Lipuku

Berkarya dengan Hati: In Memoriam Anuar Totabuan Syukur

Anuar Totabuan Syukur, sumber: Facebook
Anuar Totabuan Syukur, sumber: Facebook

Oleh: Donald Qomaidiansyah Tungkagi

“Assalamualaikum, utat minta kesan-kesan tentang sosok Almarhum ATS di mata pa ente”, begitu bunyi pesan singkat di telpon genggam saya. Saya pun buru-buru melakukan konfirmasi apakah ATS yang dimaksud adalah Anuar Totabuan Syukur. Setelah mendapat kepastian bahwa salah satu budayawan di Bolaang Mongondow ini telah berpulang, saya sempat kaget, setengah tidak percaya mendengar kabar duka itu. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT, teriring pula doa agar keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.

Catatan ini sengaja saya tulis sekedar untuk berbagi kenangan terkait sosok Anuar Sukur di mata saya kepada pembaca. Terinformasi sekitar pukul 15.00 WITA, pada Sabtu (18/10/204), Bang Anuar (panggilan akrab saya) menghadap Sang Pencipta. Dari kabar yang saya dapat, sebelumnya beliau memang memiliki riwayat penyakit jantung.   Saya memang tidak sampai menangis terisak-isak mendengar kabar duka tersebut, namun bukan berarti tidak bersedih. Sedihnya itu di hati. Sebab yang namanya kehilangan dan perpisahan akan selalu menyisahkan kesedihan mendalam. Terutama bagi yang mengenal cukup dekat siapa sosok Anuar Syukur.

Secara intens saya mengenal Bang Anuar memang belum terlalu lama. Perkenalan tersebut menemui titik puncak ketika saya menjadi koordinator bedah novel karyanya di Asrama Bogani Gorontalo pada tahun 2011 lalu. Setelah acara itu, hubungan kami menjadi sangat akrab. Saya sesekali mengunjungi beliau, ketika pulang kampung karena libur kuliah. Meski setelah saya wisuda, komunikasi kami sempat terputus karena kesibukan masing-masing.

Bang Anuar orangnya sederhana. Enak di ajak diskusi. Beliau juga tempat saya bertanya seputar perkembangan sejarah dan kebudayaan Bolaang Mongondow. Terkadang via sms atau melalui chating di facebook.

Selain sebagai budayawan muda, Bang Anuar bagi saya merupakan sosok pemberi cahaya gerbang literasi kebudayaan di Bolaang Mongondow. Karya-karyanya hadir menerangi gelapnya budaya literasi di daerah kita. Meski tak jarang mendapat tantangan, namun bagi Bang Anuar, lebih baik menyalahkan lilin ketimbang mengutuk kegelapan. Secara tidak langsung Bang Anuar membuktikan bahwa putra daerah juga berkemampuan untuk membaca dan menulis jika kemampuan itu senantiasa dilatih.

Beliau menulis narasi berlatar kondisi dan kebudayaan lokal Bolaang Mongondow dalam tulisannya. Bang Anuar merupakan peletak dasar tulisan sastra warna lokal di Bolaang Mongondow. Sastra warna lokal disini sangat nampak dari karyanya. Berbentuk novel yang mengungkapkan banyak hal tentang warisan, tradisi, nilai, dan simbol budaya Bolaang Mongondow.

Bang Anuar juga tidak bosan mengingatkan kami kaum muda di Bolaang Mongondow untuk menulis, hingga membukukan tulisan itu. Beberapa kali terlibat diskusi dengannya, saya melihat Bang Anuar termasuk orang yang gelisah memikirkan perkembangan budaya daerah. Akibat kegelisahan itulah, Bang Anuar menggagas kelompok penulis di Bolaang Mongondow yang beliau namai kelompok MOBOIS  yang merupakan singkatan dari Mobaca bo Momais (membaca dan menulis). Dimana dirinya berharap melalui kelompok tersebut lahir generasi yang bisa menulis dengan tema lokal dan mengangkat potensi daerah.

Gagasan MOBOIS ini pertama kali beliau wacanakan saat melihat besarnya antusias anak muda Bolaang Mongondow untuk bisa menulis saat membeda novelnya. “Kalau bukan kita yang memulai siapa lagi. Budaya dan sejarah Bolaang Mongondow jika tidak diabadikan dengan tulisan maka akan jadi mitos” begitu pesan beliau.

