Sejarah

19 Desember dan Momentum Patriotisme

Oleh: Donald Q. Tungkagi, S.Pd

(Pernah dimuat di Harian Media Totabuan edisi 22 Desember 2014)

PATRIOTISME adalah sikap yang berani, pantang menyerah dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Patriotisme berasal dari kata “patriot” dan “isme” yang berarti sifat kepahlawanan atau jiwa pahlawan, atau  dalam bahasa Inggris disebut “heroism” dan “patriotism”. Pengorbanan ini dapat berupa pengorbanan harta benda maupun jiwa raga.

Sayangnya belakangan semangat patriotisme ini semakin memudar karena kealpaan kita yang disebabkan pengaruh budaya dari luar kurangnya pengetahuan sejarah lokal daerah. Untuk itu catatan ini sengaja dihadirkan sebagai upaya sadar untuk melawan lupa terkait sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Bolaang Mongondow.

Saya kira peristiwa-peristiwa patriotik tersebut amatlah menarik dan tidak hilang aktualitasnya untuk di korelasikan dengan kondisi kita saat ini. Sengaja saya tuliskan kembali dan kemudian di publikasikan dengan tujuan untuk me refresh ingatan akan sejarah kita. Ada pameo yang cukup berkembang, bahwa jika ingin menghancurkan kekuatan sebuah generasi, maka hancurkanlah ingatan akan sejarahnya. Saya amat berharap, kita tidak termasuk bagian dari itu. Dan sudah seharusnya kita keluar dari jebakan para oknum-oknum tertentu yang sengaja membuat kita amnesia akan sejarah masa lalu kita.

Hari ini, merupakan momentum sejarah bagi masyarakat Bolaang Mongondow. Pada hari ini, tepatnya 69 tahun yang lalu 19 Desember 1945, sejumlah element masyarakat yang tergabung dalam pasukan Laskar Banteng mengarak-arak Merah Putih dari Tanoyan dengan berjalan kaki untuk dikibarkan di lapangan Molinow. Peristiwa tersebut membuktikan jiwa patriotisme masyarakat Bolaang Mongondow dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru di proklamirkan oleh Sukarno dan Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945.

Momentum penuh sejarah tanggal 19 Desember ini, tidak ada salahnya jika kita sedikit merenungi pahit manisnya perjuangan para pendahulu kita dimasa lalu. Bukanlah bertujuan untuk menjebakkan diri dalam romantisme lampau tersebut. Tidaklah demikian. Melainkan demi menemukan jatih diri dan semangat yang lebih baru untuk mendorong masa depan daerah kita tercinta ini. Selain itu dengan mempelajari sejrah itu juga, kita coba merancang peta dan arah perubahan Bolaang Mongondow di masa depan. Tentunya ke perubahan yang lebih baik dari saat ini.

19 Desember Sejarahnya Rakyat

Sampai pada pendudukan Jepang, Bolaang Mongondow masih berstatus swapraja. Pada tahun 1943, H.J.C Manoppo diangkat oleh Jepang sebagai Raja Kerajaan Bolaang Mongondow. Tak lama kemudian, bersamaan dengan kemenangan sekutu dalam perang dunia ke-2, yang dipertegas dengan menyerahnya Jepang kepada sekutu. Belanda-NICA kembali ke Bolaang Mongondow dan mengukuhkan kedudukan raja Bolaang Mongondow setelah sebelumnya Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya.

Tak ayal, dengan kembalinya Belanda ini menimbulkan kegojalak politik hampir diseantero Nusantara, termasuk Bolaang Mongondow tak luput terkena imbasnya. Kembalinya Belanda tersebut merupakan imbas dari gejolak politik pasca Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 agustus 1945. Belanda bersama pasukan sekutu tiba di Manado pada tanggal 10 Nopember 1945 meresmikan pemerintah NICA (Nedherland Indie Civil Administration) yang berpusat di Tomohon, dengan dipimpin seorang Residen (Keresidenan Manado). Tomohon dijadikan sebagai markas KNIL.

Paska kedatangan Belanda memboceng NICA. Dalam rangkah mempertahankan kedaulatan NKRI tersebut Bolaang Mongondow tidak tinggal diam. Kehadiran Belanda yang mulai memasuki Bolaang Mongondow membuat jiwa patriotisme para pejuang di daerah meningkat. Ini terbukti dengan dibentuknya pasukan gerilya Laskar Banteng Republik Indonesia Bolaang Mongondow pada tanggal 14 Oktober 1945.

