Sejarah

Letjend Ahmad Yunus Mokoginta: Sebuah Catatan Melawan Lupa

Oleh: Donald Qomaidiansyah Tungkagi

Ahmad Yunus Mokoginta -- Doc TEMPO
Ahmad Yunus Mokoginta — Doc TEMPO

“Seorang kombatan ataupun perwira yang berdarah merah putih harus memiliki keberanian. Tetapi yang terpenting adalah, seorang kombatan harus ikhlas jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan ketika sedang bertugas”.

Begitu petuah yang diajarkan Letjen Ahmad Yunus Mokoginta tatkalah mendidik anaknya Marsekal Pertama Santos Mokoginta. Petuah tersebut syarat dengan makna heroik. Pengabdiannya yang begitu besar terhadap bangsa sedikitnya tercermin dalam petuah tersebut. Kepribadian yang mencerminkan keberanian membela bangsa serta ikhlas meskipun harus mengorbankan nyawa tersebut patut diteladani.

Ahmad Yunus Mokoginta, nama yang baru saya kenal ketika menginjakkan kaki di bangku kuliah. Nama ini begitu asing bagi anak muda yang lahir di era-awal 1990-an seperti saya. Kalaupun ada, itupun secuil informasi saja, bahwa beliau merupakan salah satu tokoh asal Bolaang Mongondow  yang berkiprah di kanca nasional.

Tahunya bahwa Ahmad Yunus Mokoginta merupakan orang Bolmong, ya, dari marganya. Mudah saja, karena semua yang bermarga Mokoginta, bisa dipastikan itu putra Bolaang Mongondow. Sama halnya ketika orang menyebut marga, Sitompul, Hutapea, Sitohang, dll itu dari Batak. Marga Kawilarang, Lasut, Worang, itu pasti dari Minahasa. Marga, Habibie, Uno, Jasin, Wartabone, dll, itu dari Gorontalo.

Sekitar 3 tahun lalu, di awal-awal masa kuliah, saya mulai menelusuri siapa Ahmad Yunus Mokoginta ini. Kalau di Bolaang Mongondow, nama beliau biasa disebut AY Mokoginta saja. Saking sering disebut AY Mokoginta, saya justru pernah salah kaprah, dengan menyangkah bahwa nama beliau adalah (maaf) “Aye Mokoginta”.

Belakangan saya baru tahu, penyebutan AY Mokoginta untuk Ahmad Yunus Mokoginta itu karena dipengaruhi budaya di Bolaang Mongondow sebagai bentuk penghormatan. Di Bolaang Mongondow ada budaya pantangan untuk “mo ratak tangoi guranga/guhanga” atau menyebut dengan lugas nama orang tua atau yang dituakan. Bagi orang Bolaang Mongondow menyebut nama orang tua secara langsung menimbulkan kesan negatif, tidak sopan. Tidak heran, dijaman saya sekolah dulu, ketika ada seorang teman yang menyebut nama orang tua saya, itu bisa menimbulkan perkelahian, seringkali justru berujung adu jotos dan saling serang bogem mentah.

Di Bolaang Mongondow bagi orang yang sudah berkeluarga/menikah atau mempunyai jabatan yang dijadikan status sosial, namanya sudah mulai disingkat dengan mengunakan huruf depan nama saja, kemudian disusul dengan marga. Kecuali Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Buku Nikah, biasanya urusan yang berhubungan dengan pencatatan nama justru memakai nama singkatan seperti ini. Sedangkan nama panggilan untuk orang yang sudah menikah dan mempunyai anak, maka disematkan nama anaknya yang pertama. Kalau sudah mempunyai cucu, maka disematkan namanya memakai cucu pertama. Misalnya nama ayah saya; Djuliadi Tungkagi, biasanya di kartu undangan sering disebut  Dj. Tungkagi,  karena saya anak pertama maka nama panggilan sehari-hari ayah saya: Papa Donald. Seperti itu. Sempat juga saya berfikir, bahwa mungkin kebiasaan seperti ini yang membuat penulisan sejarah Bolaang Mongondow menjadi sukar untuk direkonstruksi, atau kalaupun bisa, pastinya membutuhkan kerja yang super-duper keras.

Kembali ke Ahmad Yunus Mokoginta, tanpa bermaksud untuk kurang sopan dengan penyebutan nama beliau, saya kira penyebutan nama beliau dengan lengkap akan lebih memudahkan kita untuk mengenal beliau dan seperti apa perjuangan dan peran serta beliau dikanca nasional hingga internasional.