Sejauh ini, dalam membangkitkan dunia kepenulisan di daerah, Bang Anuar menemui banyak rintangan. Pahit getirnya dinamika perjuangan tersebut tetap beliau lalui hingga menutup usia.  Salah satu rintangan perjuangan itu beliau gambarkan dalam catatan pribadi di blognya sebagai berikut “ketika bicara tentang dunia penulisan di Bolmong Raya, cukup banyak yang memandang nyinyir ke saya. Mereka bilang ini hanya kepentingan pribadi saja. Tapi semua itu tentu tak menyurutkan langkah. Walau bergerak perlahan namun tetap dilakukan. Mogaid kon onu in ko’aidan”. Bekerja untuk apa yang bisa dikerjakan itu moto yang sering Bang Anuar sampaikan.

Memang tak banyak orang yang mau dan mampu menulis dengan latar daerah sebagai objeknya. Disamping bergengsi rendah, karya bertema daerah juga profitnya kecil. Banyak kali justru kurang mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Meski begitu, Bang Anuar –menurut saya– justru mengesampingkan semua itu. Beliau tetap konsisten menulis sejarah dan kebudayaan Bolaang Mongondow yang beliau kemas dengan narasi novel sebagai ciri khasnya.

Bang Anuar seringkali dikecewakan pemerintah daerah karena karya-karyanya kurang di apresiasi. Meski begitu Bang Anuar tidak menyalahkan pemerintah. Padahal dirinya turut serta berkontribusi dalam melestarikan kebudayaan daerah. Jangan tanya apa yang daerah berikan untukmu, melainkan apa yang telah engkau berikan untuk daerah. Senantiasa berkontribusi untuk daerah melalui keahlian yang dimiliki, ini menjadi laku diri Bang Anuar yang tercermin dalam falsafah mogaid kon onu in ko’aidan.

Sepengetahuan saya, karir kepenulisan Bang Anuar dimulai ketika merantau ke Jawa. Artikelnya pernah diterbitkan di beberapa media di sana. Beberapa cerpen dan cerita bersambungnya pernah di terbitkan harian Malang Post dan Koran Sinar Harapan Jakarta. Dari honorarium menulis itu Bang Anuar gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup dan membiayai kuliah di negeri orang.

Beberapa karyanya pernah merambah kanca nasional diantaranya novel “Jatuhnya Sang Bintang” terbitan Balai Pustaka, novel “Perjuangan Keluarga yang Tertindas” terbitan Balai Pustaka, novel “Fatamorgana” terbitan Berada Malang, novel “Relasi Hitam Sang Aktivis” terbitan Gerbang Fasifik. Karyanya berjudul “Perlawanan Sang Penyekar” pernah terbit bersambung di harian nasional Sinar Harapan tahun 2004,. Selain itu ada beberapa karya bertema lokal diantaranya novel “Duka di Tengah Bahagia”, novel “Lain yang Ku Dapat”, buku “Orang Kota Coy”dan masih banyak lagi.

Dapat kita lihat bahwa hanya karya Bagi Bang Anuar yang bersifat umum diterbitkan penerbit nasional, sedangkan karya beliau yang bersifat lokal pasca kepulangannya dari Jawa sangat sulit diterbitkan. Demi mendukung perjuangannya untuk menerbitkan karya bertema daerah Bang Anuar mendirikan penerbit sendiri bernama Gerbang Fasifik. Meski begitu dirinya juga kesulitan untuk mendapat dana percetakan. Bang Anuar juga telah meminta pengambil kebijakan di daerah untuk membantu, namun hanya segelintir saja yang memberi apresiasi. Bahkan karyanya dikecam, karena dijadikan laksana jajanan Koran di pinggir jalan, “… dibeberapa tempat saya dikecam karena telah menjadikan buku/novel laksana Koran namun saya tak begitu menanggapi. Saya piker, mereka akan sadar ketika ketika mereka melakoni sendiri” ungkap Bang Anuar dalam catatannya.

Hemat saya, bisa saja Bang Anuar menjadi penulis besar di luar daerah jika dirinya tidak pulang kampung. Namun bagi Bang Anuar kepulangannya ke daerah untuk member kontribusi langsung kepada tanah kelahirannya. Sikap Bang Anuar ini begitu kontras dengan tokoh-tokoh daerah yang telah sukses di luar daerah namun tidak memikirkan nasib kampung halamannya. Pulang kampung bagi Bang Anuar justru demi merasakan lebih dekat nuansa alam dan budaya tanah leluhur sebagai objek tulisannya.