Pasukan ini dibentuk dan diberi nama oleh Johan Faisal Kasad Damopolii, yang nama banteng konon diambil dari nama Bogani Antong, Antong atau Bantong, bantong berarti Banteng. Bogani Antong ini merupakan pengawal Raja Laloda Mokoagow, Ia berpasangan dengan Bogani Oyotang. Mereka dikenal sebagai Bogani yang sangat kuat dan perkasa.

Sebelumnya dikirim delegasi untuk menghadap raja Bolaang Mongondow yang waktu itu masih H.J.C Manoppo pada tanggal 12 September 1945. Raja menerima delegasi tersebut di komalig (istana kerajaan Bolaang Mongondow di kotobangon. Delegasi tersebut berjumlah 17 orang yang dipimpin Zakaria Imban. Raja menghimbau untuk membina persatuan dalm perjuanga, pertinggi disiplin serta kesetiakawanan. Tidak lupa raja berpesan agar para pejuanga untuk tidak mengajak rakyat yang masih ragu. Terutama kepada mereka yang sudah menerima terlalu banyak kebaikan Belanda.

Pimpinannya Laskar Banteng terdiri dari Johan F.K Damopolii sebagai Komandan Umum  dan diwakili Roeland Johan Rudolf (Laan) Massie. Komandan Pasukan Pria dipimpin Abdul Rahman Mokobombang, dan Komandan Pasukan Putri dipimpin Nurtina Dampolii Manggo (waktu itu masih menjadi istrinya JFK Damopolii). Pembantu umum dan staf terdiri dari Saleh Mokobombang, Adna Raupu, S.M Daun,  Aminullah T. Mokobombang, Wahab Gonibala, Abubakar Hatam dan Ismail Mokobombang.

Di pasukan putri muncul Djamilah Ansik, Hamsiah Moji, Hasnah Mokobombang dan Nurbaya Ansik. Tokoh-tokoh utama yang dijadikan pembina dan penasehat terdiri dari zakaria imban, Lour Mokobombang, Husinb Raupu, Haji saleh Mustafa, Kinompol Imban, Haji M. Daun, Ibu Raupu Mokobombang dan BY Kaadulah (yang terakhir ini merupakan pimpinan Pasukan Berani Mati di Molibagu).

Pada umumnya yang mendaftar sebagai sukarelawan adalah pemuda bekas anggota pemuda muslim dan SIAP (Syarikat Islam Angkatan Pandu). Sebagian di antara mereka semasa pendudukan jepang menjadi anggota Heiho, Jumpo (Polisi), Seinedan dan Keibodan (Pertahanan Rakyat) yang telah mendapat latihan militer. Mereka itu yang menjadi tonggak utama Laskar Banteng.

Sejak berdirinya anggota laskar banteng  secara maraton diberikan latihan kemiliteran dan disiplin organisasi, penataran tentang arti  dan tujuan perjuangan, keihlasan dan berkorban demi negara. Kepada mereka di pompakan semangat juang dan semboyan “Merdeka atau Mati”.

Diawal-awal perjuangan Laskar Banteng sudah diuji. Pada tanggal 23 Oktober 1945 siang, saat  JFK Damopolii, Abdurahman Mokobombang dan Nurtina Manggo, tengah merundingkan usaha untuk mendapatkan persenjataan, rumah JFK Damopolii dikepung NICA.  Inspektur NICA Jacob ca Beugen menyerahkan surat perintah penangkapan atas JFK Damopolii. Saat menyadari dirinya akan ditangkap dan peluang untuk selamat kecil, JFK Damopolii sempat berbisik kepada Nurtina Manggo untuk melanjutkan perjuangan, seperti dirinya berada ditengah-tenga mereka. Saat hendak dibawah NICA, JFK masih sempat menyeruhkan salam perjuangan “Merdeka atau Mati” yang langsung disambut lantang oleh orang-orang yang berkerumun “tetap merdeka”.

Meski kehilangan Pimpinan mereka, semangat para pejuang tidak sedikitpun surut. Pada hari berikutnya dilaksanakan rapat kilat pimpinan terbatas, dimana Laan Masie menggatikan posisi JFK Damopolii. Pasukan disebar dalam bentuk rayon-rayon. Markas besar dipindahkan ke perkebunan rakyat Tanoyan, sedangkan pusat latihan di hutan Mopusi yang jaraknya sekitar 20 kilometer, yang disinyalir aman dari intaian mata-mata dan intaian pasukan Belanda.

