Sejarah

Gelora Kebangkitan Sejarah Bolaang Mongondow

Donald Qomaidiansyah Tungkagi

Peta Bolaang Mongondow; sumber: melayuonline.com
Peta Bolaang Mongondow; sumber: melayuonline.com

Berkaca dari Gorontalo

Setiap tanggal 23 Januari di Gorontalo selalu ramai dengan berbagai kegiatan. Momentum peristiwa tanggal 23 Januari 1942 telah ditetapkan sebagai hari patriotik yang akan tetap diingat oleh masyarakat Gorontalo, karena pada saat itu di bawah kepemimpinan Nani Wartabone, Gorontalo mampu dibebaskan dari penjajahan Belanda.

Dituliskan dalam buku “23 Januari 1942 dan Nasionalisme Nani Wartabone” yang diterbitkan Dikbud Provinsi Gorontalo tahun 2004, di depan alun-alun rumah Asisten Residen (sekarang rumah dinas Gubernur Gorontalo), Nani Wartabone menyampaikan pidato singkat yang dianalogikan sebagai proklamasi kecil di daerah. Pidato tersebut, antara lain: “ Pada hari ini tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada disini sudah merdeka, bebas, lepas dari penjajahan manapun juga. Bendera kita adalah merah putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintah Belanda telah diambil alih oleh pemerintahan Nasional”.

Menurut Joni Apriyanto dalam buku “Sejarah Gorontalo Modern: Dari Hegemoni Kolonial ke Provinsi” peristiwa 23 Januari 1942 menjadi fakta sejarah yang tidak terbantahkan bahwa di Gorontalo telah terjadi perlawanan kolektif rakyat yang berhasil menangkap aparat pemerintah kolonial belanda dan segera mendirikan pemerintahan yang merdeka oleh putra-putri sendiri. Motif intinya adalah ingin merdeka, ingin hidup lebih baik sebagai manusia yang berderajat. Semangat dari peristiwa ini yang kemudian menjadi titik kulminasi perjuangan rakyat Gorontalo menuju terbentuknya provinsi.

Deklarasi yang dibacakan oleh Nelson Pomalingo didampingi Nasir Mooduto pada 23 Januari 2000, dihadapan sekitar 30.000 rakyat Gorontalo yang memadati gelanggang 23 Januari 1942, menjadi fakta sejarah bahwa rakyat Gorontalo menyatakan sikap mendukung sepenuhnya pembentukan Provinsi Gorontalo.

Berkaca dari sejarah Gorontalo tersebut, satu hal yang dapat kita tarik sebagai sebuah pembelajaran adalah bahwa pehamanan dan pemaknaan terhadap sejarah begitu besar efeknya di masa kini dan mendatang. Sejarah ternyata bisa dijadikan alasan untuk untuk melakukan perubahan di masa depan. Dalam artian memahami sejarah tujuan untuk menarik energi pada masa lampau, mengumpulkannya di masa kini, dengan tujuan mendorong masa depan yang lebih baik.

Memang dari segi penafsiran sejarah, Gorontalo sudah lebih maju dibanding Bolaang Mongondow. Gorontalo mampu membuktikan itu, dimana peristiwa 23 Januari 1942 mampu dijadikan semangat menuju pembentukan provinsi Gorontalo yang ditandai dengan deklarasi 23 Januari 2000. Lebih luas lagi hal ini dilakukan Bung Karno, dimana beliau senang sekali menyampaikan masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai doktrin historis demi mempersatukan Indonesia.

Inilah yang dalam tafsiran saya merupakan pesan tersirat dari istilahnya Hasyim Wahid, “Memahami Masa Lalu, Melihat Masa Kini, Untuk Merancang Masa Depan” yang dijadikan judul tulisannya dalam Pitutur, No.1, edisi Juli 2001. Lebih lanjut menurut Hasyim Wahid, guna memahami masa lampau secara objektif dan merancang secara utuh visi (kebangsaan) masa depan, maka kita dapat mengklasifikasi perjalanan bangsa ini dari yang diketahui menuju yang tak diketahui.

Pertanyaannya kemudian, adakah perjalanan sejarah Bolaang Mongondow yang bisa diklasifikasi untuk dijadikan spirit dalam merancang masa depan?

Tafsir Sejarah Baru, Haruskah Ditentang?

