Lipuku

“Expansionisme Brutal” Danau Moat ?

KONFLIK tapal batas memang bukan barang langkah di Negeri ini. Tapal batas belakangan menjadi tolok ukur penegasan teritorial. Bahkan tak jarang persoalan tapal batas seringkali meluber hingga ke masalah penegasan identitas kewilayahan.

Pembagian batas wilayah serta penentuan tapal batas di Negara ini sejatihnya merupakan produk penjajah. Sebelumnya wilayah kekuasaan di nusantara bersifat cair, dalam artian tidak mengenal batas wilayah secara pasti, karena yang dikuasai bukan wilayahnya melainkan orangnya. Bolaang Mongondow sendiri baru mengenal apa itu batas wilayah (enclave) nanti tahun 1901.

Penentuan batas-batas wilayah ini dimulai setelah masuknya Gubernemen Belanda di Bolaang Mongondow. Dari sinilah mulai dikenal swapraja-swapraja diantaranya: swapraja Bolaang Mongondow, swapraja Bintauna, swapraja Bolaang Uki, dan swapraja Kaidipang Besar. Akibat penentuan enclave, wilayah Rololuo (Doloduo) yang sebelumnya milik Kerajaan Bintauna ditukar dengan Batulintik miliknya Kerajaan Bolaang Mongondow.

Masuknya Gubernemen Belanda ini pula memberikan penegasan bahwa Bolaang Mongondow dikuasai seutuhnya. Bisa dikatakan pula Bolaang Mongondow baru dijajah secara menyeluruh nanti pada tahun 1901 ini.

Sejauh ini, permasalahan tapal batas di Bolaang Mongondow Raya (Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Selatan, Bolaang Mongondow Utara, dan Kota Kotamobagu) masih banyak yang belum terselesaikan. Baik permasalahan tapal batas di internal wilayah Bolaang Mongondow Raya saja maupun dengan daerah tetangga.

Diantara permasalahan tapal batas tersebut, konflik tapal batas antara Bolaang Mongondow Timur dan Minahasa Selatan belakangan menjadi topik hangat dibahas media se-Sulawesi Utara. Tidak jarang permasalahan tapal batas ini dikait-kaitkan dengan agenda pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya (PBMR). Perundingan demi perundingan telah dilakukan kedua daerah untuk mencari solusi terkait permasalahan ini. Kedua wilayah pun sudah menyepakati beberapa titik batas wilayah. Namun diantara kesepakatan tersebut, permasalahan danau moat seakan tidak berujung. Dari banyak perundingan pembahasan danau moat selalu mandeg. Mengapa demikian? Tulisan ini coba mengungkapkan sisi lain kepemilikan danau moat.

Sebuah berita di manado.tribunnews.com berjudul “Masalah Tapal Batas Minsel Boltim Sudah Ada Kesepakatan” yang menjelaskan tentang kesepakatan antara Boltim-Mitra terkait sengketa danau moat perlu dikritisi.

“Pada pertemuan kemarin, akhirnya Boltim yang diwakili oleh Asisten I, menyepakati sesuai dengan permintaan dari Pemkab Minsel,” jelas Tusrianto Rumengan, Kabag Pemerintahan Minsel. Ia menambahkan, yang disepakati adalah, batas danau diambil garis lurus, membelah danau, namun hanya beberapa persen saja yang masuk wilayah Minsel. “Jadi pesisir yang masuk di Wilayah Minsel, itu masuk wilayah administrasi Minsel, dan dikelola oleh Minsel, juga pengurusan administrasinya juga, kalau mau bikin usaha, urus di Minsel, ” kata dia. (baca:http://manado.tribunnews.com/2013/12/02/masalah-tapal-batas-minsel-boltim-sudah-ada-kesepakatan)

Permintaan Pemkab Minsel yang diaminkan Pemkab Boltim yang diwakili Asisten 1 sebagaimana dijelaskan dalam berita tersebut jelas merupakan petanda kekalahan Boltim dalam mempertahankan wilayah danau moat seutuhnya. Permintaan Pemkab Minsel yang disepakati Pemkab Boltim tersebut adalah, batas danau diambil garis lurus membelah danau, meski hanya beberapa persen saja yang masuk wilayah Minsel.  Ketika acuan hukum tapal batas tersebut selesai disusun Permendagri secara otomatis Boltim akan kesulitan lagi mengklaim kepemilikan seutuhnya danau moat. Padahal sebelumnya kedua sebelum adanya pemekaran, wilayah danau moat seutuhnya merupakan milik Bolaang Mongondow.

