Renungan

Malu, Iman dan Kemerdekaan

“Iman memiliki lebih dari 70 dan 60 cabang. Paling tinggi adalah perkataan “La ilah illallah” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman,” (Mutafaq Alaih)

Jumat, 9 Ramadhan 1436 H (26 Juni 2015 M), bagi penggemar catatan sejarah pasti tahu kalau di hari yang sama, 72 tahun yang lalu (kalender hijriah) kita merayakan kemerdekaan. Tepatnya, Jumat 9 Ramadhan 1364 H (17 Agustus 1945), dalam kalender masehi tahun ini usia kemerdekaan baru 70 tahun.

Menyadari hal itu, saya menyempatkan diri untuk melaksanak sholat isya dan taraweh di Masjid Istiqlal. Konon, salah satu masjid terbesar se Asia Tenggara ini dibangun sebagai wujud syukur atas kemerdekaan Indonesia.

Edisi tafakkur ramadhan kali ini, saya tidak akan membahas perihal kemerdekaan. Saya justru tertarik dengan hal lain yang sering dilupakan dalam memaksimalkan kemerdekaan itu, yakni perihal malu dan iman. Catatan ini merupakan review dari ceramah mantan Menpora era SBY, Adhyaksa Dault. Ceramah pria kelahiran Donggala Sulawesi Tengah ini sangat memikat hati saya. Temanya cukup menarik “Malu Hilang, Iman Melayang”. Beberapa bagian yang saya mampu tangkap saya tuangkan sembari menambahkan sumber lain yg telah disesuaikan dgn pemahaman saya.

***

Para Ulama berpendapat, pada dasarnya malu bertujuan untuk menghindarkan diri dari keburukan. Mungkin inilah yang dimaksud Nabi dalam sabdanya: “malu itu kebaikan seluruhnya”. Dalam riwayat lain Nabi bersada: “Jika kau tidak memiliki malu maka berbuatlah sesukamu.” Selintas perkataan Nabi ini seakan menegaskan hanya org yg tak memiliki rasa malu yg mau berbuat keburukan seenaknya, tanpa bisa mengontrol diri.

Seperti halnya “malu” yang bertujuan mengontrol diri, puasa juga demikian yang dalam bahasa Al-Quran berasal dari kata “shiyam” berarti menahan diri. Tujuannya agar melatih manusia mengontrol diri dari naluri hemani (ganas, keras, makan, minum dan seksual). Untuk itu puasa memang berat dilakukan, makanya yang dipanggil Allah dalam Al-Quran hanya orang-orang yang beriman: “Hai org-org yg beriman di wajibkan atasmu berpuasa sebagaiman diwajibkan atas org sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. 2:183).

Lantas bagaimana dgn org yg tdk memilik malu, apa terpanggil juga?. Jika kita merujuk pada sabda Nabi: “Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya”. Dgn begitu jelas sudah bhwa orang yang tak memiliki rasa malu, sama halnya dengan kekurangan iman. Lihatlah orang muslim yang merokok atau makan di pinggir jalan umum di siang hari bulan puasa, mereka berani melakukannya karena memang tak terpanggil karena kurangnya iman. Kalau malu adalah kebaikan seluruhnya, maka orang yang berbuat keburukan sama artinya dengan kehilangan malu di dirinya.

Malu itu sendiri dari kata “hayaa” artinya hidup. Ini berhubungan dengan hidup matinya hati seseorang. Semakin hidup hati seseorang maka semakin berkembang malu dan imannya, begitu juga sebaliknya. Bukankah dlm Al-Quran ciri-ciri org beriman adlh ketika dibacakan ayat Al-Quran bergetar hatinya.

Dalam sebuah riwayat Nabi bersabda:” Setiap agama ada akhlaknya, dan akhlak islam adalah malu”. Kenyataannya meski mayoritas muslim, bangsa ini seakan kehilangan budaya malu. Sekarang orang nyaris tidak merasa malu, tidak segan-segan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Orang tidak menghargai sesama, ormas atas nama agama melakukan swiping dengan kekerasan. Tidak lagi meghargai hukum, koruptor tetap merajalelah meski banyak yang telah di penjara. Bahkan banyak generasi mudah tak menghargai lagi sopan santun.

***

Budaya malu sejatinya telah melekat pda masyarakat kita sejak dahulu kala. Minangkabau misalnya dikenal “raso jo pareso” artinya rasa malu orang minangkabau harus lebih tinggi. Tanpa rasa malu orang minang kehilangan keminangannya. Masyarakat Bugis juga dikenal “siri na pacce”, siri adalah rasa malu tersirat dalam dimensi hak dan martabat. Sehingganya atas nama siri org Bugis rela bertarung nyawa.

Di Bolaang Mongondow kita justru diperkenalkan dgn petuah “oya’ musti pakeon” artinya malu harus dipakai dalam segala apapun itu. Bagi orang Bolaang Mongondow malu seperti pakaian yang tanpanya orang Mongondow kehilangan harga diri. Karena seseorang yang tidak memiliki rasa malu itu seperti pohon tidak memiliki kulit. Dalam artian, orang tanpa rasa malu seperti orang telanjang. Jika pakaian adalah simbol peradaban, maka orang yang mengenakan pakaian minim (cadeko, span-span, yucansi, 1 tali) justru identik dengan masyarakat primitif dan pedalaman.

Meski begtu ada juga rasa malu negatif, karena ada juga malu karena ketidakmampuan diri, malu karena gengsi dan malu untuk menyombongkan diri. Di Bolmong hal seperti sering dijumpai, misalnya malu tidak bikin kukis dan beli baju hari raya, malu warna cat rumah tidak diganti, tapi disatu sisi bekerja malah malu dan gengsi. Seakan budaya gengsi “biar kalah nasi asal ndak kalah aksi” telah menjdi jati diri.

Pemerintah jga tidak jauh berbeda, sangat sulit dirasa adanya sikap malu. Yang ada tidak malu belum mampu mandiri jadi provinsi, tidak malu tanpa memiliki fasilitas pendidikan dan perguruan tinggi memadai, tidak malu banyak konflik namun miskin prestasi dan tdk malu putra daerah yg studi di luar terlantar tanpa diayomi. Maka tak heran pula anak daerah justru malu membanggakan daerah asalnya.

Padahal kemajuan dan kesuksesan sebuah daerah amat ditentukan seberapa kuat kuat budya malu mepengaruhi perilaku masyarakat dan pemimpinnya. Semoga kita semakin membudayakan rasa malu ini. Agar kedepan iman kita bertambah dan mendpatkan kemajuan.

Demikian sepenggal tafakkur ramadhan  edisi hari ini. Semoga ini bukan seperti teriakan di padang pasir, seruan demi seruan hilang begitu saja ditebar angin. Semoga bermanfaat.

Dari pusat pekat dan bisingnya ibukota, santri perantauan dari pesantren kehidupan, mengucapkan selamat berpuasa.

Sabtu, 10 Ramadhan 1436 H..

‪#‎Tafakkur_Ramadhan‬

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s