Diakui atau tidak, penulisan sejarah kita di Bolaang Mongondow masih jauh dari yang diharapkan. Kendala kurangnya sumber referensi, hingga jebakan kerangkeng budaya mooaheran ‘negatif’ (pengkultusan, penghormatan, pernghargaan berlebihan) membuat penulisan sejarah kita terkesan kurang objektif. Padahal pengungkapan sejarah dengan objektif yang ditulis setelah melalui filter kritis historiografi sangat penting bagi perancangan masa depan Bolaang Mongondow. Hal ini untuk membentuk kesadaran sejarah yang lebih utuh tentang jatih diri Bolaang Mongondow berikut persoalan-persoalan fundamentalnya.

Tanpa berniat mengesampingkan pengetahuan folklor lisan tentang sejarah Bolaang Mongondow, penulisan sejarah Bolaang Mongondow melalui jalur-jalur studi ilmiah sudah saatnya digalakkan. Selain kesadaran masyarakat, peran stakeholder dan pemerintah daerah terhadap ini sangat diperlukan berada di barisan paling depan.

Lebih dari itu, masyarakat Bolaang Mongondow juga sudah harus mengubah cara berfikirnya supaya bisa mencapai tujuan dari penulisan sejarah yang universal, yang secara khusus dapat diartikan terciptanya tulisan sejarah yang dapat dipahami oleh semua orang, baik dari dalam maupun luar Bolaang Mongondow, yang tak terdidik maupun kalangan terdidik. Misalnya, bisa dimulai dengan menempatkan budaya mooaheran secara positif agar tidak ada belenggu lagi dalam langka penulisan sejarah kita. Ini juga demi mengikis cara berpikir kita yang terkesan “a-historis” yaitu tidak atau kurang sadar akan masa lampau dan kaitannya dengan kekinian dan masa depan Bolaang Mongondow.

Meski begitu, William H. Frederick dan Soeri Soeroto dalam “Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Revolusi” menekankan bahwa sejarah dan masa lampau merupakan dua hal yang berbeda. Dalam pengertian yang lebih luas, yang dimaksud dengan istilah “sejarah” bukanlah “masa lampau”, melainkan proses pemikiran sehingga masa lampau dapat dipahami. Dengan demikian maka sejarah merupakan tafsiran, suatu upaya pemikiran manusia dengan kekuatan dan kelemahannya. Masa lampau itu tidak bisa dihidupkan lagi, tetapi sejarah – sebagai proses pemikiran yang digunakan manusia untuk mengerti diri sendiri dalam kerangka waktu – sama sekali tidak bisa dimatikan.

Karena memahami bahwa pemikiran atau penulisan sejarah lebih merupakan sebuah penafsiran masa lampau dari penulisnya, maka segala penafsiran tentang sejarah Bolaang Mongondow dalam tataran yang objektif otentik dan berlandasan ilmiah saya kira perlu dipandang positif. Justru keliru, dalam hemat saya, jika hadirnya tafsir yang baru tentang sejarah Bolaang Mongondow kita tolak mentah-mentah tanpa terlebih dahulu kita cernah. Apalagi jika alasannya hanya karena berbeda dengan apa yang ditulis sebelumnya, atau berbeda dengan apa yang kita yakini saat ini.

Perbedaan penafsiran sejarah Bolaang Mongondow saat ini sangat diperlukan agar tidak terjadi penafsiran mutlak, apalagi mengarah pada penyeragaman penafsiran. Penafsiran sendiri membutuhkan tolok ukur dari individu yang menafsirkan, tolok ukur itu sendiri sifatnya relatif karena dipengaruhi oleh waktu, lingkungan, dan tingkat pengetahuan si penafsir. Sehingganya tugas dari penafsir itu sendiri adalah memenuhi segalah syarat yang diperlukan guna menghasilkan penafsiran yang objektif sehingga bersedia merevisi atau bahkan meninggalkan hasil pemikirannya jika menemukan hal yang lebih baik. Tentang hal ini, Imam Syafi’i pernah berkata: “Dalam setiap diskusi, saya tidak pernah menolak siapapun yang menemukan kebenaran: saya atau mitra saya”.

Yang saya sangat sesalkan sampai saat ini adalah ketika melihat ada orang yang terkesan lebih hebat dari Imam Syafi’i. Misalnya di beberapa diskusi terkait dengan sejarah Bolaang Mongondow di dunia maya, masih banyak masyarakat kita yang terkesan antipati dengan penafsiran baru tentang sejarah Bolaang Mongondow. Bahkan tidak sedikit yang dengan tegas menolaknya. Padahal seharusnya tidak demikian, yang kita butuhkan adalah menghargai perbedaan.

