin mengulangi wajah suram wakil rakyat kemarin, maka saat ini rakyat sudah harus cerdas dalam memilih criteria caleg yang pantas untuk menjadi wakilnya sebagai penyambung lidah di parlemen nanti.

Melalui catatan ini, saya ingin membagikan beberapa kriteria caleg yang ideal. Mudah-mudahan bisa member manfaat untuk kita dalam memilih wakil rakyat, agar bisa benar-benar bermanfaat untuk memperjuangkan aspirasi rakyat kelak.

Menurut Henry Pandapotan mengutip verbatim filsuf Aristotle dari Yunani (384 SM – 322 SM), ada sekita tiga kriteria ideal yang harus dimiliki oleh seorang caleg, yaitu: ethos, pathos dan logos. Ethos berkaitan dengan etika (ethic) di mana seorang calon anggota legislatif haruslah dikenal dan sudah teruji memiliki etika yang baik, dengan latar belakang keluarga yang baik pula. Bagaimana seorang calon dapat mewakili konstituen jika perilaku atau etikanya buruk? Terlebih lagi jika si calon mengandalkan uang (money politics) untuk memperoleh suara, bukankah dia akan berusaha mengembalikan modal (bahkan harus surplus) saat duduk di lembaga legislatif?

Pathos berkaitan dengan pengalaman (experience). Dari pengalaman yang dimiliki seorang calon anggota legislatif, diharapkan dia dapat memberi kontribusi besar bagi bangsa dan negara. Sementara Logos berkaitan dengan logika (logic), di mana seorang calon anggota legislatif memiliki logika berpikir yang baik. Dia harus memiliki alasan logis mengapa dia bersedia (atau berambisi) menjadi calon anggota legistaltif, lebih dari sekedar gengsi pribadi maupun keluarga. (http://indonesiainvestmenttalk.blogspot.com/2009/03/kriteria-caleg-ideal-ethos-pathos-logos.html)

Sederhananya selain kriteria diatas dan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012, saya kira ada baiknya jika caleg kita juga memiliki kriteria seperti: harus punya moral dan integritas, punya pengetahuan yang memadai tentang daerah dan bangsa, punya pengetahuan tentang legislatif dan punya ideologi dan keberpihakan yang jelas terhadap rakyat kecil.

Oleh karenanya, sudah saatnya  rakyat lebih cerdas dalam memilih caleg, minimal dengan memperhatikan rekam jejak sang caleg sehingga tidak tidak mudah terbuai dan tertipu dengan janji-janji kosong. (***)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s