Wakil Bupati Boltim, Medy Lensun juga sudah menegaskan bahwa danau moat milik Boltim seutuhnya. “Soal Boltim-Minsel, tidak ada masalah dan danau Moaat memang masuk boltim secara menyeluruh,” tegasnya. (baca: http://manado.tribunnews.com/2013/11/28/lensun-tak-ada-masalah-danau-moat )

Keinginan Pemkab Minsel agar tapal batas ditarik lurus memotong sebagian danau moat sebagaimana yang disampaik Kabag Pemerintahan, Pemkab Minsel Tusrianto Rumengan dalam analisa saya terinsiprasi dari tulisan sejarah. Lebih tepatnya tulisannya ML Maukar, SH., seorang penulis asal Minahasa yang juga mantan Hukum Besar/Kewedanan Motoling. Saya pernah menulis permasalahan danau moat ini di situs lenteratimur.com setahun lalu, tepatnya pada Desember 2012, dengan judul “Danau Moat Siapa Punya?”

ML Maukar, mengatakan bahwa konflik antara Bolaang Mongondow dan Minahasa terkait status Danau Moat adalah kisah lama yang sempat mencuat kembali pada 1968. Menurut penulis buku penyusun Sejarah Kecamatan Modoinding ini, Danau Moat telah dibagi dua dengan persetujuan Raja Bolaang Mongondow. Pembagian itu dimulai dari hulu sungai Poigar, ditarik garis lurus ke tengah danau, sampai di seberang pada titik yang ditandai dengan tumpukan-tumpukan batu yang ditancapkan tiang besi.

Kemudian, dengan perintah Gubernur Sulawesi Utara pada 9-12 Maret 1968, kedua belah pihak, yakni pemerintah Minahasa dan Bolaang Mongondow, duduk semeja di Desa Guaan Kecamatan Modayag. Tujuannya untuk merundingkan tapal batas antara kedua kabupaten.

Bisa diduga berdasarkan hal tersebut, sehingga saat ini sebagian Danau Moat termasuk dalam wilayah Minahasa. Ini dapat dilihat dari peta batas administratif antara kedua wilayah pada 2011.

Peta Batas Administratif Bolaang Mongondow Timur-Minahasa Selatan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Daerah tentang Tata Ruang Tata Wilayah Provinsi Sulawesi Utara.
Peta Batas Administratif Bolaang Mongondow Timur-Minahasa Selatan tahun 2011 berdasarkan Peraturan Daerah tentang Tata Ruang Tata Wilayah Provinsi Sulawesi Utara.

Kisah sengketa tapal batas kedua wilayah ini bisa dibilang memang bukan hal baru. Masing-masing kubu selalu berusaha menegaskan batas teritorialnya. Untuk itu referensi sejarah yang otentik pun diperlukan untuk dijadikan landasan dalam penyelesaian sengketa.

Meski bagi masyarakat Bolaang Mongondow, Danau Moat merupakan miliknya secara utuh. Namun bagi Minahasa, danau ini diyakini telah dibagi dua oleh Residen Manado Van Rhyn pada 1938.

Akan tetapi, jika dikatakan Danau Moat telah dibagi dua pada 1938 atas persetujuan Raja Bolaang Mongondow, hal tersebut justru bertolak belakang dengan peta 1938. Di peta tahun tersebut, Danau Moat sepenuhnya masuk ke dalam wilayah teritori Kerajaan Bolaang Mongondow.

Peta Batas Bolaang Mongondow-Minahasa tahun 1938. Sumber: Overzichtelijke wegenkaart der Minahasa.
Peta Batas Bolaang Mongondow-Minahasa tahun 1938. Sumber: Overzichtelijke wegenkaart der Minahasa.

Kalaupun dalam perundingan di Desa Guaan Kecamatan Modayag pada Maret 1968, permasalahan tapal batas kedua wilayah telah diselesaikan. Belum ada bukti otentik yang secara pasti menjelaskan bahwa sebagian wilayah danau moat telah diberikan Bolaang Mongondow kepada Minahasa. Pada peta Bolaang Mongondow-Minahasa tahun 1971 berikut misalnya, danau moat masih milik Bolaang Mongondow.

Peta Batas Bolaang Mongondow-Minahasa tahun 1971. Sumber: KITLV.
Peta Batas Bolaang Mongondow-Minahasa tahun 1971. Sumber: KITLV.

Pada peta ini, Danau Moat masih tetap berada sepenuhnya di wilayah administrasi Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow. Dengan letak di tepi garis batas wilayah.

Saya kira dokumen-dokumen sejarah ini penting dijadikan acuan untuk memulai diskusi sejarah. Bukan niatan untuk menyingkap kembali tabir kelam antar kedua wilayah. Melainkan tujuannya semata untuk menghamparkan bukti demi menyelesaikan sengketa, agar tidak aka ada lagi yang merasa dirugikan.

Jangan sampai terjadi sebuah pengklaiman wilayah dengan cara sewenang-wenang atau “Expansionisme Brutal” mengutip bahasanya Ingenieur Oemar Mokoginta. Hal ini disampaikan Ingenieur Oemar Mokoginta dalam surat terbuka kepada Gubernur Sulawesi Utara. Dimana dalam arsip tersebut dijelaskan bahwa Danau Moat sepenuhnya milik Bolaang Mongondow. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s