Kalaupun dikemudian hari terdapat penafsiran sejarah Bolaang Mongondow yang baik yang diyakini membawa dampak besar dalam memberikan semangat menuju perubahan, mengapa tidak sejarah tersebut diulang dalam wujud kekinian. Seorang Filsuf Perancis pernah berkata, D’historie Serepette (sejarah bisa berulang), pengulangan tersebut bisa dengan alamiah ataupun didesain kembali menyesuaikan dengan waktu kekinian.

Kalaupun seandainya terdapat penafsiran yang meyakinkan bahwa perlu ada rekonstruksi secara menyeluruh terhadap penafsiran dan penulisan sejarah kita, mengapa tidak jika memang itu yang harus kita lakukan. Jika demikian, sikap yang kita butuhkan adalah secara lebih luas menurut Hasyim Wahid – mengutip kalimat Ortega Y Gasset, kita harus mengerti sejarah dalam keseluruhannya, bukan untuk mengulanginya tetapi untuk meninggalkannya.

Namun yang harus dicatat adalah meski telah ada rekonstruksi sejarah yang baru, tidak serta merta kita menolak penafsiran orang-orang terdahulu. Kita tetap harus menghormati mereka, karena mereka berjasa memberikan pengalaman dan pemikiran, paling tidak telah menjadi bahan pelajaran dan renungan. Kita tidak dibenarkan menolak penafsiran mereka dengan berdalih bahwa itu penafsiran lama dan menerima penafsiran yang baru dengan anggapan semua yang baru sesuai dengan konteks kekinian. Menariknya, terkait hal ini prinsip “Al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslah” (memelihara yang lama yang masih relevan dan mengambil yang baru yang lebih baik) menjadi rumusan yang tepat.

Perlu Rekonstruksi Penafsiran Sejarah

Meski sejarah merupakan sebuah penafsiran, tidak serta merta membuat semua penafsiran tentang sejarah dipandang sama. Sebagai contoh kita angkat isu yang lagi diperdebatkan di grup PUSTAKA BOLMONG antara kisah-mitologi-mitos-legenda “Mokodoludut” di Bolaang Mongondow dan “Wali Songo” di Jawa.

Bagi saya pribadi, membaca sembari sedikit mengkritisi antara “kisah” Mokodoludut dan Wali Songo cukup menarik, sebab berdasarkan referensi yang ada, keduanya diyakini hidup dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh. Mokodoludut diperkirakan hidup sekitar tahun 1400-1460, sedangkan Wali Songo menurut perkiraan dibentuk pada pertengahan dasawarsa 1470-an.

Tentang kisah Mokodoludut buku yang sering jadi rujukan, saya kira karyanya Chaeroel Makalalag berjudul “Mokodoludut dan Pemerintah Punu di Bolaang Mongondow” tahun 2006. Dimana menurut Chaeroel, para Bogani berhimpun dan membentuk satu komunitas besar, yang selanjutnya dipimpin oleh seorang Punu’ Molantud atau “Pimpinan Tertinggi”. Gelar Punu’ Molantud itu sendiri untuk pertama kali disematkan kepada Mokodoludut usai disepakati dan memangku jabatan pada tahun 1400-1460.

Pengangkatan Mokodoludut menjadi Punu’ Molantud dikarenakan, kelahirannya yang penuh dengan keajaiban. Dimana secara singkat dapat dikisahkan bahwa Mokodoludut lahir dari telur duduk, dan ditemukan oleh Inalie dan Amalie. Karena keajaiban tersebut banyak orang yang datang berbondong-bondong untuk melihatnya, saking banyaknya orang yang datang melihat, langkah kaki orang-orang yang datang tersebut membuat tanah bergemuruh atau doludut. Fenomena inilah yang kemudian dijadikan nama Mokodolodut, yang berarti membuat gemuruh.

Masih menurut saya pribadi, sekilas kisah Mokodoludut tersebut tidak jauh berbeda dengan “legenda” kalaupun tidak bisa disebut sebagai mitologi, karena mitologi mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan dewa dan mahluk halus dalam sebuah kebudayaan. Legenda itu sendiri menurut KBBI berarti “cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah”. Legenda biasanya tidak memberikan perincian fakta, penguatan bukti dan lain sebagainya, padahal ini yang dibutuhkan pada masa sekarang.

