Lipuku

Ancaman “Petaka” Dibalik Postingan Ibrahim Waworuntu

ImageKopi postingan akun facebook Ibrahim Waworuntuh di grup Radar Manado Berita Biro Bolmong Raya….”____Oi sdh ada kajian Lolayan rupa,,,,Kalau menurut kita Lolayan tepat gabung KK,,,(Krn budayanya berbeda),,,,,Maju teruss PBMR yess,,,BOLTENG yesss,,,,,,”  dan “”__,,Mendukung sepenuhnya Passi-Lolayan gabung KK,,,(Tdk cocok gabung BOLTENG, krn beda budaya),,__”

Saya tidak mempermasalahkan pendapat tentang bergabungnya Lolayan ke KK. itu sah-sah saja, dan merupakan kekayaan dalam perang wacana, selama itu punya landasan jelas tentunya. agi saya dimanapun Lolayan digabungkan, itu tdk jadi persoalan, selama alasannya jelas dan berdasarkan kajian akademik yang matang.

Namun untuk alasan sensitf saya kira perlu dikritisi. Misalnya pandangan bahwa Lolayan lebih cocok masuk KK dan tidak cocok masuk Bolteng karena budayanya berbeda. MAKSUDNYA…??????

Bagi yang mempunyai nalar sehat, dengan mercermati kalimat ini pasti akan berasumsi bahwa, Lolayan (Mongondow) tidak cocok digabungkan dengan Bolteng (sebagian besar bukan Mongondow) karena semata-samat alasan perbedaan budaya, beda suku. Saya yakin postingan ini pasti punya maksud terselubung. Saya berani katakan mempunyai maksud terselubung karena postingan penolakan penggabungan Lolayan ke Bolteng karena alasan berbeda budaya sudah diposting lebih dari satu kali, jelas ada unsur kesengajaan. Lebih tepatnya sengaja untuk mewacanakan ini.

Saya sendiri belum begitu paham apa maksud terselubung dari postingan ini. Yang jelas, tujuan postingan ini dalam analisa saya justru semakin memperjelas, bahwa ada upaya untuk membuat Bolteng dikuasai satu budaya saja (budaya mayoritas). Yang bahayanya hal ini justru mengarah pada upaya penguasaan tanah dari pemilik tanah itu sendiri (dalam hal ini mongondow). Ini ujung-ujungnya justru berdampak pada kesenjangan sosial-ekonomi di wilayah itu. Apa bedanya dengan perampasan atau penjajahan terselubung?

Tidak penting bagi saya, siapa sosok asli makhluk “gaib” yang mengunakan akun IW ini. Namun bagi saya postingannya tersebut cukup berbahaya dalam menjaga stabilitas di BMR. Postingan ini tersirat makna yang justru menuai ancaman “petaka” dimasa mendatang. Saya tidak ingin rakyat BMR berfikir bahwa kehadiran etnis pendatang di BMR justru membawa negatif, dengan kesan merasa tertindas. Saya sangat “ngeri” membayangkan jika saja rakyat BMR merasa tertindas di rumah sendiri. Semut yang dipandang lemah-pun akan berusaha melawan dengan gigitan jika terinjak atau rumahnya diganggu.

Kasus-kasus yang berbau –SARA- yang pernah terjadi di negeri ini sudah cukuplah membuat kita dewasa. Belum hilang dari ingatan kita tragedi Sampit di Kalimantan Tengah. Serasa belum kering air mata akibat duka dari tragedi yang memakan ribuan korban akibat perang etnis suku Dayak dan Madura tersebut.

Berkaca dari tragedi sampit ini, banyak Versi tentang latar belakang tragedi ini. Diantara sebab yang menyulut pertikaian di sampit ini yang saya kutip untuk Anda, diantaranya: sebab suku Dayak di Kalteng begitu kalap dalam menghadapi warga Madura, ada versi yang mengungkapkan bahwa karena kecemburuan sosial ekonomi. Selain itu suku Dayak di Sampit selalu “terdesak” dan selalu mengalah. Dari kasus dilarangnya menambang intan di atas “tanah adat” mereka sendiri karena dituduh tidak memiliki izin penambangan. Ada juga kasus pembunuhan orang dayak yang justru akibat aksi premanisme Etnis Madura yang merugikan masyarakat Dayak karena. Etnis madura yang juga punya latar belakang budaya kekerasan ternyata menurut masyarakat Dayak dianggap tidak mampu untuk beradaptasi (mengingat mereka sebagai pendatang). Sering terjadi kasus pelanggaran “tanah larangan” orang Dayak oleh penebang kayu yang kebetulan didominasi oleh orang Madura. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu perang antar etnis Dayak-Madura. (baca: http://www.mentari.biz/peristiwa-memicu-tragedi-sampit-dayak-vs-madura.html)

Menurut Prof. Hendro Suroyo Sudagung, dalam disertasinya bertajuk Migrasi Swakarsa Orang Madura ke Kalimantan Barat, bahwa pertikaian yang sering terjadi antara Madura dan Dayak dipicu rasa etnosentrisme yang kuat di kedua belah pihak. Semangat persukuan inilah yang mendasari solidaritas antar-anggota suku di Kalimantan. Situasi seperti itu diperparah kebiasaan dan nilai-nilai yang berbeda, bahkan mungkin berbenturan. Misalnya, adat orang Madura yang membawa parang atau celurit ke mana pun pergi, membuat orang Dayak melihat sang “tamu”-nya selalu siap berkelahi. Sebab, bagi orang Dayak, membawa senjata tajam hanya dilakukan ketika mereka hendak berperang atau berburu. Tatkala di antara mereka terlibat keributan dari soal salah menyabit rumput sampai kasus tanah amat mungkin persoalan yang semula kecil meledak tak karuan, melahirkan manusia-manusia tak bernyawa tanpa kepala. (Sumber: www.liputan6.com ).

Kita bisa mengambil pelajaran dari kisah sampit tersebut. Tujuannya agar jangan sampai kita mengulang tragedi suram, ditengah bangsa saat ini yang butuh persatuan karena mulai tergerus oleh disintegrasi. Pertikaian atau perang atas nama apapun tidak akan pernah dimaafkan. Meski begitu, kita tidak bisa memungkiri bahwa pemantik konflik terutama antara etnis pribumi dan pendatang akan selalu ada, sehingga apinya juga sewaktu-waktu bisa menyalah. Tugasnya kita semua adalah meredam itu. Bagaimana caranya? Itu butuh kesadaran kita semua.

Mungkin, sudah saatnya kita mulai merenungi falsafah bijak leluhur kita, “dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung”. Semoga dengan memahami falsafah tersebut, kita akan tetap memandang dalam bingkai “ika” (persatuan) meskipun sejatinya kita “bhineka” (berbeda). Bhineka tunggal ika, berbeda namun tetap satu jua. Natua dega..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s