Renungan

Merenungi Nasib Negeri “Siput”

Jika dilihat seksama gambar peta Bolmong Raya mirip siput. Boltim (Leher-Kepala), Bolsel (Kaki), Bolmong Induk-Bolmut (Cangkang/Rumah siput), Bolteng (perut) dan Kotamobagu (jantung).
Jika dilihat seksama gambar peta Bolmong Raya mirip siput. Boltim (Leher-Kepala), Bolsel (Kaki), Bolmong Induk-Bolmut (Cangkang/Rumah siput), Bolteng (perut) dan Kotamobagu (jantung).

Diskusi di Asrama Bogani (Asrama Mahasiswa Bolaang Mongondow) di Kota Gorontalo pada malam itu terasa begitu hangat, sekumpulan anak muda berkumpul untuk membedah kondisi daerahnya Bolaang Mongondow (Raya). Segalah topic tentang Bolaang Mongondow menjadi hangat dibicarakan, baik Sejarah, Budaya, Adat, hingga Pembangunan campur aduk untuk dilahap sebagai bahan.

Ada satu hal menarik, tatkalah tiba pada pembahasan terkait lambannya pembangunan disegala bidang di Bolaang Mongondow. Seorang teman sempat nyeletuk, “wajarlah Bolmong lamban depe pembangunan, so dapa lia di peta, Bolmong sama deng kalumbi’ (siput)”. Artinya sudah wajar Bolaang Mongondow (Bolmong) pembangunannya lamban, kelihatan di peta saja seperti siput. Diskusi yang tadinya serius, sempat riuh karena tawa. Tepatnya menertawakan kondisi tanah lahir, sembari merenggangkan pikiran. Tidak berarti penghinaan, melainkan menjadi renungan.

Sampai saat ini, celutukkan teman tersebut terus menjadi gangguan dalam pikiran saya. Sepertinya benar, kalau kita melihat peta administrasi Bolaang Mongondow diatas, selintas memang mirip siput. Dimana Bolmong Utara dan Bolmong Induk sebagai posisi cangkangnya, Bolmong Timur sebagai kepala, Bolmong Selatan sebagai kaki, Kotamobagu bisa diibarakan sebagai jantungnya, dan Bolmong Tengah kedepan sebagai perutnya.

Siput terkenal sebagai hewan yang berjalan super lamban. Adanya kemiripan tersebut, tak pelak menyembulkan pandangan bahwa pembangunan di Bolaang Mongondow sudah wajar lamban selamban jalannya siput.

Saya sempat diderah sikap pesimis. Pernah suatu ketika saya berfikir bahwa kemiripan tersebut merupakan petanda sebuah kodrat pembangunan di Bolaang Mongondow memang lamban. Bahkan bisa jadi Bolmong akan selamanya menjadi daerah yang terbelakang karena kondisi tersebut. Kondisi saat ini kian mengukuhkan citra tersebut. Sejak Kabupaten Bolaang Mongondow mengalami sejumlah pemekaran. Tahun 2007 dimekarkan Kota Kotamobagu dan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Pada tahun 2008 dimekarkan lagi menjadi Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Sampai saat ini belum ada pembangunan yang cukup berarti. Bahkan pengelolaan keuangan daerah di sebagian besar daerah tersebut justru mendapat citra buruk (disclaimer) dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI.

Selama tiga tahun berturut-turut, 2011, 2012, dan 2013 kabupaten bolaang mongondow mendapat disclaimer. Bolmong utara mendapat disclaimer tahun 2011 dan 2012. Bolmong timur mendapat disclaimer tahun 2011.

Meski begitu, bukan berarti kita larut dalam kekecawaan melihat kondisi daerah tersebut. Perasaan inferior tidak bisa terus-terusan di pupuk, sebab tidak membawa faedah sama sekali. Bukankah Tuhan berkata dalam kitab suci, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri” (QS, Arraad:79).

Sampai disini kita akan memahami bahwa ketika kita berusaha dengan sekuat tenaga maka kita akan tetap mencapai hasil yang diharapkan. Tidak selamanya siput itu lamban. Bolmong harus menjadi negeri siput yang cerdas. Bukankah banyak cerita rakyat yang menggambarkan bagaimana seekor siput yang cerdas bisa menang lomba lari dari hewan-hewan yang diciptakan berlari cepat. Sebut saja kisah siput dan kelinci, dan yang paling terkenal kisah siput mengalahkan kancil dalam lomba lari.