Tanpa berniat untuk mengkultuskan individu – marga siapapun– saya hanya mencoba mengungkapkan secara jujur apa saja kiprah dan karya beliau dengan mengumpulkan berbagai informasi yang terserak di dunia maya. Tujuannya hanya satu, agar generasi muda Bolaang Mongondow menemukan patron untuk dijadikan teladan, serta menjadikan pemantik api semangat dalam meneruskan pembangunan Bolaang Mongondow lebih baik dimasa mendatang.

Semangat Patriotik Warisan Ayah

Ahmad Yunus Mokoginta lahir pada 28 April 1921, di Kotamobagu, Sulawesi Utara. Kotamobagu sendiri memiliki arti Kota Baru yang sebelumnya berada di Desa Sia, Kotamobagu Utara sekarang. Karena terjadi gejolak dari penduduk yang menolak perampasan tanah oleh Belanda untuk perluasan kota, maka rencana perluasan kota dipindahkan di Kotamobagu sekarang, yang nanti terwujud pada tanggal 30 April 1907.

Beliau dilahirkan tepat dimana rasa kebangsaan dan keislaman mulai menggeliat di Bolaang Mongondow. Hal ini pasca masuknya Syarekat Islam pada tahun 1920, yang dibawah Maksun Lubis yang diutus langsung  H.O.S. Cokroaminoto untuk membuka cabang Syarekat Islam di Molinow, Kecamatan Kotamobagu Barat sekarang.

Lahir dari kalangan aristokrat Bolaang Mongondow, Yunus Mokoginta sering digambarkan sebagai orang yang tegas dan mempunyai disiplin tinggi. Darah keturunan kerajaan Ahmad Yunus Mokoginta dapat dari ayahnya Abraham Patra Mokoginta yang merupakan cucu sekaligus cicit raja Bolaang Mongondow. Neneknya Bua’ Dabo adalah putri Raja Abraham Sugeha. Sedangkan kakeknya Abo’ Mundung Mokoginta merupakan anak dari Abo’ Namug Mokoginta (Penghulu Passi) yang menikah dengan bua’ Mohondi, yang merupakan putri Raja Jacobus Manuel Manoppo.

Di beberapa catatan, Yunus Mokoginta dituliskan sebagai sosok yang senantiasa berbusana rapi hal yang khas bagi seorang pejabat negara dan pejabat militer. Raut wajahnya penuh wibawa namun ramah sebagai orang tua, serta ketika berbicara langsung tidak bertele-tele dan langsung fokus pada masalah yang dibicarakan kemudian menguraikannya secara sistematis.

Pada usia 5 tahun, sekitar tahun 1926, Yunus kecil dibawah ayahnya hijrah ke Jawa.  Bisa dibilang keberanian, militansi, serta kekuatan hati Yunus Mokoginta dikemudian hari merupakan hasil didikan dan teladan dari ayahnya, Abraham Patra Mokoginta. Ayahnya merupakan seorang Jogugu (Perdana Menteri) Kerajaan Bolaang Mongondow di masa Raja D.C Manoppo, yang “diasingkan” di Batavia oleh Belanda karena mendukung gerakan Syarekat Islam di Kotamobagu.

Di masa-masa pengasingan di Batavia inilah yang menumbuhkan semangat nasionalisme Abraham Patra Mokoginta. Kedekatannya dengan beberapa tokoh seperti Mohammad Husni Thamrin, Douwes Dekker dan Sam Ratulangi di Batavia inilah yang turut serta memupuk dan menyuburkan semangat nasionalismenya. Semangat seperti ini yang kemudian diturunkan kepada Ahmad Yunus Mokoginta.

Perjalanan Karir dan Perjuangan

Perjalanan pendidikan hingga karir Ahmad Yunus Mokoginta dimulai dari AMS pada masa perang pasifik dan menjadi Kopral Kadet KMA (Konninklijk Militaire Academie) Bandung sekitar tahun 1939, Menjadi Kapten TKR pada tahun 1945 bersama dengan AE Kawilarang meski kemudian berbeda pandangan, Wakil Komandan KRU X dengan pangkat Letnan Kolonel, menjadi Komandan Hijrah Divisi Siliwangi, menjadi Komandan CPM Djawa.

