Lipuku

Akper Totabuan dan Hilangnya Kebanggaan Kultural

KrisisOleh: Donald Qomaidiansyah Tungkagi

Bagi saya, selain Kartini Manoppo istri Bung Karno, Letjend Ahmad Yunus Mokoginta dan Persibom (ketika masuk divisi utama), jujur sangat sulit mencari icon lain yang patut untuk dibanggakan bagi Bolaang Mongondow (Bolmong). Pandangan ini memang terkesan spekulasi, karena masih butuh topangan ilmiah, tapi itulah adanya.

Jarangnya Bolmong muncul dalam iven nasional secara tidak langsung menimbulkan mentalitas inferior masyarakat kita. Di tingkat nasional kita jarang disebut sehingga kurang dikenal, membuat kita seakan hilang kebanggaan terhadap daerah. Kondisi ini semakin memperburuk krisis identitas kultural negeri para Bogani ini.

Ada sebuah anekdot menarik yang ingin saya ceritakan. Ada orang Bolmong yang merantau untuk kuliah ke Jakarta. Saat di kampus dia ditanya oleh teman sekampus tentang asal-usulnya.

Dengan mantap anak Bolmong tersebut mengatakan, “saya dari Bolaang Mongondow”.

Temannya kemudian bertanya, “ Bolaang Mongondow itu dimana ya?”.

“Di Provinsi Sulawesi Utara” kata anak Bolmong itu.

Dengan cepat temannya tersebut berkesimpulan, “Oh, Manado”.

“Bukan Manado, tapi Bolaang Mongondow” koreksi anak Bolmong itu.

“Ya sama saja, se-provinsi sama Manado kan?” kata temannya lagi.

“Iya, % # @ $ % *😦 ” ketus anak Bolmong tersebut sedikit kesal.

Ada banyak kasus seperti itu, dimana orang Bolmong di perantauan sangat kesulitan menjelaskan tentang letak geografis daerahnya. Bolmong mungkin hanya dikenal di pulau sulawesi. Di luar sulawesi dengan menyebut Bolaang Mongondow merupakan bagian dari Sulawesi Utara mereka akan berkesimpulan bahwa kita dari Manado. Kondisi ini jauh berbeda dengan Minahasa dan Sangihe Talaud yang sudah dikenal luas.

Untuk mereka yang di perantauan yang telah mengakui identitasnya sebagai orang Bolmong serta mau menjelaskan kepada orang luar letak geografis Bolmong, patut diapresiasi. Setidaknya mereka telah berjasa meluangkan waktu untuk menjelaskan sedikit tentang daerahnya. Meskipun akhirnya kita masih disebut orang Manado, karena dasar kebebalan si penanya yang cetek pengetahuan geografi.

Tapi apreasiasi seperti ini tidak untuk orang Bolmong yang sengaja mengaku sebagai orang Manado karena faktor inferior apalagi gengsi. Terutama mereka yang malas menjelaskan panjang lebar asal-usulnya, sehingga memilih cara pintas mengaku berasal dari Manado. Tujuannya agar tidak ditanya macam-macam.

Mengenai dugaan sikap mahasiswa/i Akper Totabuan yang enggan mengaku berasal dari Bolaang Mongondow pada acara Dahsyat di RCTI (Minggu, 8 Maret 2014 ) bisa jadi untuk menghindari pertanyaan panjang dimana letak geografis Bolaang Mongondow. Karena memang Bolmong kurang dikenal presenter program tersebut.

Kunjungan selingan para mahasiswa Akper Totabuan ditengah agenda studi banding itu seharusnya menjadi moment terindah mereka. Namun sayang, agenda jalan-jalan di Ibukota itu tak disangkah menjadi topik hangat bullying  di media sosial BBM. Ada yang menilai sebagai mahasiswa seharusnya mereka punya tanggung jawab sosial untuk mensosialisasikan Bolmong di luar daerah. Apalagi ketika memiliki kesempatan untuk tampil di televisi nasional.

Memang kejadian tersebut tidak merta mengeneralisasi mahasiswa Akper Totabuan atau orang Bolmong semuanya seperti itu. Masih ada juga orang Bolmong yang dengan bangga menyatakan identitas genuine-nya di perantauan. Meski harus diakui banyak juga orang Bolmong yang malu mengakui identitasnya.

Saya menilai kejadian tersebut seharusnya menjadi pelajaran bersama. Ini cambuk untuk menyadarkan kita, bahwa kita memang butuh penegasan identitas kultural. Daerah kita memang butuh pemimpin sebagai icon yang mampu mengikis krisis gengsi agar mampu berdiri sama rata dengan dengan kepala tegak di depan daerah lain.

Daerah kita memang butuh icon, ditengah minimnya prestasi yang dibuat pemerintah kita untuk mengharumkan Bolmong. Informasi mengenai prestasi Bolmong di tingkat nasional memang sedang dinanti di media massa. Minimal memberi warna lain ditengah menjamurnya pemberitaan mengenai kasus korupsi, kriminalitas dan advetorial yang hanya bualan pencitraan.

Kejadian tersebut menjadi peringatan kepada kita bahwa ada penyakit tidak percaya diri yang selama ini kita idap tanpa disadari. Sikap inferioritas dan krisis identitas ini jika terus berlanjut akan berdampak pada menurunnya kualitas daya saing daerah kita dengan daerah lain.

Ini juga sebagai kritik terhadap kalangan akademisi dan budayawan di Bolmong terutama pemerintah daerah yang tampak tak punya kemampuan untuk menelurkan gagasan dan wacana penguatan identitas. Kreatifitas dan kemampuan untuk bisa berpartisipasi bahkan membuat iven skala nasional sebagai ajang promosi daerah tidak pernah dilakukan. Ketidakmampuan ini justru membuat kita terpinggirkan, teralienasi dari pembangunan.

Selain itu, kurangnya rasa bangga mengakui identitas siapa kita sama saja dengan kehilangan jati diri. Bagaimana bisa menuju provinsi sedang mengakui jati diri saja kita gengsi. Hanya dengan mau mengakui siapa diri kita, maka kita akan tahu kemana arah langkah membangun daerah.

Bagi saya, salah satu alasan yang tidak bisa dibantah pejuang provinsi mengapa Bolaang Mongondow Raya ingin membentuk provinsi adalah demi terwujudnya kemandirian identitas kultural agar setara dengan daerah lain. Karena memang secara historis Bolaang Mongondow merupakan bekas wilayah yang mandiri baik secara identitas dan kultur.

Cita-cita perjuangan menuju provinsi selain bertujuan untuk mandiri, memperpendek rentang kendali pemerintahan dan membuka kesempatan segenap sumber daya manusia Bolmong untuk berkarya di segala bidang. Lebih dari itu juga agar Lipu in Bolaang Mongondow lebih dikenal di Indonesia. Inilah dasar spirit pembangunan yang sepatutnya diperjuangkan bersama. Motobatu Molintak kon Bolaang Mongondow Raya. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s