Uncategorized

Biar Kecil Asal Ikhlas

“Berbuat baiklah meski sekecil apapun itu, karena kau tidak tahu amal apa yang akan mengantarkanmu ke surga,” ~Hasan Al-Basri~

Bagi pengguna BBM, petuah ini tentu tak asing lagi. Seringkali petuah ini menjadi picture profil. Acap kali hanya sebatas itu, tanpa sedikitpun disadari kalau petuah ini memiliki arti ketika dihayati.

Kalau direnungi petuah ini mengandung hikmah yang sangat menakjubkan. Makna tersirat yang terkandung di dalam petuah ini begitu dalam ketika diselami. Membacanya bagi saya seakan ditampar keras untuk menyadari bahwa masih banyak kekurangan dlm hidup ini yang harus saya perbaiki.

Jujur, beberapa diantara kita –termasuk saya– begitu yakin kalau surga itu bisa diraih cukup dengan banyak beramal (kuantitas) semata tanpa memikirkan kualitas. Tak jarang kita sering membandingkan diri dgn orang yg lain, serta merasa kita yang paling taat dan orang lain sesat. Kita penghuni surga dan mereka justru penghuni neraka. Bukankah itu yang kita rasakan ketika melihat pelacur, pemabuk, penjudi, perampok, pencopet, pembunuh,dan orang yang hidupnya dipenuhi maksiat di lingkungan sekitar kita.

Padahal dengan sikap itu tanpa sadar kita telah merampas hak Tuhan dengan mengklaim kitalah penghuni surga. Jika kita menyadari seekor Anjing, si binatang penuh najis justru bisa masuk surga dalam kisah Ashabul Kahfi, kisah ini pun terabadikan dlm Al-Quran. Di sisi lain dalam sebuah riwayat, pelacur yang selama hidupnya bermaksiat ternyata dapat masuk surga karena mati kehausan hanya karena ikhlas memberi minumnya kepada seekor anjing di tengah padang pasir.

Bukankah sudah ditegaskan, ketika Tuhan memasukkan si pendosa ke surga itu bukan berarti Tuhan tidak adil, begitu juga ketika memasukkan si taat ke neraka itu bukan kezaliman. Karena surga dan neraka sepenuhnya urusan Tuhan Sang Khalik. Bukan kita mahkluknya.

Dari sini kita semakin sadar, banyak-sedikit dan besar-kecilnya amal kebaikan yg telah diperbuat, kita tidak pernah mengetahui mana yg paling di ridhoi Tuhan dan mengantarkan kita ke surga. Kita disuruh banyak beramal justru untuk memperbesar peluang amal yg paling di ridhoi Tuhan. Bukannya dengan banyak amal justru membuat diri sombong dan merasa telah menjadi penghuni surga. Sehingganya tidak mustahil orang yang kelihatan semasa hidupnya banyak beramal sholeh hingga dipanggil ustadz dan kyai, justru masuk neraka karena bisa jadi dalam amalnya terselip sombong (ujub) dan riya. Begitu juga tdk mustahil jika si pendosa justru masuk surga karena barangkali selama hidupnya ia pernah berbuat kebaikan kecil yang iklas karena Allah.

Demikian sepenggal tafakkur dari seorang santri dari pesantren kehidupan di perantauan. Semoga amal kita di bulan Ramadhan ini sekecil apapun itu mendapat ridho dari Allah SWT. Amin Allahumma Amin..

Dari himpitan penat dan bising ibukota. Santri perantauan mengucapkan selamat berpuasa.

‪#‎Tafakkur_Ramadhan‬

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s