Kesadaran bahwa perjuangan mereka akan berhadapan dengan para pasukan NICA dan KNIL yang memiliki senjata, maka para pimpinan Laskar Banteng berusaha untuk mendapatkan senjata. Akhirnya atas negosiasi dan perjuangan yang tak kenal lelah, pada tanggal 19 Oktober 1945 pasukan Laskar Banteng mendapatkan sejrah dari Perwira Jepang yang bersembunyi di Hutan Mopusi. Perwira Jepang bernama Hirayama San dengan ikhlas menyerahkan senjata-senjata simpanan serta amunisinya dan berpeti-peti granat tangan. Tidak hanya itu pasukan jepang tersebut juga memberikan kain berwarna merah dan putih yang akhirnya dijahit untuk dijadikan bendera oleh pasukan Laskar Banteng.

Setelah mendapatkan sejata, latihan semakin di intensifkan dengan memakai senjata. Kemudian diadakan rapat tertutup yang dihadari pimpina laskar banteng dan para pembina dan penasehat. Di dapat suatu kesepakatan untuk melaksanakan satu gerakan pada tanggl 17 Desember 1945. Aksi tersebut berbentuk pawai akbar merah putih dengan sasaran kantor Kontroleur di Kotamobagu.

Pawai itu terdiri dari anggota pasukan putri yang masing-masing membawa bendera dipimpin oleh 4 komandan regu putri yang berseragam putih dan pita merah putih terikat di kepalah. Mereka menyelipkan pistol secara tersebunyi. Tugas mereka setiba di sasaran adalah menurunkan bendera Belanda dari tiang dan menggantinnya dengn Sang Merah Putih. Mereka tidak dibenarkan meninggalkan tugas bahkan disumpah tidak akan mundur apapun yang tejadi. Tugas mereka adalah mengibarkan bendera hingga ke ujung tiang atau mati karena diberondong senjata musuh. Meski mengetahui ancaman tersebut pada srikandi-srikandi tersebut tidak surut tekad mereka untuk melaksanakan tugas menantang maut. Mereka adalah Djamila Ansik, Hasnah Mokobombang, Hamsiah Moji dan Nurbaya Ansik.

Disamping kekuatan bersenjata Laskar Banteng, pada hari “H” akan datang pasukan tempur ‘Barisan Berani Mati” dari Molibagu yang dipimpin Husin Thanta. Dengan demikian diharapkan pasukan akan semakin besar. Namun karena berbagi kendala dan hambatan menyebabkan hari “H” Pawai Akbar Merah Putih menjadi tertunda hingga 2 hari.

Setelah sempat tertunda akhirnya rencana “Pawai Akbar Merah Putih” jadi juga pada tanggal 19 Desember 1945. Desa Molinow dijadikan sebagai tempat Konsolidasi terakhir sebelum bergerak menuju Kotamobagu. Aksi Laskar Banteng mengawali dengan upacara penaikan bendera pagi jam 08.00 di lapangan olahraga Molinow dan pengucapan ikrar bersama.

Sejak pagi buta setiap perbatasan desa yang akan dilalu pasukan Laskar Banteng dengan berjalan kaki dari Tanoyan sudah dipagari oleh barisan pengintai, terutama dari Jurusan Kotamobagu, Rumah JFK Damopolii yang terletak antara Molinow dan Motoboi (Jalan Veteran) sudah dihiasi lambaian merah putih. Abdurahman Mokobombang dan Nurtina Manggo yang memimpin aksi Merah-Putih tersebut. Rakyat dari desa-desa tetangga juga sudah mulai berkumpul di Molinow sambil membawa senjata seadanya, seperti parang, tombak dan bambu runcing, namun semangat juang yang terpancar dari wajah mereka sangat membara.

Pada tanggal 19 Desember 1945, saat hendak pawai menuju Kotambagu setelah sebelumnya mengibarkan bendera Merah Putih di markas Badule,  dan di lapangan Molinow dengan iringan lagu Indonesia Raya, pasukan Laskar Banteng di kepung oleh tentara NICA yang berintikan KNIL dan polisi kerajaan yang di pimpin oleh J. Kambey. Setelah terjadi baku tembak, J.Kambey dan pasukannyapun akhirnya mundur setelah sebelumnya Ia tertembak di kaki.

Setelah terjadi baku tembak dan dipukul mundurnya pasukan J. Kambey, terdengar ancaman akan mendatangkan pasukan KNIL yang lebih besar lagi. Ancaman tersebut bukan guyonan belaka, maka untuk menghindari korban jiwa dari kalangan rakyat, para pimpinan Laskar Banteng memutuskan agar pasukan menuju ke hutan. Sebagian pasukan lain pergi menyusup ke tangah-tengah rakyat dalam kampung.