Kisah tentang Punu’ pasca Mokodoludut seperti Yayungbangkai, Damopolii, Butiti/Busisi, Makalalo/Makalalag, Mokodompit dan Tadohe tidak jauh berbeda, untuk saat ini (sekali lagi menurut saya, dengan penekanan) masih sukar disebut sebagai tulisan sejarah. Padahal keturunan punu’-punu’ tersebut diyakini ada hingga saat ini, dengan asumsi misalnya saat ini kita tidak sulit menemukan orang Bolaang Mongondow bermarga  Damopolii, Makalalag dan Mokodompit.

Kisah Wali Songo juga tidak jauh berbeda nasibnya menurut saya, ketika membaca buku kisah Wali Songo yang saya dapatkan di perpustakaan sekolah dulu. Dimana diceritakan bahwa Wali Songo dengan  kesaktian atau karomah yang dimilikinya mampu memperlihat hal-hal yang ajaib, sehingga membuat rakyat Jawa pada waktu itu berbondong-bondong masuk Islam. Cerita tentang Wali Songo pada dalam buku tersebut tidak jauh berbeda dengan cerita legenda, meskipun asumsi yang ada bukti kebenaran Wali Songo terkait dengan terdapat makam dari para Wali Songo yang sampai saat ini tidak pernah sepi dari peziarah.

Historiografi Jawa, Cirebon dan Banten, menurut Agus Sunyoto menggambarkan tokoh-tokoh Wali Songo dengan berbagai kisah keramat. Masing-masing tokoh dikisahkan memiliki kemampuan suprahuman berupa karomah-karomah yang menakjubkan yang dengan cepat menarik perhatian masyarakat untuk di Islamkan. Sempat terbit buku karya Sjamsudduha berjudul “Wali Songo tak Pernah Ada?”, yang menurut Agus Sunyoto buku tersebut berisi asumsi-asumsi argumentatif bahwa yang disebut Wali Songo sebagai sebuah lembaga dakwah yang beranggotakan sembilan orang tokoh wali penyebar Islam di Jawa itu tidak pernah ada. Bahkan pengingkaran terhadap keberadaan Wali Songo dalam penyebaran agama Islam di Indonesia semakin nampak tatkalah buku “Ensiklopedia Islam” terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve tidak mencantumkan satu kalimatpun tentang Wali Songo.

Namun belakangan, pemahaman mitologi tentang Wali Songo seakan runtuh ketika pada tahun 2012, Agus Sunyoto mempublikasikan hasil penelitiannya lewat buku berjudul “Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah”. Dimana melalui buku tersebut Agus Sunyoto membeberkan bukti-bukti historis yang meyakinkan terkait dengan sejarah Wali Songo. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA pada kata pengantar buku tersebut mengakui bahwa: “Dalam membaca sejarah Wali Songo, selama ini kita selalu terombang-ambing antara mitos dan fakta. Akibatnya, ketika menyampaikannya, kita merasa kurang yakin. Tetapi, dengan memperoleh pijakan historis yang kuat seperti buku ini, kita akan lebih yakin untuk menyebarkannya serta dalam mempelajari strategi perjuangan mereka”. Selain itu, Prof. Dr. Mundardjito Guru Besar Arkeologi di Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa: “Atlas Wali Songo menyediakan latar belakang kesejarahan yang memadai dengan dasar ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan”.

Berkaca dari penafsiran ulang sejarah Wali Songo dalam bentuk penelitian yang lebih komprehensif tersebut, ternyata kebenaran sejarah dengan bukti otentik nan ilmiah yang mampu dipertangungjawabkan dapat dihadirkan. Meski pernah (masih) dianggap sebagai mitos, saya kira dalam arti sempit terdapat satu perbedaan mendasar antara mitologi “Mokodoludut” dan “Wali Songo”. Yakni, dengan adanya rekonstruksi penafsiran sejarah akhirnya “mitologi” Wali Songo mampu dipatahkan dan berubah menjadi sejarah Wali Songo. Sedangkan “Mokodoludut” dengan penafsiran yang ada saat ini, secara jujur saya katakan meski disebut “sejarah” Mokodoludut, dalam penyajiannya tetap lebih mirip mitologi-dongeng ketimbang sejarah.