Jika kita mau berusaha, saya yakin tidak ada yang mustahil. Bagi yang pernah menonton film Turbo pasti akan setuju bahwa mimpi yang mustahil bisa saja tercipta. Film yang disutradarai David Soren ini menceritakan tentang Theo alias Turbo seekor siput taman yang memimpikan untuk menjadi pembalap terbesar di seluruh dunia, seperti idolanya Guy Gagne pemenang berturut-turut dalam ajang Indianapolis 500.

Turbo sangat terobsesi dengan segala hal yang berhubungan dengan kecepatan, hal itu pun membuat ia menjadi aneh dan terasingkan di lingkungan siput yang lambat. Theo sangat ingin keluar dari kehidupan lambat yang ia jalani saat itu, saat itu terjadilah sesuatu yang merubah kehidupannya.

Hal aneh terjadi ketika ia mengalami kecelakaan tersedot ke dalam mesin mobil balap dan DNA-nya tercampur dengan cairan NOx atau Nitrous Oxide yang membuat dirinya memiliki kekuatan super cepat, ketepatan, sama seperti karakteristik sebuah mobil. Meski hanya film fiksi, namun pesan-pesan positif dalam film ini sangat membangun semangat untuk maju. Tidak ada mimpi yang terlalu besar, dan tidak ada pemimpi terlalu kecil. “No dreams were too big or small“, demikian kutipan yang diyakini Turbo, yang bisa kita jadikan semangat dalam mendorong masa depan, dengan memimpikan perubahan di Bolaang Mongondow menjadi lebih baik di masa mendatang.

Saya kira, sudah saatnya kita membebaskan diri dari belenggu inferior. Merasa diri seperti siput, lamban bergerak, dan terkesan tidak bisa berbuat apa-apa. Justru ketika kita mau untuk memandang lebih jauh kedepan, yakinlah kita akan bisa mendapatkan apa yang kita impikan. Seperti sebuah kisah inspiratif berikut dari siput yang saya kutip dari situs http://www.majalahinfovet.com.[1]

Syahdan, di awal musim semi, seekor siput memulai perjalanannya memanjat pohon ceri. Beberapa ekor burung di sekitar situ memandangnya dengan perasaan geli. ”Dasar siput bego!” kata seekor burung tertawa mengejek.

”Hai siput tolol! Mau ngapain kau memanjat pohon itu?” kata burung lain. Burung yang satu ini bermaksud  baik, mengingatkan agar siput tidak usah menghabiskan energi memanjat pohon. ”Di atas sana tidak ada buah ceri!” teriaknya.

Siput tetap memanjat pohon dengan penuh semangat. ”Pada saat saya tiba di atas, pohon ceri ini telah berbuah,”

Cerita ini dikutip dari buku Recharge Your Life karya Haryo Ardito yang dikenal dengan julukan Die Hard Motivator. Moral dari cerita ini, kata Haryo Ardito adalah bahwa orang yang berpandangan jauh ke depan dapat melihat harapan di balik kekosongan. Sedang mereka yang hanya berpikir ”hari ini” melihat kekosongan sebagai kesia-siaan.

Pandangan jauh ke depan di sini adalah melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh logika umum dan mulai melakukan action untuk meraih masa depan tersebut meskipun banyak orang mengabaikannya atau bahkan mengejeknya. Dalam logika normal, orang yang memandang jauh ke depan bisa terlihat tolol, tapi kelak orang akan melihat dia adalah pemimpin yang cerdas.

Dalam konteks membangun Bolaang Mongondow juga diperlukan pandangan jauh kedepan. Pandangan yang tidak hanya merancang masa depan, melainkan segera melakukan (action). Saat ini mungkin kita masih tertinggal dengan daerah lain. Namun saya yakin dan percaya, dengan karunia sumber daya alam (SDA) yang kita miliki serta ditunjang pontensi sumber daya manusia (SDM) yang memadai, niscaya masa gemilang Bolaang Mongondow tak lama lagi akan diraih. Motobatu Molintak kon Bolaang Mongondow Raya!. (***)

Gorontalo, Kamis 19 Juni 2014

[1] Sumber: http://www.majalahinfovet.com/2010/01/kisah-siput-tolol.html, diakses 19 Juni 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s