Serangan KNIL dan Pasukan NICA ke basis Tanoyan mendapat perlawan. Meski begitu karena kehabisan amunisi dan keterbatasan senjata akhir markas tersebut baru dapat dikuasai pasukan NICA dan KNIL pada 29 Desember 1945.

Dalam catatan singkat tidak cukup untuk menjelaskan secar rinci peristiwa patriotik tersebut, penulis sarankan pembaca untuk membaca bukunya Ny. Ha. Nurtina Gonibala Manggo, “Sejarah Perjuangan Kelaskaran Banteng RI Bolaang Mongondow” dan bukunya T. Mokobombang, “Napak Tilas Mengikuti Jiwa dan Jejak Merah Putih Kawasan Utara PropinsiSulawesi Utara”.

Patriotisme dan Pembangunan

Intinya yang ingin penulis sampaikan dalam catatan ini dengan terlebih dahulu menginformasikan tentang salah satu peristiwa heroik di Bolaang Mongondow adalah agar kesadaran patriotik masyarakat terutama pemuda kembali digairahkan.Semangat patriotisme ini masih diperlukan kendati kemerdekaan Republik Indonesia sudah memasuki usia 69 tahun. Salah satu caranya adalah dengan meneladani semangat para pejuang pendahulu.

Pada masa pembangunan, patriotisme tidak lagi berwujud perlawanan bersenjata melawan kolonialisme, tetapi sudah berbentuk perlawanan terhadap kebodohan, kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan. Semangat patriotisme tersebut tercermin dalam berbagai sektor pembangunan.

Dengan semangat patriotisme tersebut, kita akan semakin cinta kepada tanah air Indonesia umumnya dan Bolaang Mongondow khususnya. Sehingga dengan rasa ini ketika kita melihat kemajuan daerah lain, akan menambah cinta kita juga kepada daerah kita sendiri dan ingin agar daerah kita juga mendapat kemajuan. Jika daerah kita ditimpa kesulitan, dan orang lain menawarkan untuk menukar dengan yang lain kita tidak akan sudi menerimanya. Dan jika Bolaang Mongondow dalam perjuangannya mendapat kedudukan yang pantas, maka kita bisa dengan bangga mengatakan “aku ini adalah putramu”.

Orang yang cinta kepada daerahnya akan berani memberikan segalah pengorbanan. Karena cinta kepada daerahnya meskipun hidupnya sengsara, dirinya tidak akan sudi menjual hak-hak rakyat untuk kepentingan orang luar. Karena kecintaan kepada daerah orang akan sudi bahkan berani menantang maut. Tanah air hargnya lebih mahal, sehingga itu orang yang mencintai tanah air akan sudi menebusnya dengan nyawa. Nilai nyawa menjadi murah buat menebus tanah air, dan mati adalah bukti cinta sejati. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan para pejuang Laskar Banteng 69 tahun silam pada 19 Desember 1945.

Hemat penulis banyak cara yang bisa dilakukan para generasi muda untuk menunjukkan rasa patriotismenya. Yakni dengan mengisi kegiatan sehari-harinya dengan hal-hal yang positif dan berguna bagi dirinya sendiri, masyarakat dan bangsa. Generasi muda yang anti patriotisme adalah mereka-mereka yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, norma sosial dan agama serta yang dapat merugikan dirinya sendiri.

Seharusnya para pemuda Bolaang Mongondow menerapkan prinsip student today, leader tomorrow. Maksudnya dalam upaya menyonsong masa depan Bolaang Mongondow para pemuda harus terus belajar meningkatkan kualitas dirinya, sehingga kelak dapat menjadi pemimpin yang baik. Caranya dengan melalui pendidikan, karena Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk jiwa patriotisme para generasi muda. Pemerintah daerah juga harus memiliki tanggungjawab untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas di Bolaang Mongondow, baik dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi

Pemerintah juga sudah saatnya mengabadikan peristiwa heroik 19 Desember tersebut agar tetap dikenang dalam sanubari masyarakat Bolaang Mongondow. Lebih dari agar peristiwa tersebut menjadi sejarahnya rakyat, yang sedemikian hingga menjadi salah motor penggerak semangat rakyat untuk memperjuangkan masa depan Bolaang Mongondow menjadi lebih baik. Sebab menbangun Bolaang Mongondow sama saja dengan membangun Indonesia. Untuk itu mari kita “Motobatu Molintak Kon Bolaang Mongondow Raya!”. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s