Saat pendudkan Jepang dan masa-masa menjelang dan setelah Proklamasi, terlibat dalam gerakan pemuda. Mokoginta bergerilya di Jawa Barat saat perang Revolusi. Pernah menajdi ajudan Jenderal Urip Sumohardjo. Serta pernah menjabat Komandan Polisi Militer Daerah Jawa, menggantikan Gatot Soebroto (1948-1950).

Panglima Teritorium VII Let Kol, Anggota Fact Finding Commission, Komandan SSKAD/SESKOAD Kolonel, Command and General Staff College Fort Leavenworth Kansas USA Brigjend, Deputy Menpangad, Pangandahan Sumatera Mayjend, Dubes Luarbiasa dan berkuasa penuh untuk Mesir,Libanon,Sudan dan Maroko Letjend, Dirut PT. Tri Usaha Bhakti, Penggagas Forum Study dan Komunikasi AD, Anggota Yayasan lembaga Kesadaran Berkonstitusi, Penandatangan Petisi 50 bersama Ali Sadikin dan Jendral Polisi Hoegeng, dkk.

Saat menjabat sebagai Komandan Tentara Tentorium di Indonesia Timur, AY Mokoginta bersama stafnya ditangkap oleh pasukan bekas tentang KNIL yang dilebur kedalam APRIS dibawah pimpinan Kapten Andi Azis.

Selain itu hasil nyata kerja AY Mokoginta selama bekerja di pulau sumatra juga patut dijempol. Mokoginta menjadi penginisiator lahirnya lembaga sosial yang mewakili kepentingan masyarakat adat di Sumatera Barat yang diberi nama Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM). Mokoginta juga membuat suatu konsep pembangunan sumatera secara menyeluruh yang belakangan dikenal sebagai Plan Mokoginta. Mokinta juga turut memprakarsai pemugaran makam  Amir Hamzah  yang oleh sastrawan HB Jassin dijuluki Raja Penyair Pujangga Baru. Mokoginta  wafat tahun 1984 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata Jakarta.

Catatan Yang Katanya Hitam dari AY Mokoginta

Selain catatan putih dari AY Mokoginta sebagaimana yang penulis jelaskan diatas, terdapat juga informasi terkait “catatan hitam” dari tokoh ini selama beliau bertugas. Yang penulis maksud catatan hitam ini sengaja diberi tanda petik sebagai penegasan subjektifitas penilaian segelintir orang. Kalaupun apa yang dilakukan AY Mokoginta itu memang harus disebut sebagai catatan hitam. Informasi ini sengaja penulis hadirkan dalam catatan ini demi menjaga keberimbangan, minimal untuk meminimalisir pengkultusan kepada tokoh yang ditulis.

Dalam catatannya Dr.Alexander Tjaniago bertajuk “67 Tahun Republik Indonesia” disebutkan bahwa pada saat AY Mokoginta bertugas di Sumatra, di Gayo-Aceh atas Instruksi beliau sebagai Komandan Territoroium Sumatra, dilakukan pembunuhan besar-besaran terhadap PKI . Pada Oktober-November1965, sejumlah 6000 Manusia ( PKI ), dan seterusnya berjalan legalisasi pembunuhan, setiap Minggu 3000 Manusia (PKI) dibunuh, 10 500 Tahanan PKI di Sumatra-Utara kemudian semuanya dibunuh. 40 00 Buruh Plantage Teh dan Karet Tanjungmorawa bersama keluarga dibunuh habis, mereka PKI. ( Ann Laura Stoler, “Capitalism and Confrontation in Sumatra’s Palantation Belt.1870-1979″, Ann Arbor 1995).

Sumber:

El-qudsi, Achsin. Kesederhanaan Marsekal Pertama Santos Mokoginta. Tersedia pada  http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/14/kesederhanaan-marsekal-pertama-purn-santos-mokoginta-193832.html di akses 10 Desember 2013

Tangi, Ilham Ambo. Menolak Kolonialisme, Menonton Film Barat di Kota Makasar Tahun 1950-an. Makalah ini dipresentasikan di ITP International Symposium, Kyoto University Jepang, 2-6 Desember 2011.

Tjaniago,  Dr.Alexander. 67 Tahun Republik Indonesia. Tersedia pada http://jakarta45.wordpress.com di akses 10 Desember 2013

http://id.wikipedia.org/wiki/LKAAM diakses 10 Desember 2013

http://www.anakpesisir.com/2012_11_01_archive.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s