Dari sikap inilah sehingga menurut saya, penyematan gelar Budayawan kepada Bang Anuar bukan sesuatu yang berlebihan. Sebagaimana sifatnya, seorang budayawan akan senantiasa berkonsentrasi dan masuk pada keadaan kehidupan yang sebenarnya. Inilah yang membedakannya dengan ilmuan. Meski ilmuwan dan budayawan sama-sama ingin mencari kebenaran, tapi ilmuwan cenderung berkonsentrasi pada pemahaman terhadap literatur yang sebanyak-banyaknya untuk kemudian diadakan satu penelitian untuk uji kebenaran.

Ibaratnya bila ilmuwan bak memanjat menara gading dengan teropong yang mampu menembus detil-detil cakrawala dan sekali-sekali turun untuk membuktikan kebenaran yang dilihat dengan teropongnya maka budayawan akan berjalan mengelilingi cakrawala melihat satu-satu kehidupan kemudian sekali-sekali naik ke menara untuk menentukan arah wilayah cakrawala mana yang belum dikunjungi. Budayawan akan mampu membuat satu rangkaian kehidupan berdasarkan penghayatan perjalanannya dari ujung cakrawala yang satu ke ujung cakrawala yang lain. Memang tidak akan selengkap dan sedetil apa yang dapat dilihat seorang ilmuwan akan tetapi budayawan dapat memasuki lorong-lorong gua kehidupan yang tidak akan tampak dilihat dari puncak menara dengan teropong secanggih apapun.

Menjadi seorang Budayawan itulah kerja yang dilakukan Bang Anuar setelah kepulangannya dari Jawa hingga beliau dipanggil sang Maha Kuasa. Bang Anuar mencoba untuk pulang kampung demi memasuki lorong-lorong gua kehidupan yang tidak terdeteksi oleh para pakar –akademisi– sejarah kebudayaan Bolaang Mongondow lainnya. Dari kegiatan merenungi dan menceritakan kebudayaan itulah sehingga Bang Anuar telah mengumpulkan puluhan karya. Karya-karyanya telah beredar hingga merambah nasional, bisa dijumpai di Gramedia se Jabotabek, Bandung, Makasar, Lampung, Batam. Setidaknya, itu menjadi bukti dan cerita bagi generasi muda Bolaang Mongondow, bahwa dirinya telah berkarya untuk mempertahankan dan memperkenalkan identitas Bolaang Mongondow di depan bangsa lain.

Melalui karya-karyanya seakan Bang Anuar menitipkan pesan tersirat bahwa masih banyak hal yang perlu digali dan dibanggakan dalam kebudayaan Bolaang Mongondow. Kearifan-kearifan tersebut yang selalu ia ingin munculkan dalam karya-karyanya. Untuk itu hemat saya, untuk jasa besar itu tidak berlebihan jika mendapat penghargaan dari Pemerintah Daerah. Tidak hanya untuk Bang Anuar, namun untuk budayawan dan tokoh lainnya yang pernah berkontribusi bagi daerah. Pemerintah daerah diharapkan juga dapat lebih memperhatikan karya-karya putra daerah di masa mendatang.  Sekedar kritikan juga, janganlah terlalu sibuk dengan simbolisasi pemberian gelar adat, karena kebudayaan Bolaang Mongondow jauh lebih besar substansinya dari semua itu.

Mengenal Anuar Sukur baik secara langsung maupun dengan membaca karyanya, membuat saya sadar bahwa membaca kearifan lokal sangat penting menjadi kesadaran bagi setiap insan di Bolaang Mongondow yang kini tengah menghadapi krisis kedaerahan. Pepatah Latin mengatakan verba volant srcipta manent (yang terucap lenyap dan yang tertulis tetap), kita perlu menuliskan kearifan masa lalu, menjadikan pelajaran berharga atas setiap kearifan dalam menghadapi permasalahan dan mewariskannya dalam bentuk tertulis kepada generasi berikutnya sebagaimana yang dirintis Bang Anuar itu. Beliau terus berkarya dengan hati, meski seringkali langkahnya dicueki hingga dicaci.

Semoga kepergian Bang Anuar bukan membuat kebangkitan penulisan sejarah dan kebudayaan kita menjadi redup. Melainkan justru sebaliknya perjuangan yang dirintis Bang Anuar harus menjadi spirit baru bagi generasi selanjutnya untuk berkarya demi daerah sebanyak-banyaknya.

Selamat jalan bang Anuar Totabuan Syukur. Sukur moanto karena telah menambah panjang langka kesadaran berkebudayaan di Bolaang Mongondow. Salam tabi bo tanob, semoga sumbangsi yang engkau berikan untuk tanah leluhurmu, dijadikan pahala dan amal jariyah oleh Allah SWT.  Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s