Tafsir Agus Sunyoto tentang sejarah Wali Songo, betapapun terbentuk oleh kepentingan masa kini, namun bagi pembaca (terutama saya pribadi) tafsiran tersebut memenuhi sebagian besar kebutuhan tentang sejarah. Dalam karya ini saya lebih mendapat gambaran sejarah yang lebih mudah dimengerti. Sehingga tidaklah keliru jika dikatakan bahwa karya ini merupakan sejarah yang lebih memuaskan dan dapat diterima oleh dunia kotemporer.

Olehnya itu, perlu ada penafsiran sejarah Mokodoludut dengan parameter historiografi, sehingga Mokodoludut dapat bebas dari persepsi mitos. Memulai penafsiran tentang sejarah Mokodoludut, menurut saya justru merupakan langkah awal dalam mendesain mata rantai penafsiran sejarah Bolaang Mongondow secara menyeluruh. Dengan penafsiran kembali sejarah ini, mau tidak mau akan membuka titik terang, meleburkan mitologi Gumalangit menjadi sejarah ataukah tetap sebuah mitologi, namun yang pasti mengarahkan kita terhadap jatih diri Bolaang Mongondow sebenarnya.

Sudah saatnya kita (Bolaang Mongondow), keluar dari pandangan eksklusif dan menutup diri dari penafsiran baru terhadap sejarah. Sudah saatnya kita mencoba memberi penafsiran baru terhadap sejarah kita, menjadi sejarah yang bersifat universal. Sehingga sejarah kita tidak hanya dinikmati dan dipahami oleh segelintir manusia Bolaang Mongondow saja, melainkan dapat dibaca oleh seluruh manusia minimal yang ada di Indonesia.

Meski demikian, sebelum menuju pada penafsiran sejarah tersebut, perlu juga kita renungkan pendapat William H. Frederick dan Soeri Soeroto yang mengatakan: “kita tidak boleh melupakan bahwa perbedaan penafsiran sejarah yang “baik” atau “cocok” dan sejarah yang “buruk” atau “tidak cocok” itu bersifat nisbi tidak mutlak, karena perbedaan tersebut terikat seluruhnya pada pola-pola pemahaman dan kebudayaan masyarakat dewasa ini”.

Sehingganya, saya kira perlu ada penekanan, bahwa tulisan saya terkait catatan tentang Mokodoludut dan Wali Songo bukan dalam rangkah membanding untuk mendapatkan kesimpulan mana lebih unggul diantara keduanya. Bahkan William H. Frederick dan Soeri Soeroto yang memadang bahwa mengatakan sebuah karya lebih baik dari karya lain sama saja dengan mengatakan  karya itu “benar” dan yang lainnya “salah”.

Saya dengan segenap hati mencoba menghindari pandangan itu. Karena bisa jadi, bagaimanapun juga bagi masyarakat Bolaang Mongondow penafsiran dan pemahaman tentang Gumalangit, Mokodoludut, dan lain sebagainya itu lebih luas pesan dan cakupannya dibandingkan yang tertulis dalam buku-buku saat ini. Jika sejarah tidak pernah lepas dari rentang waktu, maka dalam kurun waktu berabad-abad yang lalu bagi masyarakat Bolaang Mongondow, tafsir sejarah tentang Gumalangit, Mokodoludut dan sebagainya justru lebih unggul.

Walaupun begitu saya tidak ragu membayangkan, jika rekonstruksi penafsiran sejarah Bolaang Mongondow ini benar-benar terjadi, maka tidak akan menunggu lama lagi, kita akan menyonsong gelora kebangkitan penulisan sejarah di Bolaang Mongondow. Dengan demikian bisa dipastikan arah perubahan menuju kebangkitan Bolaang Mongondow dimasa depan akan lebih mudah dirancang. Jangankan hanya merancang perubahan gerakan menuju Provinsi Bolaang Mongondow Raya sebagaimana yang dicita-citakan rakyat saat ini, merancang yang lebih besar dari itupun saya yakin bisa.

Dalam catatan kali ini saya mengajak kepada pembaca, khususnya orang Bolaang Mongondow mari seobjektif mungkin merekonstruksi sejarah kita. Sejarah kita adalah jatih diri kita. Mari kita gelorakan kebangkitan sejarah Bolaang Mongondow, demi perubahan di masa mendatang lebih baik. Motobatu Molintak ko Bolaang Mongondow Raya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s